Lompat ke isi utama
Sutiyah sedang berpose di rumahnya

Sutiayah, Jadikan Ejekan Sebagai Pelecut Impian

Solider.id, Gunungkidul- Desa Dadap Ayu, tepatnya Dusun Pok Dadap Rt 02 Rw 10, Semanu, menjadi dusun yang berada di ujung paling selatan desa Semanu. Letaknya yang terpisah dari keramaian, di bentang berpetak hutan, membuat siapapun yang hendak menuju ke sana bertanya penuh keraguan. Sebab, tak sedikitpun nampak ada dusun atau pedesaan. Harus melewati berkelok-kelok jalan dengan tanjakan. Pemandangan berhektar hutan jati dengan daun yang meranggas kekeringan, jalanan sepi, batu-batu cadas yang berdiri kokoh.

Sebuah papan nama bertuliskan Audy Modiste jadi penanda bahwa kita telah sampai pada sebuah tujuan. Satu-satunya modiste yang ada di daerah Semanu yang menerima segala macam jenis jahitan, untuk anak-anak, pria dan wanita.

Hari itu, Si Pemilik, sahabat difa menyambut dengan paras sederhana penuh keramahan. Sosoknya sedikit membungkuk karena bertahun ditopang sepasang kruk sebagai alat penyanggah tuuhnya. Ia menjabat erat.

Sutiayah, nama yang sudah dikenal sebagai aktivis difabel di Gunungkidul. Tak ada yang mengira bahwa di balik tampilan keibuan, ia juga atlit angkat berat yang tergabung di National Paralympic Coommittee (NPC) Gunungkidul.

Perempuan asli Malang, Jawa Timur, kelahiran 4 Juni 1984 ini adalah Ibu dari Elvito Audy Dhaniswara. Aktifitas kesehariannya melayani masyarakat sekitar dengan membuka usaha jahitan. Sesekali ia juga menerima pesanan cetak foto dan undangan yang ia lakukan sebagai bentuk kerja sama dengan teman “Difa” lainnya agar bisa berbagi pengalaman.

Bagi Sutiayah, masa kecil adalah masa yang tak mudah dilupakan. Masa di mana ia dirawat keluarga dengan penuh kesabaran, hingga kemudian dari sang Ibu, ia tahu bagaimana awal mula mengalami folio dan kesulitan berjalan. Di ruang depan rumah sederhananya, sambil beberes menyelesaikan jahitan, ia dengan santai bercerita tentang kenangan masa kecilnya di mana dulu ia tinggal.

“Saya mengalami folio pada usia tiga tahun. Demam tinggi dibawa ke dokter dan diberi suntikan. Karena setelah disuntik kondisi saya tidak membaik, kaki malah makin kecil dan melemah, dari situ ketahuan kalau saya folio. Jaman saya kecil dulu tidak ada yang namanya sakit dibawa berobat lalu menuntut dokter,” kisahnya (18/07).

Sutiayah mulai mengemas jahitan. Merapikan kain yang semula ia hamparkan, ia kembali menceritakan tentang sang Ayah yang sedikit paham tentang ilmu pemijatan. Sang Ayah sangat telaten memberikan terapi secara mandiiri untuk Suiyah. Ayahnya yang berprofesi sebagai tukang kayu bahkan membuatkan sendiri sebuah alat bantu untuk latihan berjalan.

“Diledek teman bukan hal aneh yang saya rasakan. Di sekolah saya dibilang robot gara-gara brisk yang saya gunakan. Tapi bagi saya itu juga bukan hal yang menyakitkan.” Saat jadi bahan ledekan, terkadang Sutiayah juga melepas brisk dan mencobakan pada teman-temannya.

“Apa kamu mau pakai alat robot ini? Nih, kalau kamu mau pakai saja, saya juga tidak mau memakainya.” Kalimat itu Sutiayah gunakan agar teman-temannya paham, brisk juga membuatnya ribet berjalan.

Senyum getir ia ulaskan saat mengenang masa sekolah yang jadi bahan ledekan. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa orangtua tak pernah memberinya ijin keluar rumah atau bahkan pergi sekolah. Orangtua tak tega ia dicela dan jadi bahan ejekan. Namun kemudian Sutiayah menggeleng pelan.

“Karena faktor ekonomi usia tujuh tahun saya belum sekolah. Usia 8 tahun belum sekolah membuat saya malu bertemu teman karena tidak sekolah. Oleh kepala SLB yang ada di daerah saya, orangtua disuruh untuk mendaftarkan. Tapi karena Ibu membantu Bapak bekerja, alasan utamanya tidak ada yang mengantar saya sekolah karena jarak sekolah yang jauh dari rumah,” lanjut Sutiayah.

Sutiayah merasa bersyukur saat orangtuanya mendaftarkan sekolah. Usia Sutiayah sudah 9 tahun saat duduk di bangku SD. Meski dekolah pada waktu itu belum inklusif, ia bertekat untuk mendaftar di sekolah umum. Dari tekad kuatnya, ia bisa menjadi juara kelas dan mendapat penghargaan dari sekolah berupa bebas biaya sekolah.

Sutiayah melewatkan jenjang pendidikan hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, karir singkat itu tak menyurutkan niatnya untuk belajar lebih banyak. Rasa ingin tahu dan tinggi dengan minat belajar mengantarnya untuk berani meninggalkan kampung halaman.

“Awalnya orangtua tidak setuju. Mereka kepikiran. Setiap hari kalau di rumah dilayani, lha ini kok malah mau pisah katanya mau belajar mandiri. Nanti kalau mau apa-apa bagaimana?” Sutiayah menceritakan kegelisahan yang sempat dialami orangtuanya saat akan ia tinggalkan.

Suityah membuat kerajinan bunga plastik dari sedotan yang ia jual pada tetangga sekitar, dari sana ia mulai belajar bagaimana mengelola keuangan. Berbekal uang tabungan hasil menjual bunga dari sedotan, Sutiayah nekad berangkat ke sebuah yayasan untuk menambah ketrampilan. Memilih bidang jahit menjahit yang ia ikuti dari kelas dasar hingga kelas lanjutan.

Setelah lulus Sutiayah membulatkan tekadnya untuk tidak kembali ke desa kelahiran. “Kalau saya kembali ke Malang, saya tidak akan maju. Kakak saya memberi proteksi yang berlebihan. Ia selalu melihat saya dengan kasihan. Semua kebutuhan saya dia yang menyiapkan. Keputusan saya sebelum keluar dari yayasan saya sudah harus mendapat pekerjaan.”

Sampai skemudian ia memilih bertahan di Yogyakarta yang juga mempertemukannya dengan seorang pria yang kini menjadi suaminya. FX. Hartono, (52 tahun) sesama difabel daksa yang kemudian menyunting dan membawanya ke pelaminan.

“Honor yang saya dapatkan tidak seberapa. Tapi buat saya itu tidak masalah karena saya tidak perlu berpikir tentang  kebutuhan. Yang penting saya bisa kerja, dapat makan dan numpang tidur di rumah majikan. Dari makan sampai perlengkapan mandi semua sudah dicukupi.” Seperti remaja lain yang bangga punya penghasilan sendiri, Sutiayah tak butuh gaji banyak sebagai imbalan. Motivasi kerjanya ingin menambah pengalaman.

Kini, meski menjahit tetap menjadi satu-satunya mata pencaharian, di sela kesibukan sebagai pengurus beberapa organisasi difabel, Sutiayah selalu menyediakan waktu mengurus putra tunggalnya.

Selain itu, ia bersiap menghadapi Peparnas 2019 di Irian, perempuan riang ini juga mematok target di bidang olahraga angkat berat yang ditekuninya. Setiap sore usai mengurus segala kebutuhan rumah, Sutiayah akan berangkat latihan di daerah Playen. Penuh perjuangan tak gentar ia mengalahkan medan terjal. Pulang latihan menerobos hutan baginya juga bukan rintangan. Melibas gelapnya malam Sutiayah ingin meraih prestasi demi mimpi yang belum bisa ia wujudkan.

“Maju di Peparnas dengan target medali emas. Harapannya dari bonus yang saya peroleh bisa mewujudkan keinginan saya. Saya ingin membuka toko kain dan baju. Di toko tersebut konsumen yang belanja kain bisa langsung dilayani bila hendak menjahitkan. Tenaga jahitnya saya memakai jasa teman-teman difabel,”

Sutiayah berkisah tanpa memperlihatkan wajah lelah, sementara setiap hari ia melayani Ibu mertua yang mengalami stroke sejak tujuh tahun silam.

“Dalam merawat Bapak dan Ibu mertua tidak ada yang istimewa, itu biasa karena mereka juga orangtua saya. Kalau saya lagi ingin marah ya marah. Bukan hal yang aneh karena lebih baik mereka melihat dan mendengar ungkapan kemarahan saya daripada mereka melihat raut muka yang tidak menyenangkan.”

Sutiayah memang selalu berwajah cerah. Logat khas Jawa Timur yang meriah di setiap tutur yang ia sampaikan. Rasa syukur ia wujudkan dalam kesederhanaan meski dengan penghasilan yang tak bisa dipastikan. Karunia kesehatan baginya sudah menjadi kecukupan untuk bisa menjemput rejeki dari pelanggan.

Pelanggan jahit Sutiayah dari para tetangga dan warga sekitar yang hanya musiman. Pesanan akan banyak jika di hari raya lebaran atau awal masuk sekolah. Sementara dari Audy Modiste sendiri penghasilannya mencapai rata-rata Rp. 700 ribu sampai Rp. 1.2, juta. Ia mengaku, pengasilan tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari jika hanya mengandalkan dari usaha jahit. “Banyak nomboknya karena untuk biaya makan, apalagi anak masih kecil dan sekolah.” Tersipu dalam tawa yang disembunyikan, Sutiayah mengaku malu saat menceritakan bahwa pengeluarannya lebih banyak dari penghasilan yang ia dapatkan.

Jika sedang tak ada pekerjaan, ia akan menempuh perjalanan jauh mengambil tawaran pekerjaan untuk dibawa pulang. Kadang pekerjaan menjahit bermacam seragam ia dapat di wilayah Gunungkidul, meski kebanyakan ia dapat dari teman-temannya di wilayah Bantul.

Terus berprestasi dalam segala bidang menjadi motto hidup yang ia pegang. Sudah merasa kenyang dengan ejekan, Sutiayah menjadikan semua itu sebagai pelecut meraih impian.

“Kalau selama ini saya diejek ya mungkin saya memang pantas diejek. Saya hanya akan tunjukkan bahwa saya tidak seburuk yang mereka sangka. Dan saya juga akan membuktikan bahwa saya mampu berprestasi, melakukan apa yang bisa dilakukan orang lain.”

Sutiayah mantap menggapai harapan. Menitip salam pada sesama difabel agar tak pernah malu bergabung dalam kegiatan, Sutiayah seolah ingin menyampaikan pesan jangan pernah menyerah di segala keadaan.

Sebagaimana ia yang lincah mengendarai motor roda tiganya menembus hutan, Sutiayah tengah gencar dalam kegiatan Saya Perempuan Anti Korupsi atau SPAK. Ia juga bergabung di Himpunan Wanita Difabel Indonesia (HWDI) kabupaten Gunungkidul dan aktif di Forum Komunikasi Difabel Gunungkidul (FKDG) telah mengajarkannya banyak pengalaman. [Yanti]

The subscriber's email address.