Lompat ke isi utama
 30 difabel hadir dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Solo Bersimponi

Solo Bersimponi Gandeng Difabel Sebagai Agen Toleransi dan Kesalehan Sosial

Solider.id, Surakarta - Solo Bersimponi adalah sebuah lembaga berbentuk perkumpulan dan saat ini berfokus pada isu toleransi dan keberagaman dengan melibatkan tiga segmen masyarakat rentan seperti perempuan, anak-anak dan difabel.

Bertempat di rumah dinas wakil walikota, Solo Besimponi memfasilitasi 30 difabel dalam diskusi dan pertemuan rutin yang bertajuk “Difabel sebagai Agen Toleransi”. Meski belum didaftarkan secara resmi ke Kesbangpol, namun Perkumpulan Solo Bersimponi yang diluncurkan pada 13 Mei 2018 mendapat dukungan dari Pemkot Surakarta. Demikian dikatakan oleh salah seorang pejabat di Kesbangpol yang hadir dalam diskusi, Rabu (8/8)

Rizki, difabel netra mahasiswa IAIN Surakarta mengatakan bahwa dengan adanya Solo Bersimponi maka ini salah satu wadah difabel untuk meniadakan sekat yang ada pada dirinya, dan ajang berbagi pengalaman dalam bentuk diskusi serta bersama-sama menyusun langkah masa depan, akan seperti apa. “Saya berharap komunitas ini memiliki tindak lanjut kegiatan,”harapan Rizki yang disampaikan kepada Solider.

Raka Nur Mujahid Amrullah, peserta diskusi, Tuli asal Solo yang berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berbagi pengalamannya kepada peserta tentang diskriminasi yang dialaminya. Raka pernah mengalami tindakan persekusi dengan dikatakan sebagai “Cina” sebab memiliki bentuk mata yang sipit. Dia juga mengalami perundungan, sebab banyak sekali orang-orang di sekitarnya yanng belum memiliki kesadaran tentang keberadaan Tuli.

“Contohnya adalah ketika saya bertanya kepada orang non Tuli tentang sesuatu, orang itu malahan merasa malu. Dan bagi orang Dengar, jika dia bisa bantu nggak usah menyombongkan diri. Mereka yang peduli tetap bisa Tuli jadikan teman. Jadi jangan berlebihan,” terang Raka yang diterjemahkan oleh relawan Deaf Volunteer Organization (DVO).

Berbeda lagi dengan Komang Somawati, difabel daksa dengan alat kruk, bahwa ketika kecil dia tidak mengalami tindakan diskriminasi dari orangtua, keluarga maupun masyarakat setempat. Perempuan yang memiliki dua anak perempuan yang beranjak dewasa dan lama tinggal di Bali itu justru mengalami tindakan buruk ketika dirinya telah menikah lalu menjalin hubungan keluarga dengan besan (keluarga fihak suami). “Karena ini kan saya mengalami tambah keluarga ya, seperti memiliki ipar dan lain-lainnya, nah, justru di saat itulah masalah mulai muncul satu per satu,”demikian curahan hati Komang di hadapan para hadirin.

Yatmin, difabel daksa dan muslim yang pernah bersekolah di sekolah milik yayasan mayoritas siswanya beragama Kristen dan Katolik bercerita tentang pengalaman baik yang dijalaninya. “Meski saya seorang minoritas di zaman itu, saya tidak pernah mengalami hal-hal buruk, perundungan dan semacamnya. Semua teman menghormati saya secara setara dengan yang lainnya,”ungkap Yatmin. Menurut Yatmin praktik-praktik seperti itu perlu digali dan dikembangkan lagi.

Risca Dwi Jayanti dari Solo Bersimponi kepada Solider menerangkan bahwa diskusi siang itu tak hanya bisa dimaknai sebagai sekadar sesi curhatan, namun juga partisipasi aktif difabel serta untuk penggalian data difabel, melalui pertanyaan-pertanyaan berupa kuisioner yang dibagikan dan harus diisi. Pertanyaan tersebut terkait dengan isu toleransi, tentang pengalaman difabel, apa yang telah dilakukan dan akan dikerjakan beserta tawaran program bagi kelompok difabel. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.