Lompat ke isi utama
Matt King

Orang Dibalik Aksesibilitas Facebook

Solider.id, Yogyakarta – Salah satu kendala terbesar bagi difabel netra dalam mengakses internet adalah membaca foto. Meski, penggunaan caption dan alt text atau teks deskripsi sudah bisa mendukung aksesibilitas bagi difabel netra, namun Facebook membuatnya menjadi selangkah lebih indah dengan mengeluarkan apa yang disebut dengan automated alt-text atau teks deskripsi otomatis pada April 2016 lalu. Fitur ini bisa mengidentifikasi gambar dengan bantuan artificial intelligent (kecerdasan buatan) dan memberikan penjelasan sederhana aktifitas apa yang ada pada foto tersebut, seperti duduk, berjalan, berdiri serta berapa orang yang ada pada gambar tersebut, meskipun pengunggah gambar tidak menyertakan caption atau teks deskripsi.

Sosok di balik fitur aksesibilitas ini adalah seorang insinyur elektronik difabel netra bernama Matt King. Ia memimpin sebuat tim untuk memberikan solusi bagi pengguna Facebook untuk menciptakan deskripsi teks otomatis tersebut. Teknologi ini juga mengembangkan solusi untuk hal lain, yaitu untuk menyaring konten dan iklan yang tidak pantas secara otomatis.

Dikutip dari cnbc.com, King lahir dengan penyakit degenerasi mata yang bernama retinitis pigmentosa. King kecil bisa melihat ketika siang hari, namun kemampuan penglihatannya akan menghilang ketika malam hari. Setelah itu, ia hanya bisa membaca pada cahaya yang terang dan kemudian hanya bisa ketika tulisannya diperbesar.

Ia pertama kali bekerja untuk IBM (International Business Machines Corporation) sebagai seorang insinyur elektrik, pada tahun 1989, tahun ketika ia kehilangan seluruh penglihatannya. Setelah itu, ia mulai menjadi sukarelawan dalam projek aksesibilitas IBM yang bekerja untuk membantu difabel netra dalam “melihat” apa yang ada di layar mereka. Sampai pada tahun 1998, ia masuk ke dalam tim utama IBM. Ia akhirnya bergabung dengan Facebook dari IBM pada tahun 2015.

Fitur automated alt-text atau deskripsi teks otomatis yang ia gawangi awalnya hanya tersedia pada lima bahasa pada aplikasi iOS ketika pertama kali diluncurkan. Teknologi ini hanya mampu mendeskripsikan 100 konsep dasar seperti apakah objek di gambar berada di dalam atau di luar ruangan, benda apa yang ada di gambar, dan beberapa kata sifat dasar seperti tersenyum.

Sekarang, fitur ini sudah tersedia di 29 bahasa pada situs web Facebook, iOS dan Android. Fitur ini juga memiliki ratusan konsep deskripsi aktifitas seperti duduk, berdiri, berjalan, bermain alat music atau menari.

“Setiap orang dengan segala macam disabilitas akan menerima manfaat dari Facebook dengan adanya fitur ini,” ucap King seperti dikutip dari cnbc.com. “Mereka akan semakin bisa mengembangkan relasi dan semakin mengerti bahwa kedisabilitasan mereka tidak akan membatasi mereka.”

Ia dan timnya sekarang sedang mengembangkan cara navigasi dengan menggunakan audio. Cara seperti ini, menurutnya, akan sangat membantu pengguna Facebook, tidak hanya yang difabel netra.

Sebelumnya, sekitar tahun 2009, ketika ia pertama kali membuat akun Facebook, ia membutuhkan waktu berjam-jam untuk melakukan aktifitas pada Facebook yang mungkin hanya lima belas atau dua puluh menit dihabiskan oleh pengguna yang non difabel.

Memudahkan difabel netra

Syifa, seorang siswi MAN Maguwoharjo Sleman, menuturkan kemudahan fitur deskripsi teks otomatis dari Facebook ini.

“Saya pakai media sosial hanya Facebook dan WA. Sudah setahunan ini, kalau pakai Facebook, selalu ada deskripsi otomatis kalau pas scroll gambar. Misal, di beranda, pas saya scroll satu gambar, akan ada deskripsi suara ‘gambar A, dua orang sedang berdiri.’ Itu cukup membantu dalam memahami gambar yang tidak ada captionnya,” cerita Syifa.

Sepengalaman Syifa, fitur ini hanya berbunyi ketika membaca gambar yang tidak memiliki caption. Jika, pengguna mengunggah gambar dengan caption, maka yang akan disuarakan adalah caption tersebut.

Sama halnya dengan Syifa, Tris Munandar juga menceritakan pengalaman yang sama. “Sudah ada yang mendeskripsikan secara otomatis di FB. Sayang, hanya baru di FB saja. Belum saya dapati di media sosial lain seperti Instagram dan Twitter,” ujarnya saat dihubungi lewat pesan singkat.

Bagi Matt King, perancang fitur ini, aksesibilitas yang ia dan timnya kerjakan di Facebook menjadi sebuah langkah kecil awal untuk membuat sistem bisa bekerja membantu semua orang termasuk difabel.  Fitur ini juga sekalian memberi pesan bahwa siapa pun pengguna Facebook, dengan beragam kebutuhan apa pun, mereka memiliki nilai yang sama di mata semua orang, yang menjadi bagian penting dari komunitas masyarakat. [Yuhda]

The subscriber's email address.