Lompat ke isi utama
Halaman depan yayasan sekolah kehidupan Semarang

Yayasan Sekolah Kehidupan, Rumah bagi Difabel

Solider.id – Semarang- Yayasan Sekolah Kehidupan Semarang menjadi fakta adanya penolakan di lingkungan sekolah umum terhadap difabel.

Rumah bagi difabel yang tersisihkan ini diberi nama Yayasan Sekolah Kehidupan atau The School of Life Foundation. Seperti kisah penolakan yang dialami Priskilla Smith Jully, seorang difabel Netra yang dulu dibuang keluarganya, menggerakkan hatinya untuk membangun tempat penampungan bagi difabel yang terpinggirkan. Diawali dengan menampung orang-orang berkebutuhan khusus yang terbuang di kosnya, kini ia berhasil mewujudkan mimpinya mendirikan sebuah Yayasan untuk orang-orang yang senasib dengannya.

Ketika Solider berkunjung ke yayasan tersebut, Elisabeth salah satu staf dari Yayasan Sekolah Kehidupan mengisahkan perjalanan berdirinya sekolah nonformal ini. Tempat ini dirintis sejak 2005 ketika Priskilla belum berkeluarga. Waktu itu, yayasan tidak langsung berdiri sebagai Yayasan karena memerlukan proses. Hingga pada akhir 2012, secara resmi menjadi Yayasan dan beralamat di Jalan Cakrawala Utara III Semarang barat

Sekolah ini mempunyai 15 staf yang bertugas membantu mendidik dan merawat disapel yang tinggal di Yayasan. Di Sekolah Kehidupan, para peserta rehabilitasi disebut disaple yang merupakan singkatan dari “disabled people”. Sebagian besar dari para pengabdi tersebut merupakan sahabat-sahabat dari Priskilla Smith yang cukup mengenal kepribadian sosok si pendiri Yayasan.

Setiap harinya, para staf tinggal Bersama disaple di Yayasan yang terletak di Kawasan perumahan warga tersebut. Mereka merawat dan mengasuh sekitar 60 disaple dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Bahkan, mereka juga pernah mengasuh bayi yang ditinggalkan orangtuanya di Yayasan tersebut.

Disaple yang ditampung di sekolah ini berasal dari beragam kondisi. Ada yang dititipkan dari pihak keluarga, tetangga, ada yang datang sendiri, titipan dari dinas sosial dan ada pula yang ditemukan di jalan. Kondisi kedifabilitasan para disaple pun berbeda-beda. Ada difabel netra, daksa, ganda dan yang paling banyak adalah difabel mental atau gangguan jiwa.

“Kami menampung difabel dari basis agama serta latar belakang apapun. Namun, di sini mereka dididik secara Kristen. Sebelum menyerahkan disaple, kami menjelaskan hal ini kepada pihak yang menitipkan terlebih dahulu. Apakah setuju atau tidak,” tutur Elisabeth yang telah mengabdi selama 10 tahun ini.

Meskipun pihak pemerintah ada yang menitipkan difabel di tempat tersebut, sangat disayangkan perhatian pihak pemerintah akan keberadaan Yayasan ini masih sangat kurang. Walau demikian, para staf tidak mengharapkan lebih. Bagi mereka, yang terpenting adalah melakukan yang terbaik untuk para disaple. Bahkan, disaple yang mengalami depresi pun mereka tangani sendiri semampu mereka.

Sejauh ini, tidak ada tenaga medis yang rutin datang ke Yayasan mereka untuk memberikan layanan kesehatan bagi difabel yang tinggal di sana. “Meski kami tidak berasal dari professional tertentu, karena kami sering Bersama mereka, kami dapat mengerti apa yang mereka maksud,” tambah Elis-sapaan akrab Elisabeth.

Pembiayaan seluruh kegiatan sekolah diperoleh Yayasan dari usaha mandiri dan bantuan beberapa donator tidak tetap. Disebut donator tidak tetap karena para donator tersebut tidak berkomitmen untuk menyumbang setiap bulannya. Oleh karena itu, Priskilla harus mengumpulkan uang dari berbagai sumber agar tetap bisa menghidupi keluarga besarnya. Upaya yang ia lakukan antara lain berjualan pakaian bekas pantas pakai dari donator, menjual barang cuci-gudang dari pabrik, serta menyanyi di acara-acara pernikahan.

Kegiatan rutin para disaple di School of life ini dimulai pukul 04.30 Wib pagi untuk doa pembukaan. Kemudian mereka bersiap-siap mengikuti kegiatan berikutnya dan sarapan. Bagi yang mendapat giliran piket harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu untuk bersih-bersih.

Sedangkan bagi yang sudah selesai dilanjutkan dengan membaca Al-kitab sampai jam 11.00 Wib. Kegiatan belajar-mengajar berlangsung dari pukul 11.00 Wib hingga pukul 13.00 Wib. Selanjutnya, doa menutup hari dilaksanakan mulai pukul 16.30 Wib. Khusus untuk hari Sabtu, dijadwalkan untuk kegiatan bersih lingkungan. Lalu, hari Minggunya setelah ibadah, para disaple bisa menikmati hari libur.

Difabel yang memiliki kemampuan  belajar rendah, mengikuti kegiatan belajar dengan staf di dalam yayasan. Mereka diajarkan tentang pengenalan karakter diri dan kemandirian. Bagi disaple yang sama sekali tidak bisa diberikan materi pembelajaran, lebih diarahkan untuk beribadah. Sedangkan bagi delapan anak yang memiliki daya tangkap bagus, Priska membiayai mereka untuk mengikuti sekolah di sekolah formal.

Seperti nama yang disematkan bagi Yayasan ini, Sekolah Kehidupan merupakan perwujudan pembelajaran hidup yang nyata. Ketika orang-orang terdekat para disaple yang seharusnya memberikan kehangatan. Namun merekalah yang justru menelantarkan.

Yayasan Sekolah Kehidupan, sebuah rumah yang didirikan oleh difabel justru mampu menyelamatkan begitu banyak difabel yang terbuang dan terabaikan. School of Life ini adalah bukti nyata difabel tidak harus selalu menanti uluran tangan dari orang lain. Jika bisa memberi manfaat bagi sesama, mengapa itu tidak dilakukan? [Agus Sri]

The subscriber's email address.