Lompat ke isi utama
Kulwap Cucu Saidah

Cucu Saidah: Beasiswa ke Australia Memberikan Banyak Manfaat Kepada Saya

Solider.id, Yogyakarta – Beberapa tahun belakang, beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri bagi difabel sudah semakin terbuka. Beberapa lembaga beasiswa sudah menyediakan kuota khusus untuk mendorong difabel melanjutkan studinya di luar negeri. LPDP salah satunya, menjadikan difabel sebagai penerima beasiswa LPDP afirmasi bersama dengan mereka yang berasal dari daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) serta kalangan penerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah. Selain itu, pemberi beasiswa lain yang cukup memberikan kuota untuk difabel adalah AAS (Australian Award Scholarship). Beasiswa dari pemerintah Australia ini memasukkan difabel dalam targeted awardee atau target penerima beasiswa utama selain masyarakat yang berada pada kawasan Indonesia Timur.

Cucu Saidah, salah seorang difabel penerima beasiswa AAS, bercerita tentang pengalamannya dalam mendapatkan beasiswa ini dalam sesi Kulwap (Kuliah Whatsapp) yang diadakan oleh Neng Koala, 13 Agustus lalu. Dengan beasiswa ini, Cucu, panggilan akrabnya, mengambil Master Degree in Public Administration (Policy) di Flinders University, South Australia pada tahun 2017.

Perempuan yang sudah bergelut pada bidang advokasi hak difabel sejak tahun 2003 ini menceritakan perjuangan panjangnya sampai akhirnya ia bisa mendapatkan salah satu beasiswa paling diminati di Indonesia ini.

“Saya mendapat kesempatan kuliah S2 di Austalia pada tahun 2016 selama 2 tahun. Perjuangan tentu panjang, tapi akhirnya terwujud juga mimpi itu,” tulis Cucu untuk membuka sesi Kulwap tersebut.

Ia mengaku ditawari untuk ikut beasiswa yang sebelumnya bernama Australia Development Scholarship (ADS) ini. Ia sempat terhambat karena khawatir dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Namun, dengan dukungan dari sang suami, ia akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar.

“Kebetulan difabel menjadi target kelompok penerima beasiswa ini,” ujarnya.

Di Australia, Cucu mengambil jurusan Public policy atau Kebijakan Publik. Lingkup pembelajarannya luas mencakup berbagai macam teori dan praktik dalam kebijakan publik. Karena menekuni isu disabilitas sejak tahun 1998, setiap tugas kuliah yang ia dapatkan akan ia hubungkan dengan kebijakan yang terkait dengan disabilitas di Indonesia.

“Pengalaman belajar S2 di Australia sangat besar. Secara ilmu, saya bisa mengaplikasikan apa yang sudah saya pelajari bagi isu disabilitas di Indonesia,” ungkapnya.

Saat ini, ia diminta oleh tim transisi Gubernur Jawa Barat untuk merumuskan program sosial di Jawa Barat. Berbekal pengalaman studi yang ia dapat di Australia dan jejaring serta kerjasama dengan lembaga disabilitas di Indonesia, salah satu hal yang ingin ia usulkan adalah desa inklusi di Jawa Barat.

Selain mendapatkan kesempatan menimba ilmu dari kampus ternama di Australia, kesempatan menimba ilmu di negeri kanguru juga memberikan manfaat lain. Ia belajar banyak tentang budaya Australia, makanan yang berbeda, musim yang tidak sama dengan Indonesia dan yang utama adalah fasilitas dan akomodasi bagi difabel baik di tempat publik maupun di lingkungan universitas.

“Saya diberi kursi roda elektrik untuk memudahkan mobilitas keseharian tidak hanya di kampus, namun juga di luar kampus. Selain itu, misal untuk mahasiswa difabel netra, mereka diberi peralatan teknologi pendukung belajar dan pendukung kehidupan sehari-hari,” ia menjelaskan.

Bahasa Inggris sebagai Momok Utama

Baginya, salah satu tantangan awal adalah penguasaan bahasa Inggris. Ia paham bahwa kemampuan bahasa Inggris bisa semakin mendukungnya dalam mengenyam studi S2 di Australia.

Writing bahasa Inggris yang benar-benar menjadi momok bagi saya. Saya juga masih terus didorong untuk menulis,” ungkapnya.

Ia kemudian belajar bahasa Inggris dari menonton film, mendengarkan radio dan banyak praktik berbicara di depan cermin. Baginya, metode tersebut sangat membantu.  

Ia juga mengaku digenjot untuk membuat rangkuman artikel, terutama setelah dinyatakan diterima.

“Beasiswa AAS ini memberikan persiapan bahasa Inggris untuk tes IELTS dan sebagai persiapan sebelum keberangkatan. Bagi saya, persiapan tersebut sangat membantu,” ujarnya.

Suami Ikut dan Merasakan Banyak Pengalaman Baru

Salah seorang peserta Kulwap bertanya tentang boleh tidaknya keluarga untuk ikut. Pertanyaan ini langsung ditanggapi oleh Cucu dengan dibolehkannya keluarga untuk ikut. 

“Suami saya ikut ke Australia dan ia merasakan banyak pengalaman baru yang tidak banyak didapat di Indonesia,” tuturnya.

Suaminya adalah pengguna kursi kursi roda juga. Ia juga pelukis dengan menggunakan mulut. Selama di Australia, ia sangat menikmati masa melukisnya, berteman dengan teman-teman baru sesama difabel, ikut klub olahraga dan kursus bahasa Inggris gratis.

Suaminya juga pernah mengadakan pameran lukisan tunggal dari karya-karyanya. Hal yang paling menarik bagi ia dan suaminya adalah kesempatan untuk bisa jalan-jalan jauh hanya berdua, sebuah hal yang tidak mudah dilakukan di Indonesia.

“Kami berdua pengguna kursi roda dan bisa melakukan wheelchair backpacker. Hal itu sangat menyenangkan,” ia bercerita.

Ia menghimbau para peserta Kulwap untuk terus mencoba mendaftar berbagai macam beasiswa bagi difabel karena peluangnya sangat besar. Selain itu, manfaat yang didapat juga sangat banyak dan bisa digunakan untuk mengadvokasi kepentingan difabel di Indonesia. [Yuhda]

The subscriber's email address.