Lompat ke isi utama
uasana pelatihan kewirausahaan/UMK

Pelatihan Kewirausahaan dengan Permainan Simulasi Bagi Difabel Sukoharjo

Solider.id, Sukoharjo- Bank Jateng melalui CSR-nya mengadakan pelatihan pemberdayaan ekonomi kewirausahaan bagi 13 difabel di Kantor Bank Jateng, Sukoharjo. Ke-13 difabel, semuanya berlatar belakang memiliki usaha seperti bengkel, warung makan, warung bakso, dan usaha makanan kecil. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, Kamis-Jumat (23-24/8) difasilitasi oleh Adhi Subroto, fasilitator pelatihan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang bersertifikasi Jerman. Adhi menjadi salah satu dari 24 trainer yang pernah mengikuti pelatihan oleh sebuah bank di Jerman.

Mengawali pelatihan, Adhi bercerita tentang pengalaman training yang pernah diikutinya. Menurutnya, di Jerman saat ini perekonomian tumbuh pesat. “Apakah saat ini di sana ada usaha mikro?”tanya Adhi pada semua peserta. “Saat ini di Jerman sudah tidak ada usaha mikro. Yang ada adalah 200 tahun lalu. Dan di sana, seorang pengusaha harus memiliki nomor induk pengusaha, dan izin usaha dan punya rekening bank, yang melalui rekening itu dia membayar tagihan pajak dan rekening-rekening seperti listrik dan air,”terang Adhi.

Pelatihan di hari pertama tentang kewirausahaan tersebut adalah tentang prinsip-prinsip akuntansi yang diajarkan dalam bentuk simulasi. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya tentang pengendalian dan penggunaan alat-alat keuangan secara sederhana selama proses simulasi. Selain itu pelatihan juga bertujuan untuk mengembangkan pemahaman lebih dalam tentang penganggaran dan pengetahuan pemasaran secara dasar. Adanya kartu “peristiwa” di dalam permainan simulasi menunjukkan bahwa difabel memiliki berbagai pilihan untuk menyelesaikan masalah dalam melakukan wirausaha. Dalam permainan simulasi dengan memgambil tema ‘penjualan jus buah’ ini dibagi menjadi empat babak dan dalam dua periode. Simulasi dimainkan di atas papan, dan mengenali berbagai istilah yang berbeda-beda di papan tersebut. Permainan harus sesuai, berurutan dan tidak boleh melompat.

Sutrisno, salah seorang peserta yang memiliki usaha service elektronik mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat baginya karena bisa belajar bagaimana mengelola keuangan dalam usaha, agar tidak tercampur dengan keuangan rumah tangga. Contoh-contoh yang disampaikan oleh fasilitator cukup jelas dan menarik, dengan metode permainan edukatif (simulasi) yang menggambarkan sebuah usaha kecil yang tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian juga yang disampaikan oleh Yanti, yang memiliki usaha warung bakso di halaman rumahnya, Polokarto Sukoharjo. Menurutnya materi yang diberikan mudah dimengerti apalagi bahan-bahan dan alat peraga bisa digunakan untuk praktik. Apalagi di setiap sesi fasilitator memberi kesempatan untuk peserta bertanya dan berbagi pengalaman pada usaha masing-masing yang selama ini sudah dijalani. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.