Lompat ke isi utama
Ilustrasi bergambar telinga

Tindakan Pelecehan Seksual dan Minimnya Informasi untuk Tuli

Oleh Raka Nurmujahid

 

Solider.id- Belakangan ini, saya membaca artikel-artikel yang berisi tentang kasus pemerkosaan dan berbagai kejahatan seksual yang mengancam masa depan kaum hawa yang memiliki hambatan pendengaran dan Hard of Hearing (HoH). Saya juga pernah membaca sebuah buku tanpa judul (karena saya lupa judulnya) yang berisi tentang difabel di provinsi Jawa Tengah.

Buku tersebut berisi tentang modus dan jumlah kasus kejahatan yang sering menyerang kaum difabel, seperti pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya. Di dalamnyam terdapat artikel yang memuat tentang kisah korban perempuan Tuli. Perempuan tersebut merasa ada hal yang ganjil dengan kondisi perutnya yang semakin membesar. Mengetahui itu, ia memiliki niatan untuk memberi tahu orangtuanya. Namun, ia mengurungkannya karena takut dan memilih menyembunyikannya.

Selain itu, disebutkan dalam artikel ada pula korban yang ketakutan karena diancam oleh pelaku jika berani melapor pada orangtua atau polisi. Hasilnya, si korabn memilih tidak melapor. Ada masih banyak kisah-kisah mengerikan yang terdapat di buku tersebut.

Bagi saya, tindakan kekerasan seksual terhadap perempuan difabel sangat tidak manusiawi. Terutama kita tahu, perempuan difabel ataupun difabel rentan akan hal tersebut. Secara fisik, semisal, daya seorang perempuan tidak lebih kuat dari perempuan nondifabel. Sehingga pelecehan seksual dan tindakan asusila lebih memungkinkan dialami perempaun difabel yang dapat mengancurkan masa depannya.

Dari berbagai kasus dan fenomena yang saya tangkap. Ada beberapa yang mestinya menjadi perhatian serius pihak-pihak terkait, baik pemerintah ataupun masyarakat secara umum untuk mengentaskan tindakan pelecehan seksual yang terjadi kepada perempaun difabel, khususnya Tuli. Berikut beberapa hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan:

Kurangnya pendidikan seks dengan panduan bahasa isyarat

Kurangnya pendidikan seks terhadap difabel, khususnya Tuli menjadi persoalan yang sangat penting. Pengetahuan tentang seks bagi keluarga semisal, agar bagaimana para orang tua memiliki metode dalam menyampaikan pengetahuan tentang seks kepada anaknya yang memiliki hambatan pendengaran. Sebab, di dalam kehidupan keluarga, berbicara seks masih dianggap tabu.

Sampai sekarang, pendidikan seks banyak digalakkan dalam berbagai bentuk. Misalnya seminar, roadshow, talkshow, dan lain-lain yang bertujuan memahamkan pendidikan seks yang baik dan benar. Serta dapat memberikan perlindungan diri dari ancaman kejahatan seksual.

Namun, hingga sekarang belum ada pendidikan seks dengan panduan bahasa isyarat. Pendidikan seks dengan panduan bahasa isyarat merupakan seluruh materi pendidikan seks akan diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat agar kaum Tuli dapat memahami seluruh materi yang disampaikan.

Anggapan miring tentang pendidikan seks dianggap tabu, tidak sopan, pornografi

Sebagaimana saya singgung di poin sebelumnya, masih banyak orangtua yang memiliki anak Tuli memilih tidak mengajari pendidikan seks untuk anaknya hanya karena dianggap tabu, tidak sopan, dan pornografi. Padahal pendidikan seks bukanlah pornografi, tetapi sebagai bekal pengetahuan agar anak itu tahu mana bagian tubuh tidak boleh diumbar, tidak boleh diraba, tidak boleh disentuh, tidak boleh dilihat, tidak boleh difoto, dan hal-hal sensitif lainnya.

Pengetahuan seks akan menuntun pola pikir si anak dalam kehidupannya. Membuatnya lebih berhati-hati dan menjaga diri. Kekhawatiran orangtua terhadap pendidikan seks memang wajar, karena takut anak itu akan ketagihan menonton hal-hal tidak diinginkan dan bahkan anak malah mencoba.

Akan tetapi, alangkah lebih baik disiapkan berbagai strategi pendidikan seks berdasarkan umur si anak agar dapat diterima dan dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimanapun jika tidak mengajari sama sekali, maka akan menambah kerentanan pada si anak karena tidak memahami pengetahuan tentang seks.

Minimnya informasi tentang pendidikan seks untuk Tuli

Selain dari keluarga atau lingkungan terdekat, informasi terkait pendidikan seks juga bisa didapat dari luar, seperti internet, media sosial, dan lain sebagainya. Juga ada beberapa buku yang mengulas banyak tentang pendidikan seks.

Namun, dari sekian ruang tersebut, masih minim yang dapat diakses Tuli. Padahal para orangtua dapat mengajari anak Tuli dari berbagai ruang alternatif tersebut, termasuk juga Tuli yang belum mengetahui banyak tentang pendidikan seks.

Hal tersebut juga bergantung pada pemahaman masyarakat. Di titik ini bagaimana peran pemerintah memberikan edukasi terkait aksesibilitas informasi tentang pendidikan seks di ruang-riuang alternatif. Sehingga, selain memberikan pemahaman tentang pendidikan seks, juga dapat memberi pengetahuan tentang difabilitas.

 

 

*Penulis merupakan anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo.

The subscriber's email address.