Lompat ke isi utama
Riri dan motif batik yang ia  ciptakan

Bahasa Isyarat sebagai Ide Dasar Penciptaan Motif Batik

Description: RiriSolider.id, Yogyakarta - Batik adalah salah satu budaya khas Indonesia yang telah berabad-abad lamanya hidup dan berkembang. Batik menjadi salahsatu bukti peninggalan sejarah budaya bangsa Indonesia. Batik Indonesia ditetapkan sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009 oleh United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Batik memiliki daya tarik sehingga tak jarang di Indonesia kita temui banyak orang yang menggemari batik. Tidak hanya motif batik modern, batik tradisional pun juga banyak yang menyukai tak terkecuali difabel maupun nondifabel.

Indhira Resky Imandari (Riri) salah satu perempuan Tuli, mahasiswi Prodi Pendidikan Kriya angkatan 2014 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), membuat karya batik dengan motif bahasa isyarat sebagai tugas akhir atau skripsi. Kecintaannya terhadap batik dan bahasa isyarat kemudian ia tuangkan menjadi 10 motif batik bahasa isyarat yang ia produksi secara mandiri. Kesepuluh motif tersebut adalah motif bahasa isyarat abjad, angka, I Love You, I Love Batik Indonesia, UNY, Yogyakarta, Semangat, Tepuk Tangan, Jangan Menyerah, dan Oke. Sedangkan teknik pewarnaan yang dia gunakan adalah indigosol, colet, rapid, ditutup malam, celup, naptol, dan kemudian dilorod atau diperas perlahan.

Judul skripsi yang Riri ajukan adalah Bahasa Isyarat sebagai Ide Dasar Penciptaan Motif pada Batik Bahan Sandang untuk Remaja Putri Tuli. Salah satu alasan Riri memilih tema bahasa isyarat karena motif ini belum ada yang membuat dan sebagai bentuk pengenalan atau promosi bahasa isyarat ke masyarakat luas. “Saya memilih sasarannya perempuan karena saya melihat situasinya banyak perempuan Tuli yang mengalami hambatan untuk berkomunikasi sehingga mereka pun terhambat untuk mengekpresikan dirinya”.

Bagi Riri, sebagai perempuan pun harus tetap semangat. Baginya, karya ini diharapkan dapat bermanfaat untuk melestarikan identitas dan budaya Tuli karena banyak sekali komunitas Tuli yang mengalami hambatan contohnya dalam dunia pendidikan. Riri juga menambakan bahwa “80% perempuan Tuli yang ia kenal dalam kondisi lemah, sulit mengekspresikan dirinya.

Ketiga dewan penguji skripsi mengungkapkan kebanggaannya terhadap Riri setelah Riri diberi kesempatan mempresentasikan karyanya selama 15 menit. Riri menyampaikan presentasinya menggunakan bahasa isyarat dengan dukungan dua orang juru bahasa isyarat. “Terus terang saya bangga dengan karya Anda. Saya juga bangga terhadap usaha Anda memperkenalkan bahasa isyarat. Tidak semua mahasiswa tugas akhir bisa presentasi tanpa teks. Sedangkan Anda, Saya perhatikan sejak awal sampai akhir dapat mengemukakan dengan lancar dan detail. Hal ini memperlihatkan Anda sudah mempersiapkan dengan matang”.

Drs. Edin Suhaedin Purnama Giri, M.Pd selaku sekretaris penguji menyarankan agar karya ini dibuat untuk masyarakat umum, tidak terbatas untuk remaja Tuli saja agar tujuan dari pembuatan karya ini juga dapat tercapai. Di akhir sesi ujian skripsinya, Riri menyampaikan kesannya menjadi mahasiswa UNY selama 4 tahun ini. “Pengalaman yang saya dapat selama 4 tahun kuliah disini sangat luar biasa. Saya mendapatkan banyak ilmu disini. Saya juga ingin membuktikan bahwa seorang Tuli pun mampu menempuh pendidikan tinggi”, pungkas Riri. [Ramadhany Rahmi]

The subscriber's email address.