Lompat ke isi utama
Mujiyana sedang memangku anak perempuannya

Mujiyana, Sukses dengan Usaha Rumah Makan

Solider.id, Gunungkidul- Jalanan sedang riuh ketika waktu menunjukkan pukul 06.00 wib. Rumah makan Padang bernama Langgeng Timur yang ada di daerah Sambi Pitu masih begitu lengang. Seorang pria jangkung dengan wajah sumringah tengah asyik merapikan tatanan lauk di etalase yang menyajikan kelezatan.

Pria itu terlihat cekatan menyusun rapi piring-piring, mengecek ulang dan memastikan tempat-tempat yang sudah dibersihkan. Lalu kembali sibuk dengan menyiapkan sambal khas Padang. Tak segan ia juga turun tangan menyapu sampah berserakan.

Dialah Mujiyana si pemilik rumah makan. Pria kelahiran Gunung Kidul, 27 Desember 1974 itu mengawali usaha membuka rumah makan Padang sejak masih bujang, tepatnya pada 1997 di daerah Giwangan dengan modal dari bekerja sama dengan seorang teman dan berbagi pendapatan.

Sampai 10 tahun berlalu masa kontrak, mereka memutuskan untuk pindah di daerah Parangtritis hingga sekarang. “Langgeng Barokah 2” adalah nama rumah makan yang digunakan, sementara “Langgeng Timur” menjadi rumah makan yang baru setahun lalu didirikan.

Saat jarum jam menunjuk pada pukul 10 siang, Mujiyana akan menyerahkan kepercayaan pada salah satu karyawan untuk kemudian segera berkemas pulang. Ia terbiasa meluangkan waktu untuk keluarganya di antara kesibukan, mengelola dua rumah makan Padang dan organisasi yang ditekuni. Di rumahnya, Kedungpoh Lor Rt 01 Rw 03, Kedungpoh, Nglipar, istri Mujiyana, Puji Astuti dan tiga putranya telah menanti.

Di teras rumahnya yang sejuk dengan rindang pepohonan, kendil-kendil (periuk) tanah berisi sarang madu ternakan bergantung seperti hiasan. Ia juga beternak madu sebagai salah satu kesibukan sebagai anggota kelompok budidaya lebah madu “Sari Alami” Kedungpoh.

Ia baru terjun di dunia difabel melalui Pusat Pemberdayaan Disabilitas “Mitra Sejahtera.” Ia mengaku masih butuh berguru pada siapapun yang mau berbagi ilmu. Banyaknya difabel di sekitar lingkungan serta kurangnya tenaga paralegal di Gunungkidul membuatnya memberanikan diri menjadi tenaga pendamping bagi difabel.

“Pertama tertarik jadi paralegal karena ikut Temu Inklusi di Kulonprogo. Waktu loka karya saya ikut materi yang membahas tentang pendampingan. Setelah itu saya mencoba ikut setelah dari Sigab membuka pendaftaran. Itulah awal mula saya terjun di dunia difabilitas,” tutur Mujiyana (26/08).

Berangkat dari Mitra Sejahtera, ia dipercaya memegang dan mengelola unit usaha Koperasi Simpan Pinjam “Sarana Mitra Sejahtera”. Terbentuknya Kelompok Pemberdayaan Difabel “Mitra Mandiri” di desanya, ia kembali mengemban amanah sebagai ketua dengan aneka macam unit usaha. Dari usaha perkayuan, anyaman bambu dan rotan, hingga aneka olahan makanan.

“Saya sama sekali tidak tahu difabel itu apa. Setelah tahu kriteria difabel itu bagaimana, saya baru menyadari bahwa saya juga bagian dari difabel. Sebelum bergabung dalam organisasi difabel saya juga tidak pernah merasa menjadi difabel. Bahkan sampai sekarangpun saya hanya menyebut diri saya belum tuntas menjalani proses pemulihan,” kata Mujiyana melanjutkan.

Tak pernah ingin diperintah melakukan pekerjaan, membuat Mujiyana bercita-cita menjadi pengusaha. Setelah lulus SMEA dan mencoba peruntungan dengan membuka usaha rumah makan, kesehariannya juga melakoni kerja sampingan. Ia menawarkan lampu hiasan dan alat-alat listrik. Ia juga menyediakan segala bahan, bumbu hingga kebutuhan dapur lainnya sebagai barang dagangan.

Tentu memerlukan tenaga yang luar biasa karena setiap hari ia harus keliling Yogya. Dan lalu mengalir sebuah cerita berkesan yang Mujiyana dapatkan saat menjaja dagangan sebelum Guillaine-Barre syndrome (GBS) menyerang hingga menyebabkan kelumpuhan.

“Saya sempat lewat BRTPD Pundong. Lalu dalam hati saya berkata oh, ini to rumah sakitnya orang-orang cacat,” kenang Mujiyana. Ia tak pernah menyadari, bahkan saat ia telah menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki hambatan.

Banyaknya waktu yang ada saat rehat siang, Mujiyana berkenan berbagi pengalaman hidupnya yang sarat cobaan. Wajahnya yang cerah tak sedikitpun menyisakan bahwa ia pernah mengalami keloumpuhan.

Mulanya ia mengeluh masuk angin saat diperiksa oleh seorang dokter, Namun dokter menyatakan, ia terkena virus langka. Saat itu, ia ia belum merasakan sakit dengan masih masih bisa berkeliling menjajakan barang dagangan. Di saat itu pula kondisinya terus menurun setiap hari.

Sampai kemudian dokter memberikan peringatan yang menyangkut masa depan kehidupannya. Bila dalam dua tahun tidak ada perkembangan, maka dokter memastikan Mujiyana akan mengalami kelumpuhan.

Mujiyana berjuang keras untuk bisa terus bekerja. Anak menjadi motivasinya, ia bertahan melawan sakit yang mendera badan. Saat itu, ia ingin melihat anaknya lahir di rumah sakit saat menunggu Istri hendak melahirkan. Namun, Guillain-Barre syndrome (GBS) benar-benar memaksanya untuk menyerah pada keadaan.

Di rumah sakit pula Mujiyana merasakan nyeri yang tak tertahan. Di antara sakit yang terus menyerang, meski tak lagi mampu berjalan, semua ia lakukan hanya demi menunggu buah hati pertamanya dilahirkan. Sindrom yang benar-benar menyerangnya, melumpuhkan dua kaki dan tangannya, hingga merenggut seluruh kemampuan gerak tubuhnya. Selama satu tahun, ia hanya terbaring mengharap bantuan istrinya

“Saat sudah benar-benar lumpuh dan tidak bisa apa-apa, saya mengandalkan otak untuk berpikir, bekerja sambil bersila. Bersila artinya hanya bisa pasrah  pada ketentuan Yang Kuasa. Allah yang mengirim penyakit, tentu Allah pula yang mengirim obatnya. Selama setahun itu pula istri yang menjalankan perekonomian keluarga. Ide-ide dari saya, istri yang berjualan keliling menitipkan dagangan,” kisah Mujiyana.

Berbagai terapi ia lakukan demi upaya penyembuhan, namun tak satupun dokter yang memberi kepastian. Rutin menjalani pengobatan, baik secara medis maupun nonmedis telah dilakukan sebagai upaya penyembuhan. Hanya keluarga yang ia jadikan motivasi untuk terus bertahan meski mengalami kelumpuhan, dan imbasnya manajemen rumah makan yang ia kelola sempat mengalami kemunduran.

Aktif berorganisasi sejak remaja, sosok Mujiyana memang terkenal keras kepala. Karang taruna dan remaja masjid ia dirikan, lalu  menyusul dibentuk taman baca Qur’an yang sudah diresmikan adalah “Darussalam Islamic Centre Kedungpoh”.

“TPQ sebagai wujud keprihatinan saat generasi seusia saya banyak yang tidak bisa mengaji,” lanjutnya. TPQ di tempat tinggalnya telah menghasilkan beberapa angkatan khatam Qur’an.

Pada 2004 setelah genap dua tahun mengalami kelumpuhan, Mujiyana melakukan terapi di Banten hingga mendapat setitik harapan. Ia dinyatakan sembuh dan bisa berjalan, meski luka fisiknya meninggalkan bekas hingga sekarang. “Saya tetap tidak tahu kalau kondisi seperti saya dinamakan difabel.” Tawa Mujiyana lepas tanpa beban. Ringan.

Saat ditunjuk menjadi ketua harian di Forum Komunikasi Difabel Gunung Kidul (FKDG), ia ingin menyatukan FKDG agar tidak terpecah. Ia hanya ingin kembali membawa FKDG menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dengan difabel Gunung Kidul, seperti awal mula rencana pembentukan.

“Tujuan saya berorganisasi tidak mencari jabatan atau uang. Uang bisa saya sapatkan dari pekerjaan. Bagi saya inilah waktunya bagi saya untuk beramal,” pungkasnya.

Kokoh dengan prinsip hidup yang ia terapkan sejak muda, Mujiyana memiliki pedoman bahwa “Gawean ojo digoleki ananging ditandangi.” Sebuah pelajaran agar tidak pernah mencari pekerjaan, tapi melakukan apa saja yang bisa dikerjakan. [Yanti]

The subscriber's email address.