Lompat ke isi utama
 Logo Gusdurian

Konteks Perjumpaan dengan Difabel sebagai Titik Gerakan Gusdurian

Solider.id, Yogyakarta – Jay Ahmad, salah seorang penggerak Gusdurian Yogyakarta, saat menjadi narasumber di acara Diskusi Difabel dan Budaya pada ulang tahun SAPDA (31/8) mengakui bahwa isu toleransi yang banyak digulirkan oleh kawan-kawan Gusdurian masih minim dalam merangkul isu difabel sebagai salah satu konten keberagaman.

“Sepengetahuan saya, Gusdurian, terutama yang di Jogja, belum punya banyak kesadaran utuh soal difabel. Baru sedikit saja. Padahal kami bergumul dengan isu toleransi selama ini,” ucap Jay Ahmad.

Baginya, isu toleransi akan keberagaman yang selama ini banyak beredar di lingkup Gusdurian masih sebatas pada konteks agama dan sosial atau kesukuan. Toleransi yang digagas masih berputar pada itu-itu saja. Dalam lingkup nasional, ia melanjutkan, berbeda agama masih menjadi persoalan jika berbicara toleransi.

“Itu tandanya difabel masih belum masuk dalam elemen keberagaman dalam titik paling sederhana. Difabel masih berada di luar lingkaran. Ini juga yang menurut saya menjadi pekerjaan rumah bagi saya dan teman-teman Gusdurian dalam konteks membangun toleransi,” terangnya.

Ia masih melihat banyak penjaga toleransi yang masih berbicara pada konteks perbedaan agama dan suku. Konteks perbedaan kemampuan yang menjadi motor gerakan difabel (different ability) masih belum teraktualisasi bagi sebagian besar Gusdurian. Ketika ditanya pun, menurutnya, hasilnya akan seperti ini: “kamu difabel netra, agamamu apa?” Begitu ia menjelaskan tentang ikhwal toleransi yang banyak digulirkan Gusdurian.

Sewaktu baru datang ke acara diskusi di ulang tahun SAPDA, ia mengaku berdiskusi dengan teman Gusdurian yang menemaninya tentang seberapa banyak teman Gusdurian yang membuat diskusi dan menghadirkan juru bahasa isyarat bagu Tuli. Padahal selama ini, acara yang diadakan oleh Gusdurian sifatnya terbuka untuk publik.

“Ini adalah kritik untuk Gusdurian, untuk diri saya sendiri. Yang membuat lebih malu adalah tokoh teladan kita adalah difabel. Tapi, isu difabel soal toleransi masih belum masuk dalam level keberagaman. Ini menjadi lecutan bagi Gusdurian untuk berangkat dari titik sadar tersebut,” Ujar Jay Ahmad dengan bersemangat.

Titik sadar Jay Ahmad tentang minimnya isu difabel dalam Gusdurian selanjutnya adalah kunjungan salah seorang sahabatnya saat datang mengisi acara di Yogyakarta. Ia adalah Slamet Thohari yang merupakan Gusdurian Jawa Timur. Slamet Thohari atau yang akrab disapa Amex ini adalah seorang difabel dan berprofesi sebagai dosen di Universitas Brawijaya Malang. Ia adalah salah seorang yang mendorong adanya Pusat Studi Layanan Disabilitas di Universitas Brawijaya yang mengakomodi difabel untuk bisa kuliah di universitas tersebut.

“Saat Mas Amex datang ke Jogja untuk mengisi acara, ia meminta seluruh peserta untuk menggambar motor. Semua peserta saat itu termasuk saya menggambar motor dengan dua roda. Ia lalu menanyakan mengapa tidak ada peserta yang menggambar motor roda tiga, padahal itu adalah modifikasi motor untuk difabel, termasuk yang dipakai Mas Amex juga. Dari situ saya semakin sadar bahwa dalam alam pikir kita, banyak orang yang ngakunya aktifis, seperti saya ini, namun belum memiliki perspektif difabel dalam alam bawah sadar,” ia bercerita.

Lalu bagaimana membangun kesadaran soal toleransi akan keberagaman dari hal-hal yang sangat sederhana? Baginya, toleransi dan keberagaman tidak bisa selesai pada diskusi di seminar maupun obrolan warung kopi. Ia masih berkeyakinan bahwa gerakan toleransi yang memuat isu difabel bisa masuk salah satunya lewat pintu perjumpaan.

“Tahun 2011, pasca erupsi Merapi, kami membuat Kemah Anak Bangsa untuk anak SMA. Kami undang siswa SMA yang berasal dari lintas agama. Kami kemas acaranya dengan menghadirkan pemateri tentang mitigasi bencana sekaligus menyediakan tempat ibadah masing-masing agama dalam satu tempat yang berdekatan, sehingga siswa SMA bisa melihat cara beribadah dan doa rekan mereka dari agama lain,” cerita Jay.

Yang menarik, menurut Jay, dari kegiatan tersebut adalah sedikit sekali peserta yang memahami materi soal kebencanaan. Namun, di waktu yang sama, tumbuh kesadaran toleransi antar agama setelah itu.

“Ada satu anak yang memberikan testimoni di akhir acara bahwa awalnya cita-citanya adalah menjadi mujahid dan salah satu sasaran tempat yang ingin ia serang adalah Gereja. Setelah kegiatan ini, ia tersadar akan niatnya tersebut dan mempertanyakan cita-citanya yang ingin menghancurkan tempat ibadah temannya sendiri. Hal itu ia dapat setelah ia berjumpa dengan teman dari berbagai latar belakang agama di acara ini,” ujarnya.

 Bagi Jay Ahmad, perjumpaan langsung seperti itu menjadi sangat penting, sama seperti halnya ketika ingin merangkul isu difabel dalam konten toleransi dan keberagaman. Ia kemudian menghimbau agar setiap kegiatan yang diadakan oleh Gusdurian dan NGO apa pun harus membuka ruang perjumpaan dengan difabel dengan menyediakan akomodasi yang layak serta aksesibilitas bagi difabel, seperti juru bahasa isyarat atau fasilitas fisik lainnya.

“Dengan itu, akan ada relasi yang terbangun, akan ada perjumpaan langsung yang terbentuk. Dari situlah titik gerakan dimulai,” tutup Jay. [Yuhda]

The subscriber's email address.