Lompat ke isi utama
 Penghargaan dari RRI dalam rangka hari wayang di tengah-tengah piala prestasi SLB Dria Adi Semarang lainnya

Netra Laras, Grup Karawitan SLB Dria Adi Semarang, Wujud Nyata Cinta Budaya Bangsa

Solider.id,  Semarang - Upaya pelestarian budaya Indonesia telah dilaksanakan dalam berbagai bentuk. Namun, faktanya kebudayaan tersebut masih kurang diminati oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Bangganya, hal tersebut tidak berlaku bagi anak-anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah luar biasa di Kota Semarang. Kecintaan terhadap budaya Jawa tidak luntur dari hati siswa-siswi dengan hambatan penglihatan di SLB A Dria Adi Semarang ini. Sejak tahun 2011, sekolah luar biasa bagi anak-anak difabel Netra ini mendapatkan kegiatan ekstra yaitu seni karawitan.

Grup karawitan di sekolah ini diberi nama Netra Laras. Kegiatan ekstra karawitan mulai diberikan kepada peserta didik  dari kelas 4 SD. Dulunya, pengajar karawitan di sekolah ini adalah Andreas Pamungkas, seorang difabel Netra yang juga pelaku seni karawitan, yang kini digantikan oleh Ribut. Walaupun bisa dikatakan belajar gamelan tidak mudah, perlahan demi perlahan anak-anak difabel Netra di sekolah tersebut bisa menabuh perangkat gamelan Jawa dengan selaras. Tentunya, memerlukan ketelatenan untuk mampu memainkan beragam gamelan Jawa ini. Seperti yang telah diketahui, sebagian besar gamelan dimainkan dengan cara dipukul. Bagi mereka yang memiliki hambatan penglihatan, mereka harus benar-benar peka dengan bentuk dan bunyi yang dihasilkan oleh gamelan yang mereka pegang. Sehingga pengajar karawitan ini wajib mengenalkan bentuk dan ciri khas suara masing-masing gamelan sebelum mereka memainkan alat musik bersamaan.

Memainkan gamelan Jawa memerlukan penjiwaan agar tercipta harmoni nan indah. Setiap alat musik atau gamelan memiliki aturan tersendiri dalam menyuarakannya. Penabuh tidak bisa mengikuti kehendaknya sendiri untuk menjadi penampil terbaik. Suatu gendhing karawitan disebut indah jika seluruh alat musik bisa berbunyi senada dan seirama.

Sad Hargo Indratno, salah satu guru di sekolah luar biasa tersebut menyatakan ketertarikan murid-murid pada karawitan melebihi ketertarikan mereka pada bidang akademik. Ia juga menambahkan antusiasme siswa-siswi untuk mempelajari gamelan sangatlah besar. Indratno menjelaskan bahwa musik adalah salah satu media yang bisa dijadikan sarana untuk menggali potensi murid di sekolah tersebut. Menurutnya, seni karawitan juga bagian dari pengembangan keterampilan siswa.

Ariel Sapta Wulan Fitriyani, siswi SMP di sekolah tersebut dan juga penabuh saron di Netra Laras mengungkapkan kecintaannya akan musik Jawa. Selain menjadi penabuh, Aril juga memiliki suara emas. Terkadang, ia pun didaulat untuk menjadi sinden. Kegiatan karawitan yang begitu ia sukai tersebut tidak lantas menyurutkan minat belajarnya di bidang akademik.

“Kegiatan karawitan tidak mengganggu sekolah saya. Saya bisa membagi waktu untuk hobi dan belajar kok! Keluarga saya juga mendukung saya ikut karawitan,” jelasnya.

Meski ekstra karawitan hanya dilaksanakan satu hari dalam seminggu, kegiatan ekstra ini selalu menjadi kelas yang ditunggu-tunggu oleh peserta didik. Bagi para penabuh, mereka mencatat notasi tembang Jawa tersebut dengan Braille. Sedangkan untuk sinden (penyanyi perempuan) dan waranggono (penyanyi laki-laki) biasanya menghafalkan lirik-lirik gendhing-gendhing tanpa membuat catatan.

“Kami belajar notasinya dengan mencatat not-notnya dengan angka Braille. Kadang susah sih kalau lagunya Panjang. Tangannya harus latihan menyesuaikan dengan gamelan agak lama. Tapi kalau sudah bisa lancaar senang sih!” tutur Yohanes Bagus, penabuh bonang di grup karawitan tersebut.

Walaupun formasi penabuh seringkali diubah, nyatanya penampilan para penabuh cilik dari SLB yang berada di area Puri Anjasmoro Semarang Barat ini mampu menawan hati penikmat musik gamelan Jawa. Mereka sering diundang untuk mengisi kegiatan budaya di event-event penting Kota Semarang serta kegiatan kerohanian.

Beberapa tempat yang pernah mereka singgahi untuk memamerkan pesona kebudayaan Jawa ini antara lain tempat bersejarah seperti kawasan Kota Lama, Museum Ronggo Warsito, kantor pemerintahan seperti Balai Kota Semarang, dan yang paling memukau adalah penampilan dalam rangka memperingati hari Wayang Nasional di pelataran gedung Radio Republik Indonesia Semarang. Para penabuh cilik yang berjumlah tidak lebih dari 15 anak tersebut mendapatkan apresiasi oleh para tamu undangan dan pembawa acara. Saat itu, Netra Laras merupakan satu-satunya perwakilan peserta yang berasal dari sekolah luar biasa.

Selain grup Netra Laras, ada pula sekolah dasar lain yang menjadi penampil pada hari tersebut. Meskipun jumlah siswanya terbatas, selama satu jam grup karawitan dari SLB Dria Adi ini tetap mampu membawakan gendhing-gendhing Jawa yang memanjakan telinga para hadirin. Suara sindhen kecil Ariel dan Erika serta Rafi sebagai wiraswara menghadirkan sebuah piala yang bertuliskan juara II penampil karawitan tingkat sekolah dasar di Semarang.

Walaupun memiliki penglihatan penglihatan, siswa-siswi sekolah luar biasa khusus untuk difabel netra ini dapat menabuh gamelan Jawa dengan mantap. Beberapa gendhing yang dibawakan oleh grup karawitan ini antara lain Caping Gunung dan Mentog-mentog.

Bagus mengatakan bahwa budaya Jawa harus terus dilestarikan.“Budaya tradisional seperti karawitan ini harus diperkenalkan sejak kecil. Kalau bukan orang Indonesia sendiri yang melestarikan, nanti bisa hilang atau malah diakui negara lain” ungkap siswa kelas IX ini.

Netra Laras merupakan wujud nyata keindahan budaya adi luhur bangsa yang turut dilestarikan oleh putra-putri yang berasal dari keberagaman masyarakat. [Agus Sri]

The subscriber's email address.