Lompat ke isi utama
lokakarya RINDI

Merefleksi Capaian Keberhasilan RINDI melalui Lokakarya

Description: C:\Users\User\Downloads\LOKAKARYA RINDI.jpgSolider.id.Sleman. Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Evaluasi Program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) Tahap Kedua.

Merefleksi capaian dan dampak pelaksanaan program, mulai dari perencanaan sampai dengan implementasi program secara keseluruhan, menjadi tujuan lokakarya.

Kegiatan dilaksanakan di Ruang Sindoro, Hotel Prima SR, Jalan Magelang KM 11 Yogyakarta, Kamis (30/8/2018). Bertepatan dengan akan berakhirnya Program RINDI 2, pada 15 September 2018. Lokakarya dikemas sebagai moment evaluasi akhir program.

Menghadirkan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Sleman, perwakilan pemerintah Kecamatan Berbah dan Mlati, perwakilan pemerintah desa, Kelompok Difabel Desa (KDD) Sendangtirto dan Sendangadi, perwakilan Kader Desa serta perwakilan Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TPKD).

Keberlanjutan praktik baik

Memetakan hambatan-hambatan, solusi, implementasi program dalam kehidupan bersosial masyarakat, menyusun program lanjutan, serta merumuskan model diseminasi praktik-praktik baik yang telah dicapai, menjadi tujuan lain dari lokakarya.

Staf Program RINDI, Kuni Fathonah berharap apa yang telah dicapai selama tiga tahun melalui Program RINDI ada keberlanjutannya. Dia sangat menyayangkan jika capaian atau keberhasilan berhenti dengan berakhirnya program.

“Capaian-capaian dari program RINDI sejak tahap pertama, hendaknya dapat dilanjutkan.  Dengan demikian tidak ada yang berhenti, ada atau tidak adanya program RINDI,” ungkapnya pada Solider, Kamis (30/8).

Serangkaian pengalaman berkegiatan telah dilakukan oleh delapan desa, lanjutnya.  Kuni juga menandaskan bahwa banyak pembelajaran telah dipetik selama pengimplementasian RINDI tahap pertama dan kedua. Demikian pula perubahan-perubahan telah diraih oleh desa-desa selama berproses bersama RINDI.

“Untuk itu semua diperlukan refleksi, terkait berbagai pembelajaran yang telah dipetik tersebut,” tegas Kuni, perempuan pengguna krug untuk menopang tubuhnya.

Beberapa capaian tersebut di antaranya, adanya aksesibilitas sarana dan prasarana, pelatihan yang aksesibel, bagaimana difabel membaur dengan elemen masyarakat lainnya, keterlibatan difabel mendorong pembangunan desa inklusif, mendorong lahirnya kebijakan inklusif, dan lain sebagainya.

“Lokakarya, betul-betul dapat menjadi  perenungan yang mendalam atas apa yang telah dicapai, selanjutnya dapat merumuskan langkah kerja selanjutnya,” pungkas Kuni.  [harta nining wijaya]

 

The subscriber's email address.