Lompat ke isi utama
Untung Subagyo sedang mengangkat medali emas yang ia raih

Si Jawara Angkat Berat dari Gunung Kidul

Solider.id, Gunungkidul- “Saya ingin mereka bisa berhasil seperti saya. Bahkan bisa lebih berhasil dari saya,” tutur laki-laki berbadan gempur itu berkata dengan nada optimis (04/07). Ia sukses menjadi atlet nasional cabang angkat berat dan kini tergerak melatih para atlet muda.

Siang itu, roda-roda besi berserak rapi di tepi, sementara beberapa stik panjang terlihat di lain sisi. Suasana akrab terasa lekat dengan kekeluargaan, kontras dengan bebungaan yang terpajang di sudut mini gelanggang.

Iringan lagu dari radio menambah semangat mereka yang sedang berlatih angkat berat. Beberapa di antara mereka mengangkat pasir dan batu, berusaha membuat sepetak jalan. Mereka sedang bekerja bakti hendak membuat kamar mandi.Semua tak ada yang tinggal diam, fokus dengan kerja yang mereka hadapi. Di dapur, para perempuan yang tidak latihan turut rembug menyiapkan makan siang.

Begitulah sekilas gambaran sebuah gelanggang olahraga sederhana yang menjadi tempat biasa ia berkumpul dengan kawannya.

Seorang pria, duduk di tanah kering yang semulanya adalah taman. Sebuah kruk yang ia gunakan sebagai alat bantunya saat berjalan tergeletak di sampingnya. Tak banyak kata, pria itu melanjutkan menguruk lubang sambil memecah batu-batu yang disorongkan. Tak ada perbedaan yang dipamerkan. Ia, si pemilik gelanggang yang juga ketua National Paralympic Committee (NPC) Gunungkidul.

“Ini untuk jalur kursi roda menuju kamar mandi,” pria itu berkata.

Meski terkesan cuek, ia menjelaskan sambil terus asik memukul batu hingga pecah bercecer. Ia tidak menghiraukan terik siang yang menyengatnya. Ia merasa senang melihat atletnya bersemangat dan melakukan kerja dengan riang. Sementara itu, atlet lain terus menyiapkan diri dengan mengangkat berkilo-kilo roda besi.

“Pada dasarnya hidup harus mandiri. Jangan berpangku tangan atau mengharap bantuan. Lakukan semuanya sendiri agar kita lebih mandiri,” ia kembali berkata. Suaranya tegas, ia ingin memberlakukan hal itu pada siapapun yang ingin belajar dan berlatih dengannya. Totalitas kerja yang ia lakukan tak hanya demi memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga ingin mengajarkan bagaimana cara sukses meraih masa depan.

Pria itu bernama Untung Subagyo, seorang daksa (folio) kelahiran Gunungkidul, 2 Desember 1976. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang “ringan tangan,” begitu di mata orang-orang. Bagi kawan dan para atletnya, ia sosok yang penuh kepedulian.

Kalimatnya tegas juga lantang, meski bisa dibilang sumbang bagi mereka yang kurang dekat mengenalnya dalam keseharian. Ia sangat merasa anti dengan ketidakadilan yang membuatnya berang. Ia siap memasang badan bersama Komite Advokasi Penyandang Cacat Indonesia (KAPCI) yang ia organisir. Ia senantiasa memberi dukungsn dan motivasi kepada kawan-kawannya. Memberi contoh langsung pada para atlet yang berlatih di gelanggang yang ia miliki.

Aktifitas siang itu, merupakan praktik baik yang dilakukannya. Ia menjadikan teras belakang rumahnya sebagai lokasi berlatih sekaligus gelanggang. Ia berharap gelanggang tersebut menjadi wadah oengabdian para atletnya.

Sihono Kulon Rt 34 Rw 6, Logandeng, Playen, Gunungkidul, adalah lokasi yang ia pilih menjadi bukti kecintaan pada profesi yang ia jalankan, olahraga angkat berat. Olahraga yang sudah ditekuninya sejak di masa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Tempat ini saya dirikan demi memudahkan teman-teman latihan,” tegas Untung.

Menurut Untung, jika sebelumnya para atlet dikenakan biaya latihan sebesar Rp. 25.000 untuk setiap kali latihan, dengan adanya gelanggang yang ia buat siapapun bisa berlatih tanpa biaya. Hal ini ia lakukan mengingat saat muda, ia harus merogoh kantong dengan cukup mahal untuk bisa latihan angkat berat.

Berbekal bonus yang ia dapatkan saat meraih medali emas dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2012 di Riau, sengaja ia membeli alat dan perlengkapan untuk berlatih angkat berat. Dari sinilah ia memulai perjuangan mencari bibit unggulan, melatih calon-calon baru atlet angkat berat yang ingin ia hasilkan.

“Sayangnya tempat ini masih belum dilengkapi penginapan sehingga teman-teman yang berlatih dari luar (kota/kabupaten) tidak bisa beristirahat. Saya berharap suatu saat nanti bisa membuat ruang untuk penginapan para atlet yang berlatih di sini,” Harap Untung di tengah aktifitasnya siang itu.

Untung mendukung para atlet difabel ataupun nondifabel yang beberapadari mereka sengaja datang dari luar kabupaten. “Tempat ini gratis untuk siapapun. Difabel maupun no difabel bebas. Selama mereka patuh pada peraturan yang diterapkan, tidak ada larangan untuk terus latihan,” tutur ayah dua putra ini.

Bagi Untung, tidak ada kata kepenak (sungkan) dalam hidup ini. Setiap mereka yang datang berlatih di tempat ini harus tekun dan bekerja keras, punya kemauan dan tekad. “Tanpa itu semua mereka tidak akan berhasil,” tegasnya.

Untung sering menggunakan honor pribadi untuk mendukung para atletnya. Meski honor yang dihasilkannya dari menjadi tenaga tata usaha di SD Semanu 4, tak cukup honor yang ia dapatkan saat harus membina para atlet yang sudah ia rangkul sebagai keluarga.

Namun ia mengaku berbagai usaha yang dilakukannya untuk mengikat persaudaraan. Seringkali usai berlatih mereka makan bersama dengan lauk seperlunya, bercanda dan berbagi cerita tentang keluh kesah yang ada untuk mencari solusi bersama.

“Untuk memotivasi mereka apapun akan Pak Untung lakukan. Tanpa motivasi, mereka akan merasa ada yang kurang,” tutur Untung tentang bagaimana ia memperlakukan para atlet. Tak  jarang ia membuatkan seragam sendiri dengan dana dari kejuaran yang pernah ia ikuti. Hal itu demi membangun kekompakan dan menguatkan persaudaraan.

“Tapi bersama Pak Untung lebih banyak susahnya daripada gampangnya. Artinya atlet pak Untung tiap hari memang harus dikumpulkan, tiap hari memang harus dimotivasi biar tidak melempem,” tambah Untung. [Yanti]

The subscriber's email address.