Lompat ke isi utama
seorang difabel netra sedang berjalan menggunakan tongkat putih

Alat Bantu bagi Difabel Netra dan Minimnya Pemahaman Masyarakat yang Menyertainya

Solider.id Yogyakarta - Kelompok difabel sebagaimana di pahami selama ini sebagai kelompok yang memiliki kemampuan yang berbeda, tentu saja mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Perbedaan tersebut paling mudah di jumpai ketika para difabel harus menggunakan alat bantu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Alat bantu yang jamak dijumpai misalnya kursi roda bagi difabel kinetik, alat bantu dengar bagi Tuli, dan tongkat bagi difabel netra untuk berjalan.

Alat bantu tersebut harus di pahami sebagai bagian tubuh dari difabel. Hal ini karena alat bantu yang digunakan oleh para difabel ibarat pengganti dari organ tubuh yang tidak mampu digunakan. Tongkat yang digunakan difabel netra untuk berjalan ibarat pengganti mata yang berfungsi memberikan kemudahan saat berjalan, sebagaimana kursi roda adalah pengganti kaki bagi difabel kinetik.

Fungsi alat bantu yang digunakan oleh  difabel ini nampaknya belum banyak dipahami oleh berbagai kalangan. Pengalaman yang saya alami sebagai seorang difabel netra yang menggunakan tongkat untuk bermobilitas mengatakan demikian. Ada orang yang mengganggap tongkat yang saya gunakan untuk bermobilitas adalah alat bantu bagi orang yang mengalami cidera kaki. Selain itu bahkan ada orang yang mengganggapnya sebagai tongkat narsis (tongksis) untuk berfoto, bahkan ada yang mengkhawatirkannya sebagai alat yang diduga perangkat teroris.

Pengalaman yang saya alami itu terjadi di berbagai tempat yang sayangnya menunjukan bahwa ketidak pahaman mengenai hal ini bersifat multi sektoral. Ketidak pahaman tersebut saya jumpai dari mulai lingkungan yang ada di perguruan tinggi, masjid, dan masyarakat pada umumnya.

Pengalaman yang pernah saya alami mengenai ketidak tahuan masyarakat di lingkungan perguruan tinggi pernah terjadi saat saya menjadi mahasiswa baru. Ada rekan yang mengira bahwa tongkat yang saya gunakan adalah tongkat yang berfungsi untuk membantu seseorang yang cidera kaki akibat kecelakaan.

Melihat fakta ini, kita dapat membuktikan bahwa dalam lingkungan akademik sekali pun masih ada yang memiliki ketidak pahaman mengenai difabel, jika tidak ingin mengatakan masih banyak. Padahal sangat jelas bentuk dari tongkat yang digunakan oleh difabel netra dan tongkat yang digunakan oleh  orang yang sedang mengalami cidera kaki sangatlah berbeda.

Sementara itu pengalaman lain dalam pergaulan masyarakat sehari-hari yang saya sering menjumpai bahwa tongkat yang saya gunakan sering di anggap sebagai tongkat narsis (tongkat narsis) yang biasa digunakan untuk berfoto. Terkait pengaalaman ini, saya menemuinya mulai dari tempat pemberhentian Bus, warung dan ruang publik lainnya. Jika diperhatikan sekilas memang tongkat narsis dan tongkat yang digunakan oleh difabel netra memiliki kemiripan, namun jika diperhatikan lebih lanjut keduanya memiliki kegunaan dan fungsi yang berbeda.

Pengalaman saya yang terbaru saat saya menunaikan shalat di sebuah masjid juga tidak kalah menarik. Tongkat yang saya gunakan bahkan sempat dianggap menyerupai bom oleh salah satu orang. Besi tongkat yang dapat dilipat disangka menyerupai pipa yang kerap digunakan sebagai media pengeboman, sementara elastis yang menyambungkan besi-besi penyusun tongkat dianggap  sebagai kabel yang menghubungkan bahan peledak. Alhasil saya harus menjelaskan bahwa tongkat yang saya gunakan adalah alat yang digunakan oleh para difabel netra untuk bermobilitas. Hal ini memang menunjukan kewaspadaan masyarakaat terhadap aksi terorisme, selain juga menunjukan ketidak pahaman mengenai alat bantu difabel yang seharusnya dianggap sebagai bagian tubuh dari difabel.

Pengalaman-pengalaman yang saya alami menunjukan bahwa ketidak pahaman masyarakat mengenai kegunaan dan fungsi alat bantu difabel masih terjadi. Ironinya hal itu terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari lingkungan akademik hingga lingkungan peribadatan.

Faktor Penyebab Ketidak Pahaman.

Faktor yang dapat di katakana sebagai penyebab dari adanya ketidak pahamaan masyarakat terhadap difabel adalah minimnya aksesibilitas bagi difabel di ruang-ruang publik. Penelitian yang dilakukan oleh Slamet Tohari yang dipublikasikan dengan judul “Pandangan Disabilitas dan Aksesibilitas Fasilitas Publik bagi Penyandang Disabilitas di Kota Malang”  di Indonesian Journal of Disability Studies menunjukan relasi antara minimnya ketersediaan aksesibilitas di ruang-ruang publik dengan ketidak pahaman masyarakat terhadap difabel.

Penelitian yang dilakukan oleh Slamet Tohari ini menghasilkan data yang menyatakan bahwa ruang-ruang publik di Malang tidak menyediakan aksesibilitas bagi difabel sessuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mana juga berimplikasi pada minimnya interaksi sosial antara difabel dan nondifabel. Tercatat 97% fasilitas publik di Malang tidak memasang guiding blok bagi difabel netra, 85% tidak menyediakan ramp bagi pengguna kursi roda, dan 83% tidak menyediakan kamar mandi bagi difabel. Selain itu penelitian ini juga menyatakan bahwa 75% tempat ibadah tidak aksesibel. Ada pun sektor pendidikan yang menjadi sektor penting saat ini ternyata 84% diantaraanya tidak menyediakan aksesibilitas.

Slamet Tohari dalam tulisannya itu mengatakan bahwa kelompok difabel mengalami isolasi sosial karena minimnya aksesibilitas yang tersedia. Minimnya aksesibilitas menjadi sebab difabel jarang di jumpai di ruang-ruang publik sehingga berujung pada minimnya pemahaman masyarakat karena tidak pernah berinteraksi.

Pernyataan Slamet Tohari tersebut di dukung oleh data yang ada dalam penelitian tersebut. Terhitung hanya 30.85% warga Malang yang pernah menjumpai difabel di ruang-ruang publik. Sisanya mengatakan bahwa perjumpaan dengan difabel terjadi di panti pijat, rumah-rumah tetangga dan tempat kerja.

Relasi antara minimnya aksesibilitas dengan minimnya pemahaman terhadap difabel  terbukti dengan adanya pemahaman masyarakat Malang sejumlah 37% yang menganggap difabel tidak sempurna dan 24% mengganggap difabel perlu dikasihani. Data ini sesungguhnya sudah cukup menggambarkan bagaimana pemahaman masyarakat terhadap difabel yang tentu saja juga berkorelasi dengan pemahaman masyarakat terhadap alat bantu yang digunakan oleh difabel.

Sayangnya, data ini di peroleh di kota Malang yang notabene adalah kota yang pernah ditetapkan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan sebagai kota pendidikan inklusif, selain juga menjadi lokasi berdirinya salah satu Universitas yang mempelopori implementasi pendidikan tinggi inklusif yaitu Universitas Brawijaya. Jika fakta ini dijumpai di kota terbeesar kedua di Jawa Timur dan kota yang pernah ditetapkan sebagai kota pendidikan inklusif, lalu bagaimana dengan kota yang bukan merupakan kota pendidikan inklusif? (Tio Tegar)

The subscriber's email address.