Lompat ke isi utama
Salah satu karya Hepi dalam Pameran ke-9 Perspektif.

Pameran ke-9 Perspektif : Butuh Dukungan Keluarga untuk Mengubah Stigma

Solider.id, Yogyakarta - Selalu melibatkan peran semua pihak, terutama dukungan orangtua terhadap anak-anak difabel memegang peran penting ketika mereka berekspresi seni rupa. Karena dengan demikian seluruh anggota keluarga yang memiliki anak difabel dapat terlibat penuh menjalin komunikasi yang intens. Itu yang terjadi dan dialami anak-anak difabel yang tergabung dalam Perpsektik yang saat ini hingga 12 Agustus nanti berpameran di Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Seperti yang dialami oleh Hepi, dikutip di katalog yang dibagikan saat pameran yang dibuka oleh Gubernur DI. Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 pada Rabu (8/8), keluarga berperan penting mendampingi serta membantu tatkala dia harus mewujudkan karyanya, yang berbahan dasar bambu.

Hepi mengeksplorasi potongan bambu beraneka ukuran satu demi satu untuk direkatkan bersama. Dengan bantuan ayahnya yang menggergaji bambu, lalu menempel, merakit potongan, kemudian memilih jenis lem, merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi Hepi Nafisa Mukholifah, Tuli, murid SD LB kelas 2 dan tinggal di Candiwinangun, Ngaglik, Sleman.

Cerita lain didapat Solider dari tuturan Muhammad Irsyad Hadyan, siswa SLB N 1 Yogyakarta. Hadyan yang memamerkan tiga karya bertema titik, membutuhkan waktu intensif selama lima hari hingga mendapatkan hasil maksimal yang dikehendakinya, setelah sekian waktu dia belajar dengan proses kala penciptaan sepulang sekolah. Pameran ini adalah yang pertama diikutinya dan dia merasa sangat bangga. Difabel intelektual ringan yang saat pembukaan pameran merasa senang, ada 10 guru yang hadir saat itu, mengatakan bahwa dia ingin terus berkarya, kembali mengeksplorasi titik seperti karya-karya yang lain.

Titik Menjadi Karya Apa Pun, Eksplorasi Titik Membangun Percaya Diri

Agoes Widhartono dari Perspektif, yang ditemui saat acara pembukaan pameran, kepada Solider mengatakan bahwa ada salah seorang anak difabel yang semula ‘disembunyikan’ oleh keluarganya. Anak tersebut tidak diajak untuk bersosialisasi, namun setelah bergabung dengan Perspektif, yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, perlahan-lahan anak tersebut mampu untuk berkarya seni, bereksplorasi karya dengan tema titik. “Anak ini sekarang beda sekali dengan waktu kami berjumpa pertama dulu. Dia periang, dan tidak minder dengan kawan-kawannya. Perspektif mampu  membongkar paradigma orangtua anak itu. Lalu kami bersama orangtua dan anak difabel mengubah stigma. Contoh kecil yang ditunjukkan sore ini adalah, karya anak difabel dipajang dan dipamerkan serta dia dan kawan-kawan lain bisa berfoto bersama Bapak Gubernur, ”ujar Agoes.

Anak-anak yang tergabung dalam Perspektif ada beragam difabilitas ; Tuli, daksa, intelektual, dan downsyndrome,. Setiap anak dapat dengan mudah untuk membuat titik dengan jari tangan, dengan pewarna kue lokal, juga menyusun titik dengan bahan kerikil, biji-bijian, bunga kering, kerang, buah, koran bekas dan jerami serta menik-manik. Pada awal bergabung ada tujuh anak lalu sejak 2016 bertambah anggota baru sebanyak 15 anak downsyndrome. Rentang usia mereka 4 sampai 23 tahun, dari yang masih duduk di PAUD sampai mahasiswa, berbagai latar belakang keluarga, wiraswasta, guru, ASN, pedagang dan dokter.

Perspektif bukan merupakan sebuah sanggar atau organisasi, meski untuk kelancaran komunikasi dibentuk kepengurusan. Sedang sifat keanggotaan luwes adanya, tidak ada tuntutan untuk memenuhi kepatuhan tertentu karena pada prosesnya masing-masing anak memiliki keunikan sendiri dan Perspektif menghargai itu. “Kepengurusan Perspektif adalah tim inti, core team, yang berasal dari berbagai latar belakang seniman, pegiat HAM dan jurnalis yang mendedikasikan waktunya bersama anak-anak difabel melakukan kegiatan seni rupa,”terang Sri Hartaning Sih, Ketua Perspektif pada pameran ke-9 dan aksesibel bagi difabel netra dengan penyediaan caption dalam bentuk braille, serta relawan bisik tersebut. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.