Lompat ke isi utama
Wildan (laki-laki kedua dari kiri) bersama satu kelompok KKN

Wildan Menyuarakan Inklusifitas Lewat Agenda KKN

Solider.id, Yogyakarta – KKN atau Kuliah Kerja Nyata menjadi satu hal wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa. Dengan memadu prinsip Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, KKN mewadahi para mahasiswa untuk datang ke masyarakat dan mengabdikan serta mengolaborasikan berbagai macam potensi diri dengan pendekatan lintas keilmuan pada waktu dan daerah tertentu.

Wildan Aulia Rizky Ramadhan, mahasiswa dengan low vision UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bercerita tentang pengalaman KKN yang ia laksanakan dan bagaimana ia menggunakan medium KKN itu untuk mengampanyekan inklusi di desa-desa.

Selama periode 2 Juli sampai 30 Agustus, ia dan kelompoknya, melaksanakan KKN di dusun Ngepo, desa Planjan, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Kabupaten ini memang menjadi langganan tempat KKN beberapa universitas di Yogyakarta karena karakteristik wilayah dengan tingkat kemiskinan lumayan tinggi dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Masyarakat di Ngepo sini memang baru pertama kali kedatangan anggota KKN yang difabel, meski difabel bagi mereka bukan merupakan hal yang baru, karena ada beberapa warga desa yang difabel, tapi tidak ada yang netra, hanya ada daksa, Tuli dan mental intelektual,” cerita Wildan.

Ia mengaku punya misi sendiri dalam KKN ini. Sebagai seorang difabel yang juga berasal dari desa, Wildan merasa bahwa masyarakat di desa masih menganggap difabel identik dengan pendidikan yang rendah dan kesempatan kerja yang minim. Maka dari itu, ia menggunakan kesempatan KKN ini untuk menunjukkan potensi difabel untuk bersekolah tinggi ketika akses dan kesempatan diberikan.

“Saya harus mengakui ketika datang ke desa tempat KKN, masih banyak warga yang kaget melihat difabel netra bisa kuliah. Maklum, difabel yang ada di Ngepo memang tidak ada yang netra dan rata-rata putus sekolah. Jadi, saya datang, mereka jadi penasaran,” ujar Wildan.

Ia mengaku banyak warga yang antusias bertanya tentang bagaimana difabel netra bisa kuliah, menyesuaikan dengan pembelajaran di kampus atau hal-hal semacam bagaimana caranya membaca dan mengerjakan tugas kuliah.

Dengan bersemangat, Wildan menjelaskan pengalamannya selama ini di perkuliahan. Ia menjelaskan sampai hal-hal detil agar bisa mengubah persepsi  masyarakat desa tentang difabel. Tak lupa ia juga menunjukkan sebenarnya difabel punya potensi yang sama dengan nondifabel jika diberikan akses dan kesempatan yang sama.

“Meskipun begitu, para perangkat desa tempat saya KKN sudah cukup terbuka pikirannya. Mereka tidak kaget lagi ketika ada anak KKN yang difabel sedang bertugas di desa mereka. Rata-rata dari mereka sudah sering melihat difabel bisa bersekolah tinggi dari TV,” ungkap mahasiswa Strata satu jurusan Pengambangan Masyarakat Islam ini.    

Kontur geografis desa tempat Wildan melaksanakan KKN juga tidak terlalu membatasinya untuk bergerak. Jika masih terang, kadang ia pergi ke beberapa tempat di desa tanpa menggunakan tongkat. Sebagai orang dengan low vision, karakter desa dengan banyak batuan cadas ini malah membantunya karena batuan itu akan memantulkan cahaya matahari dan membuat mobilitasnya semakin mudah. Malam hari, ia baru akan menggunakan tongkat.

“Cuman kalau malam itu, harus ekstra hati-hati, karena tekstur jalan di sini lebih tinggi dari permukaan tanah untuk rumah dan tidak ada pembatas. Kalau tidak hati-hati bisa terjerembab. Kadang, kalau sedang pakai tongkat, sering ada warga yang bertanya kenapa sendirian dan tidak ada yang menemani. Saat kayak begitu jadi kesempatan saya untuk menjelaskan tentang kemandirian difabel dengan piranti pendukung dan aksesibilitas medan,” cerita Wildan panjang lebar.

Wildan mengaku banyak menyisipkan pesan-pesan inklusifitas di program-program yang ia dan timnya jalankan. Sebagai mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam, ia bertanggung jawab menjadi koordinator untuk acara-acara keagamaan seperti pengajian dan Hari Raya Qurban. Warga setempat juga sering aktif mengajak Wildan menghadiri agenda dusun serta pengajian yang berada di luar program KKN.

“Seringnya saat mengisi pengajian atau berada di pengajian yang diselenggarakan dusun, saya jelaskan sekalian bahwa difabel itu punya hak untuk bisa bersosialisasi, berpendidikan tinggi dan meraih cita-cita seluas mungkin, asal pemerintah dan masyarakat mendukung,” ujar Wildan.

Wildan merasa kegiatan KKN ini sangat membantunya bisa mensosialisasikan inklusifitas difabel di desa, terutama desa yang masih belum melihat difabel dari sisi potensinya sehingga persepsi masyarakat tentang  difabel di desa bisa tercerahkan. [Yuhda]

 

The subscriber's email address.