Lompat ke isi utama
Dina Amalia Fahima salah satu Jurnalis Solider yang terpilih mengikuti forum Asian Yout Forum 2018

Pengalaman Partisipasi sebagai Delegasi Tuli di Asian Youth Forum 2018

Solider.id, Jakarta- Salah satu Jurnalis Solider asal Jakarta terpilih menjadi peserta dalam penyeleksian plan Indonesia. Selain Jurnalis Solider, dua orang delegasi lain dan tiga pendamping termasuk interpreter bahasa isyarat khusus peserta Tuli mengikuti acara Forum pemuda Asia 6 (AYF6) pada 9-12 Agustus 2018 di Incheon, Korea Selatan. Acara tersrebut bertepatan dengan peringatan Hari Pemuda Internasional pada 12 Agustus.

Pada acara sebelumnya, kerjasama AYF6 Plan International usai membahas tema tentang membangun tenaga kerja masa depan serta tantangan dan peluangnya. AYF6 melibatkan 700 delegasi Korea bersama 300 delegasi Indonesia, serta mengundang para pemangku kepentingan seperti pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil dan lembaga pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran.

Di sana Jurnalis Solider telah mendapatkan kesempatan untuk belajar bertukar ilmu. Bersama satu kelompok pemuda dari latar belakang budaya, kami merancang bagaimana perkembangan proyek pengembangan yang nyata dan relevan untuk pemerintah.

Acara ini memberikan kesempatan besar dan Ilmu baru untuk mempelajari lebih lanjut tentang proyek-proyek pembangunan pemerintah luar negeri dan jaringan berbagai pemangku kepentingan yang hadir. Sebagaimana berkaitan dengan tema Sustainable Development Goals (SDGs) dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Jurnalis Solider berbagi Ilmu

Jurnalis Solider belajar lebih banyak tentang tenaga kerja di masa depan, bagaimana mengimplementasikan dan berkontribusi yang baik untuk negara. Di sana, Jurnalis Solider mengikuti kegiatan forum diskusi. Forum tersebut mengharuskan pengajuan isu-isu yang dipunyai yang kemudian dianalisis di dalam forum.

Jurnalis Solider menjadi satu-satunya peserta Tuli dan tergabung satu kelompok yang berisi delapan delegasi muda dari berbagai negara yaitu, Nepal, Filipina, Korea, dan Thailand.

Di kelompok lain, ada delegasi Indonesia asal SO Foundation yang memiliki hambatan intelektual yang juga mengikuti forum tersebut. Dia bernama Yofan, bersama dua orang delegasi Indonesia nondifabel lainnya.

Pada kesempatan diskusi bersama, satu tim membahas konsep tentang ketenagakerjaan dan pengembangan untuk menghadapi tantangan masa depan serta kehidupan yang inklusif. Mengarahkan dan menciptakan kepribadian anak muda lebih produktif bagi masyarakat dan mengembangkan nilai kepribadian yang baik dalam lingkungan kerja.

Diskusi tersebut sangat menarik, tujuan dari ide-ide delegasi dari setiap tim, dikaji untuk mengetahui kesesuaian dan kecocokan dalam implementasi pengembangan tenaga kerja. Sebagaimana diketahui, fasilitas kerja bagi difabel masih jauh dari penilaian tenaga kerja. Dunia kerja masih baru dalam mengenal dunia difabilitas.

Dari sanalah mereka belajar terkait kebutuhan difabel di bidang tenaga kerja. Di sana pula jurnasis Solider dibantu interpreter PLJ dan pendamping menjelaskan terkait kebutuhan difabel di dalam dunia kerja.

Forum tersebut menjadi kesempatan besar yang didapatkan. Salah satu pembicara bernama Profesor Rajesh Nair asal India menjelaskan tentang pengembangan kemampuan riset bermula dari penelitian kualitatif sebelum menuju ke kuantitatif, agar data yang jelas dan dipercaya oleh pembaca. Menurut beliau, kemampuan riset berkaitan dengan mendesain cara berpikir yang jelas, padat dan singkat.

Dari penjelasan Rajesh, Jurnalis Solider mengajukan pertanyaan, “bagaimana cara untuk mengembangkan riset data difabel, karena sampai saat ini Indonesia masih belum ada data jelas tentang Disabilitas?”

“Jika kamu membuat program atau apa aja, itu bisa membantu kamu menganalisa sejauh mana kemampuan disabilitas, baru kamu bisa menganalisa data yang berkaitan dengan disabilitas dan program. Karena hal itu, kedua saling berhubungan berdampak pada riset kamu akan mudah berkembang. Contohnya komunitas yang kamu bikin sebisanya,” jawab Rajesh.

Jawaban Rajesh menginspirasi untuk bagaimana mendorong difabel agar lebih produktif dalam kemampuan riset. Sebagaimana riset sebuah instrumen yang bisa memecahkan persoalan utamanya terkait isu difabilitas.

Pada forum tersebut, Jurnalis Solider juga berbagi informasi melalui interpreter Bahasa Isyarat dibantu salah satu pendamping plan Indonesia menggunakan laptop sebagai note taker. Jurnalis Solider menyempatkan untuk mengajarkan bahasa Indonesia Bisindo kepada para peserta delegasi. [Dina Amalia Fahima]

The subscriber's email address.