Lompat ke isi utama
Rupini dan suaminya

Geliat Perekonomian Rupini

Solider.id, Kulon Progo – Kediaman Rupini sedikit berada di atas bukit. Jalur yang dilewati berupa jalan rambat beton yang berlapis lumut ketika musim hujan. Di musim kemarau seperti ini, lumut memang tidak ada, namun ranting-ranting kayu yang berjatuhan karena panas matahari bisa membuat motor tergelincir jika tidak hati-hati.

Rupini tinggal bersama suami sekaligus kedua orang tuanya. Ia belum tinggal berpisah dari orang tua meski suami sebenarnya punya rumah di desa sebelah. Rupini adalah difabel Cerebral Palsy. Begitu pun suaminya yang menjadi difabel daksa karena kecelakaan motor lima tahun yang lalu. Beberapa tahun belakangan ia menggeluti usaha peyek, makanan yang menjadi salah satu ciri khas di kecamatannya, Lendah, Kulon Progo.

“Sekitar tiga tahunan ini saya membuat peyek sebagai mata pencaharian. Tadinya, saya di rumah saja. Namun, beberapa tahun yang lalu, suami kecelakaan dan menjadi difabel. Aktifitasnya kemudian hanya di rumah saja karena proses berobat. Saya kemudian berinisiatif membuat peyek agar dapur tetep ngebul,” ujar Rupini.

Sampai saat ini ia masih mengembangkan usaha peyeknya. Produk peyeknya ia titipkan di warung-warung di sekitaran desanya. Ada sekitar tujuh warung tempat ia menitipkan produk peyeknya tersebut. Karena masih dalam tahap pengembangan, ia tidak tiap hari membuat peyek.

“Secara fisik saya belum cukup kuat untuk produksi tiap hari. Badan rasanya capek. Apalagi, rata-rata saya sendiri yang membuatnya. Kadang dibantu suami saya ketika sedang tidak ada jatah kontrol berobat. Jadi, saya buatnya kalau yang di toko dan warung sudah habis, dan ada permintaan lagi,” Rupini bercerita sambil menyeruput teh hangat yang ada di depannya.

Menurutnya, ia bisa memproduksi dua sampai tiga kilo sekali produksi ketika jumlah titipan di warung dan toko sudah habis. Dari dua tiga kilo itu ia konversi ke dalam empat puluh lima bungkus yang masing-masing ia banderol dengan harga lima ribu lima ratus per bungkusnya.

Ia mengakui, pendapatan yang didapatkan selama ini masih belum terlalu mencukupi. “Karena manajemennya masih belum rapi, jadi uang pemasukannya juga masih bolong-bolong. Kadang tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu kami masih tinggal di rumah orang tua seperti ini,” ungkapnya.

Terhambat mobilitas dan akses transportasi

Berada di daerah dengan kondisi geografis yang tidak rata menjadi tantangan sendiri bagi Rupini dalam mengembangkan usahanya ini. Sebagai difabel Cerebral Palsy, mobilitas Rupini tergantung dengan kontur topografi tempat domisilinya.

“Tantangan utamanya adalah saya tidak bisa kemana-mana sendiri karena rumah saya naik sedikit bukit seperti ini. Jika, jalannya rata, mungkin saya bisa jalan kaki sedikit atau naik ojek,” tuturnya.

Selama ini, mobilitas Rupini bergantung dengan adiknya. Jika ia ingin berbelanja bahan atau saat mengantar peyek, ia akan meminta adiknya mengantar. Ketergantungan itu yang cukup dirasakan oleh Rupini.

“Kadang adik saya tidak bisa karena ada acara lain. Artinya, produksi peyek akan terhambat,” ujarnya.

Sebenarnya, ada suami Rupini yang siap mengantar untuk membeli bahan dan distribusi produksi peyek. Namun, hal itu terganjal dengan belum adanya motor modifikasi yang bisa menunjang mobilitas dari suami Rupini.

“Kami masih menabung untuk membuat motor modifikasi roda tiga untuk suami saya. Ya pelan-pelan. Motornya sudah ada karena ada pemberian dari orang tua saya. Tinggal kami menyisihkan uang hasil peyek untuk biaya modifikasi,” ucapnya.

Rupini mulai berinovasi

Meski volume penjualan peyek masih belum stabil, namun Rupini sudah mulai menerapkan inovasi dalam produk peyeknya.

“Dulu awal hanya peyek kacang tanah saja. Sekarang saya mulai membuat varian produk lain, yaitu peyek kacang kedelai dan peyek cabe. Karena obrolan dari yang punya warung dan toko, banyak orang yang suka jika variannya banyak. Jadi, saya udah mulai coba buat sedikit-sedikit,” ungkapnya.

Selain membuat varian rasa, Rupini juga berencana untuk menambah produk dengan kripik jamur. Ia mengaku terinspirasi dari toko oleh-oleh yang pernah ia kunjungi dan tertarik untuk belajar membuatnya.

“Nanti, jika sudah ada motor modifikasi, sudah bisa diantar suami kemana-mana, mungkin akan mencoba kripik jamur. Selain itu, ingin menitipkan produksi saya ke tempat yang lebih besar lagi, biar harganya juga bisa lebih bersaing,” katanya mantap.

Sang suami yang sehari-harinya beraktifitas di rumah juga punya inovasi untuk memanfaatkan media daring. “Suami juga bantu mempromosikan jualan peyek ini lewat internet meskipun baru sebatas lewat facebook saja. Tapi, semoga itu bisa membuat usaha ini menjadi semakin lancar,” tutupnya. [Yuhda]  

The subscriber's email address.