Lompat ke isi utama
Keluarga Trinu dan Idea Yogyakarta berfoto bersama di kediaman rumah Trinu

Tri Nugroho Menemukan Dunianya dengan Menggambar

Solider.id, Gunungkidul- Sumarti Sukaningsih yang biasa disapa Ning, salah satu pegiat difabel dari Perkumpulan Idea Yogyakarta yang membaca kemampuan Trinu dalam menggambar.

Semula Ning hanya tertarik pada Trinu untuk melakukan komunikasi, namun Trinu memiliki hambatan. Maka jadilah Ning membawa buku untuk berkomunikasi lewat tulisan. Tapi kenyataan sedih harus kembali Ning dapatkan. Trinu tak bisa baca tulis. Ning memutuskan membawa buku gambar. Ning menyodorkan tawaran agar Trinu mau menggambar “gambar apa saja yang Trinu suka,” katanya (29/07).

Dari sanalah Ning membantu Trinu menemukan dunianya. Melalui gores pensil warna, Trinu bangkit mengatasi hambatannya dengan karya.

Dusun Sumberrejo Rt 03 Rw 01, Kecamatan Nglipar, sepetak halaman luas dipenuhi jerami bekas. Sementara di teras rumah nan senyap, seorang pemuda tinggi kurus nampak tengah asyik memoles crayon di kertas. Tangan kidalnya fasih menuang imajinasi hingga membentuk sebuah gambar.

Tulisan rusa hutan yang sudah dihafal ia tambahkan untuk memberi keterangan pada coretan yang telah ia hasilkan. Berdiri dan mengangguk saat ada tamu, senyumnya tertahan. Tak ada kata yang ia ucapkan selain menjawab selintas salam dengan kata yang kurang terdengar, kemudian beranjak masuk setelah mempersilakan.

Menjumpai Tri Nugroho, pemuda 20 tahun kelahiuran Gunungkidul. Ia memiliki hambatan cerebral palsy. Ia biasa dipanggil Trinu. Trinu adalah bungsu dari tiga bersaudara pasangan Tugiman (62 tahun) dan Ngatini (50 tahun). Ia tidak memiliki kemampuan baca tulis. Namun, Trinu mulai percaya diri akan kemampuan yang dimilikinya berkat dampingan Ning dari Idea yang tanpa sengaja mengamati. Menekuni dunia corat-coret.

Siang yang terik, menemani dan mewakili Trinu berbincang, orangtua Trinu baru saja pulang dari ladang. Mempersilakan dan berkenan berbagi kisah tentang bungsu mereka yang mengalami beberapa hambatan.

Tugiman lebih banyak bercerita dibanding istrinya. Sang istri lebih banyak diam menyimak pembicaraan. Dia tak keberatan berbagi pengalaman tentang masa sulit mereka sejak Trinu lahir hingga ia beranjak remaja.

“Saat lahir anak saya tidak menangis, dan dokter tidak mengatakan apa-apa tentang keadaannya.” Tugiman, pria sepuh yang baru saja pulang dari mengambil pakan ternak dengan ramah membuka obrolan.

Di antara nafas lelahnya, Tugiman lalu berkisah, Trinu mulai memiliki hambtana sejak ia dilahirkan. Secara fisik Tugiman juga bisa melihat bahwa Trinu memiliki beberapa perbedaan bawaan. Pada kaki kirinya, jari tangan kanannya dan bentuk pada wajah anaknya membuat Tugiman paham.

Kondisi desa dengan geografis yang berbukit dan pegunungan, medan yang sulit untuk ditempuh kendaraan serasa ikut berperan mempengaruhi Trinu dalam masa perkembangan. Usia tujuh tahun baru bisa berjalan, ternyata Trinu juga mengalami hambatan penglihatan. Trinu menjadi remaja pendiam meski sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia sampaikan.

“Mau menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan anak saya kan tidak mungkin? Saya juga tidak merasa perlu untuk berkeluh. Akhirnya saya hanya menerima apa adanya, yang terpikir dalam hati saya dengan merawat anak ini saya berdoa agar bisa menambah rejeki untuk keluarga,” jelas Tugiman.

Tugiman mengatakan, Trinu juga mengalami hambatan menelan makanan. Kondisi lidahnya yang kecil dan hanya berada di sisi kiri rongga mulutnya membuat Trinu tak bisa dengan mudah menelan makan atau minuman sejak ia dilahirkan. Trinu perlu menggunakan jari tangan sebagai pengganti lidah untuk membantu mengunyah. Kesulitan saat makan sering membuat orangtua Trinu sedih.

“Dulu jaman belum ada angkutan, jalan kaki saya membawa dia ke dokter Wiratmo, spesialis anak di RSUD Wonosari tapi hanya diberi obat. Mereka cuma bilang kami harus sabar karena ini sudah takdir. Apapun kami usahakan agar dia bisa sembuh. Sampai-sampai kami membawa dia ke orangtua/orang pintar demi kesembuhannya,” lanjut Tugiman.

Sambil menghela nafas panjang Tugiman menceritakan bermacam cara yang sudah ia upayakan, namun tak juga membawa hasil memuaskan.

Sementara di sudut ruang tampak Trinu melanjutkan kegemaran mencoret kertas gambar dengan cueknya, sambil menyimak pembicaraan. Sesekali tanpa senyum ia menjawab tanya dengan anggukan, kadang dengan gelengan. Tak sembarang orang yang bisa mengajaknya bicara, karena Trinu hanya bicara dengan orang-orang yang sudah lama dikenalnya.

“Saya tidak pernah malu dengan kondisi anak saya. Saya mensyukurinya. Lahir dengan kondisi difabel, itu bukan keinginan kami atau dia. Misal ada yang bilang atau mengatakan satu hal tentang kekurangan dia ya saya terima dengan legowo (lapang dada), karena memang keadaan dia seperti itu. Mau bagaimana lagi?” tambah Tugiman.

Lingkungan yang sudah paham dengan kondisi Trinu menambah kelegaan bagi Tugiman. Saat Trinu bergaul dan akrab dengan lingkungan hal itu baginya tak pernah menjadi beban. Menurut Tugiman, dalam pergaulan Trinu tidak pernah punya rasa minder. Dia selalu menekankan untuk belajar bergaul dengan siapapun. “Jika ada kegiatan atau pertemuan di kampung, sengaja saya suruh datang. Biar kenal dan kumpul sama teman-teman,” lanjutnya.

Sekarang, kertas dan pensil warna telah mengubah Trinu melihat dunia dengan rasa percaya diri sepenuhnya. Dibantu beberapa relawan Kelompok Idea Yogyakarta, Trinu telah menemukan hal baru yang menjadi dunianya. Perkumpulan Idea mencetak gambar yang dibuat Trinu untuk pakaian, pin dan mug yang kemudian ditawarkan pada sesama pegiat difabel Yogya.

“Tujuan utamanya bukan untuk mencari uang, tetapi untuk lebih membuat Trinu percaya bahwa dia punya kemampuan,” tutur Ning dari Perkumpulan Idea yang selama ini melakukan pendampingan. Semua hasil yang sudah didapat Trinu sekarang 100 persen merupakan hasil penjualan kaos, pin dan mug itu sendiri.

Ning juga mengatakan bahwa perolehan hasil penjualan juga digunakan untuk membeli kambing, mengurus akta kelahiran dan membuat e-KTP agar Trinu bisa mengakses semua layanan yang diberikan pemerintah.

Aktif di Kelompok difabilitas desa Mitra Sehati, dengan semangat belajar yang tinggi tak lantas membuat Trinu tergugah untuk belajar atau sekolah lagi.

“Kalau ngaji tidak mau berhenti. Apalagi saat puasa, bisa sebulan penuh dia tekun ke masjid atau mushola.” Ada haru terselip dalam kata yang Tugiman sampaikan. Menggantung harapan, Tugiman hanya punya satu keinginan agar Trinu mau kembali bersekolah. Mengenyam bangku TK selama dua tahun, dan menjadi korban bully saat awal masuk bangku Sekolah Dasar membuat Trinu tak pernah berminat kembali sekolah.

“Sekarang andai dia masih mau sekolah, saya mau ngantar dan menunggu dia. Saya ingin dia bisa mandiri minimal bisa baca tulis. Karena dengan baca tulis dia akan tahu bagaimana caranya berusaha dan ngerti bagaimana orang harus bekerja, tutur Tugiman.

Menjadikan Trinu sebagai anak emas yang tak mungkin begitu saja dilepas, bukan berarti Tugiman dan keluarga tak memberinya bekal untuk kemandirian. Biasanya, Trinu yang membantu membawa pakan ternak dari ladang. Atau sesekali Trinu hanya tinggal di rumah untuk membantu sang Ibu melakukan pekerjaan rumah. Sering dengan telaten penuh kesabaran Trinu merawat dan memberi makan ternak yang dipelihara. Tugiman bangga, karena dari uang yang ia hasilkan Trinu bisa membeli kambing untuk menambah ternak.

”Trinu anaknya tekun dan ringan tangan saat berkegiatan bersama warga lingkungan untuk gugur gunung (kerja bakti).” Ungkap Hardiyanto, Ketua kelompok difabel desa Mitra Sehati yang kebetulan tinggal satu dusun.  “Ya, begitulah Trinu yang sebenarnya dalam keseharian. Hambatan bicara tak membuatnya tersisih dari lingkungan.” [Yanti]

The subscriber's email address.