Lompat ke isi utama
lustrasi tampilan bagi Low Vision

Mengenal Aksesibilitas Teknologi bagi Low Vision

Solider.id, Banjarnegara – Indah Nuraini sedang sibuk mengamati layar laptopnya dari jarak yang cukup dekat. Ia terlihat sedang membaca sebuah artikel di situs web dengan ukuran font yang lebih besar dari biasanya. Gadis yang bersekolah di salah satu SMA swasta di Banjarnegara ini adalah orang dengan low vision. Sehari-hari ia mengakses informasi dari laptop dan ponsel pintarnya dengan mendekatkan salah satu sudut matanya ke layar.

“Tulisannya masih terlihat, tapi mata saya harus dekat dengan layar. Begitu pun ketika membaca tulisan di kertas,” ujar gadis berusia 16 tahun ini.

Ia menjadi low vision sejak SD. Kemampuan penglihatannya semakin menurun setiap tahun. Ia mengaku pernah memakai kacamata untuk membantunya membaca. Namun, beberapa tahun terakhir, kacamata tersebut urung ia gunakan kembali lantaran kemampuan penglihatannya yang semakin menurun.

Low Vision sebagai ragam dari difabel  netra memiliki kebutuhannya sendiri saat mengakses teknologi di era serba daring saat ini. Dengan karakteristik yang berbeda dengan difabel netra total, aksesibilitas  untuk orang dengan low vision pun juga berbeda.

Ajiwan Arief Hendradi bercerita tentang pengalamannya sebagai orang dengan low vision saat beraktifitas dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

“Saat bekerja mengetik dan mengedit di layar komputer, aku biasanya memakai pengaturan high contrast di Windows 7. Jadi, background akan berwarna hitam dan tulisan menjadi kuning. Pengaturan ini membuat antarmuka menjadi terlihat sangat kontras dan sangat membantuku dalam membaca,” ujarnya.

Meskipun begitu, tidak setiap saat Ajiwan menggunakan pengaturan yang sama. Ada beberapa saat ketika ia lebih memilih menggunakan aplikasi pembaca JAWS.

“Ketika menginstal sebuah software, aku lebih memilih menggunakan JAWS karena keterangan peringah dialognya kecil-lecil. Hal yang sama juga saat bekerja menggunakan Microsoft Excel. Kalau aku zoom layarnya, kolom-kolom yang ada di Excel malah jadi kabur dan sedikit saja yang terlihat. Hal itu malah bikin tambah bingung,” tuturnya.

Ketika beraktifitas dengan smartphone, Ajiwan juga menggunakan pengaturan extra large. smartphone merek Xiaomi kepunyaannya cukup mengakomodasi kebutuhannya dengan tema layar yang beragam dan pengaturan yang membuat ikon bisa diperbesar. Hal tersebut ia akui sangat membantunya. Selain itu, pencahayaan layar gawai juga ia atur pada tingkat 60-70 persen agar tidak membuat terlalu silau.

Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Wildan, salah seorang dengan low vision yang juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketika tidak menggunakan pembaca layar, Wildan akan mengatur kontras layarnya untuk membantunya dalam melihat dan membaca layar.

“Jadi kontrasnya aku atur agar latar belakang layarnya menjadi hitam dan tulisannya menjadi kuning. Selain itu, kotak-kotak menunya juga jadi ungu sehingga memudahkanku untuk membacanya,” ungkap mahasiswa yang sedang melakukan KKN ini.

Untuk penggunaan smartphone, ia lebih terbiasa menggunakan TalkBack. Jika tidak, ia akan melakukan zoom pada tulisan-tulisan yang ia baca. Ia juga mensiasati kontras layar smartphone dengan memilih tema layar yang warnanya gelap sehingga lebih memudahkannya untuk membaca. Ia juga melakukan pengaturan khusus saat mengetik di laptop.

“Biasanya font tulisan aku perbesar dan kugunakan font Arial karena font itu yang paling nyaman buatku. Ukurannya biasanya ada di kisaran 18 sampai 24,” ujarnya.

Ada banyak portal teknologi yang mengkampanyekan aksesibilitas teknologi bagi orang dengan low vision. Salah satunya adalah, W3C atau World Wide Web Consortium yang mengeluarkan sebuah dokumen berjudul Accessibility Requirement for People with Low Vision sebagai panduan untuk menciptakan aksesibilitas bagi orang dengan low vision.

Dokumen ini menjelaskan apa yang diperlukan oleh orang dengan low vision untuk kebutuhan elektronik seperti konten, alat, dan teknologi yang lebih aksesibel. Kebutuhan yang dijelaskan dalam dokumen ini mencakup perangkat keras, sistem operasi, user agent (seperti browser situs web), serta teknologi lainnya.

Pengaturan pertama yang dijelaskan untuk kebutuhan aksesibilitas orang dengan low vision adalah pengaturan kecerahan dan warna. Layar yang terlalu cerah bisa menyebabkan orang dengan low vision terganggu saat membaca. Selain itu, pengaturan kekontrasan teks dengan latar belakang layar juga sangat penting bagi orang dengan low vision. Bagi kebanyakan, kombinasi warna yang paling lazim adalah teks berwarna putih atau kuning dengan latar belakang layar berwarna hitam atau sebaliknya. Meskipun begitu, kombinasi warna yang bisa dibaca secara optimal berbeda antara orang dengan low vision satu dan lainnya.

Pengaturan kedua adalah perceiving (penerimaan pesan). Pengaturan ini mencakup ukuran teks, jenis teks (font), gaya, kapitalisasi dan ukuran untuk semua elemen. Sebagian besar orang dengan low vision membutuhkan ukuran teks yang lebih besar dari ukuran standar. Selain itu, jenis font yang cukup memudahkan adalah font yang punya kepadatan warna, bukan font yang mengandung sub-piksel. Pengaturan juga biasanya dilakukan dengan mempertebal huruf dan tidak membuatnya menjadi miring dan bergaris bawah. Untuk ukuran semua elemen, kebanyak orang dengan low vision lebih memilih untuk memperbesar ukuran antarmuka (interface) dari layar untuk bisa memperoleh semua informasi lengkap dengan ukuran cursor teks dan pointer mouse yang juga diperbesar.

Pengaturan ketiga adalah spasi. Pengaturan ini terdiri dari pengaturan spasi antar baris, spasi antar huruf, spasi antar kata dan pengaturan baris (alignment). Sebagian besar orang dengan low vision lebih memilih spasi yang lebih lebar diantara pengaturan di atas. Lalu, ada pengaturan batas teks. Batas yang terlalu mepet dengan ujung lembar kerja akan membuat orang dengan low vision lebih sulit membaca.

Pengaturan keempat adalah identifikasi elemen untuk membedakan elemen seperti judul, sub judul dan isi tulisan. Bagi sebagian orang dengan low vision, pengaturan ini penting ketika mereka kesulitan dalam mengidentifikasi judul, sub judul dan isi informasi. Pengaturan yang dilakukan bisa dengan pembesaran ukuran huruf atau mengubah jenis font huruf dengan ukuran dan warna yang berbeda.  

Semua pengaturan yang ada di dokumen ini berdasar pada hak aksesibilitas bagi orang dengan low vision yang juga sudah diamanatkan oleh United Nations of Convention on the Rights of People with Disabilities. [Yuhda]

The subscriber's email address.