Lompat ke isi utama
Suhardi Wiyanto sering dipanggil Suhardi Toha di medsos, anggota unit LIDi BPBD Jawa Tengah (sumber foto : koleksi FB)

Unit LIDi BPBD Jawa Tengah, Capaian dan Tantangannya

Indonesia merupakan negara rawan bencana. Tiap daerah memiliki karakteristik tersendiri dan memiliki potensi bencana alam. Untuk mewaspadai dampak bencana alam yang kemungkinan sewaktu-waktu dapat terjadi. Berbagai elemen masyarakat gencar melakukan berbagai gerakan tenggap bencana. Gerakan tersebut tentu bertujuan untuk meminimalkan jatuhnya korban saat bencana terjadi.

Dalam rangka meminimalkan resiko bencana yang bisa saja terjadi kapan pun tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah awa Tengah menginisiasi dibentuknya Unit LiDi atau  Unit Layanan Inklusif Disabilitas.

Ditemui belum lama ini di ruang kerjanya, Perkumpulan Sehati di Sukoharjo, Ketua Unit Layanan Inklusif Disabilitas (LIDi)BPBD Jawa Tengah, Edy Supriyanto mengatakan beberapa hal terkait unit LIDi. Unit LIDi sudah melatih BPBD di hampir 35 kota/kabupaten di Jawa Tengah kecuali Kabupaten Magelang dan Kota Salatiga. Selain itu LIDi juga mensosialisasikan panduan unit LIDi dan memberikan pelatihan PRB inklusi di Kabupaten Semarang, Pekalongan, Rembang dan Solo Raya (Surakarta, Karanganyar, Klaten, Wonogiri, Sragen, Boyolali, dan Sukoharjo) serta pembentukan unit LIDi di lima kabupaten : Klaten, Wonogiri, Rembang, Kudus dan Karanganyar.

Salah seorang anggota LIDi BPBD Jawa Tengah adalah netra yakni Basuki dari komunitas Sahabat Mata Semarang. Sedang pengurus lain datang dari pegiat di PPDI, Gerkatin, PPDK, Pertuni dan Kelompok Sahabat Difabel. Unit LIDi BPBD Jawa Tengah juga telah mengadakan pelatihan layanan pendukung psikososial. Sosialisasi adaptasi aksesibilitas program rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) dan merespon banjir di Klaten serta melakukan diseminasi panduan LIDi di Sulawesi Tengah dan Papua.

“Rata-rata yang kita lakukan adalah membangun sistem data pilah terkait kondisi pascabencana,”terang Edy Supriyanto.

Tantangan Unit LIDi BPBD Jawa Tengah

Hal yang menjadi tantangan unit LIDi di BPBD Jawa Tengah adalah mendorong internalisasi unit LIDi di dalam organisasi BPBD sesuai amanat Perka Nomor 4 tahun 2014. Selain itu juga peningkatan kapasitas Organisasi difabel  terkait isu-isu kebencanaan, pemahaman pelaku penanggulangan kebencanaan, mengenai kapasitas unit LIDi sendiri saat ini masih diragukan dan kadang masih dimasukkan dalam cluster pengungsian dalam pelatihan-pelatihan. Tantangan berikutnya adalah keanggotaannya yang tidak harus berasal dari organisasi difabel saja tetapi bagaimana melibatkan forum PRB, PMI, lembaga sosial, ASB dan lain sebagainya. Tantangan lainnya adalah keterlibatan secara aktif dalam pelaksanaan lima mandat inklusi : tentang toolsnya, aksesibilitas, partisipasi, peningkatan kapasitas, prioritas perlindungan berinteraksi dengan difabilitas.

Suhardi Wiyanto, Anggota Unit LIDi BPBD Jawa Tengah Dikirim ke Pusat Bencana Gempa Bumi, Lombok

 

Ditemui di kantor PPRB Solo (13/8), anggota unit LIDi BPBD Jawa Tengah, Suhardi Wiyanto mengatakan jika ia baru saja pulang dari Lombok sejak Rabu-Minggu (8-12/8). Pada saat itu sebenarnya dia dan unit LIDi lainnya sedang merapat di Semarang dalam rangka pelaporan pelatihan layanan dukungan psikososial. Lalu kemudian terjadi rapat koordinasi. Beberapa perlu dipersiapkan oleh LIDI selama ini adalah peningkatan kapasitas berupa pelatihan. Tidak hanya ditawarkan pelatihan saja namun juga dipraktikkan menjadi salah satu bukti pelatihan yakni dikirim ke Lombok sebagai langkah awal.

Menurut Suhardi Wiyanto, beberapa difabel di unit LIDi saat ini telah menjadi Pool Of Facilitator (POF) di BPBD Jawa Tengah, dan mengarah ke penyetaraan fasilitator relawan dari badan diklat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Saat Suhardi diterjunkan ke Lombok, hal yang dilakukannya adalah analisa dan inputing data. “Saat itu yang kami data ada 38 orang korban, dengan kondisi rumah rata-rata setengah hancur, dan tidak bisa dihuni lagi,”terang Suhardi. “Ini yang pertama kali unit LIDi mengirim ke luar Jawa Tengah untuk mentransfer pengetahuan. Karena isu difabilitas di Lombok masih sangat minim dan mendorong teman-teman difabel di sana untuk turut bergabung di cluster perlindungan dan pengungsian,”imbuh Suhardi.

Menurutnya tantangan terbesar saat ini bagi pengurus LIDi adalah menyatukan waktu yang tepat karena kesibukan masing-masing. “Terus, pelan tapi pasti kita akan dilepas oleh Non Goverment Organization (NGO) yang selama ini mendampingi jadi sudah bersiap dari sekarang. Kalau rencana ke depan adalah kami mendekat ke BPBD provinsi pada bidang-bidangnya, serta kasi-kasinya yang nantinya diharapkan menjadi satu kesatuan yang melekat,”pungkas Suhardi. [Puji Astuti]  

The subscriber's email address.