Lompat ke isi utama
Perspektif saat berkumpul siapkan pameran

Dua Perempuan Difabel Berprestasi di Tengah Diskriminasi Ganda

Description: C:\Users\User\Downloads\37231692_1946445135386086_5856886892548587520_n.jpgSolider.id.Yogyakarta. Di tengah diskriminasi sebagai seorang perempuan yang dianggap makhluk lemah, tidak cakap, terlebih terlahir sebagai perempuan difabel, disokong budaya patriarkhis yang kental mengakar, tidak menghalangi dua perempuan difabel berprestasi.

Visioner (berpikir ke depan), pantang menyerah, rendah hati, berdamai dengan keadaan, serta selalu berdiskusi dan membangun komunikasi, menjadi cara dua perempuan difabel tersebut meraih prestasi di tengah diskriminasi ganda yang terjadi.

Salah satu dari dua perempuan dalam tulisan ini ialah, Laksmayshita Khanza Larasati Carita (23), difabel sensorik (Tuli), mahasiswa tingkat akhir Prodi Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Yang telah beberapa kali memamerkan karya seninya hingga ke manca negara.

Perempuan kedua adalah Endang Sundayani (41) difabel fisik pengguna kursi roda, ibu dengan dua orang anak, presenter sebuah stasiun televisi milik pemerintah di Yogyakarta. Di mana dia tidak pernah mengenyam bangku pendidikan sekolah formal.

Diskriminasi berlapis terhadap perempuan difabel, bukan mitos adanya, Laksmayshita dan Endang tidak menampik. Diskriminasi itu nyata adanya, lanjut mereka. “Saya yakin setiap perempuan mengalaminya, terlebih perempuan difabel,” lanjut Laksmayshita.

“Budaya patriarkhis yang kental pada masyarakat Indonesia, yang berkembang di tengah keluarga, makin menyumbang lahirnya sikap diskriminatif terhadap kami, perempuan difabel,” menimpali Endang.

Berdamai dan tersenyum

Bagi keduanya fakta diskriminatif, cukup disikapi dengan berdamai. Dengan demikian setiap bentuk diskrimasi bukan menjadi beban bagi keduanya. Mereka melaluinya dengan senyum, sikap positif, terus berpikir masa depan, mengasah kemampuan, dan mengoptimalkan kesempatan.

Adapun bagi keduanya, kesempatan itu juga bukan datang dengan sendirinya. Melainkan harus diupayakan. Lantas upaya apa yang dilakukan kedua perempuan itu sehingga mampu meraih kesempatan?

Melatih kemampuan yang dimiliki, dan tidak menyia-nyiakan waktu menjadi hal penting bagi keduanya, menjadi prinsip yang pada akhirnya mengantarkan keduanya sebagai perempuan difabel eksis berkesenian, jika boleh saya bilang keduanya berprofesi sebagai seniman.

Laksmayshita, lebih menggeluti bidang seni rupa dan seni gerak (performing art). Adapun Endang lebih menguasai bidang seni suara.

Seni yang mereka geluti telah mengantarkan mereka pada sebuah undangan untuk melakukan pertunjukan seni di manca negara. Berkolaborasi dengan tiga seniman perempuan profesional nondifabel dari Yogyakarta, keduanya akan beraksi panggung di dua negara. Malaysia dan Australia, menjadi dua negara yang akan menyaksikan pertunjukan seni dua perempuan difabel tersebut.

Peran dan dukungan

Pada kesempatan berbincang dengan Solider, Senin (16/7) keduanya menyadari ada peran lain telah mengantarkan keduanya pada kesempatan berharga itu. Ada dukungan yang hadir sehingga kesempatan itu tidak sia-sia.

Perspektif Yogyakarta, salah satunya yang memiliki peran itu. Perspektif, sebuah kelompok sini rupa yang seluruh anggotanya difabel, telah menjadi jembatan bagi keduanya atas hadirnya tawaran pentas (performing art) dari Tutti Arts. Yakni, sebuah organisasi seni dari Negeri Kanguru Australia Selatan.

Orangtua, bagi Laksmayshita menjadi faktor penting yang mengantarkannya hingga kesempatan demi kesempatan hadir padanya. Adapun bagi Endang, dukungan keluarganya yakni suami dan anak-anaknya menjadi hal penting.

Akhirnya, tanggal 4-13 Agustus 2018 menjadi moment penting di mana keduanya akan beraksi panggung di Penang, Malaysia. Selanjutnya pada pertengahan Oktober masih tahun ini keduanya akan memamerkan kebolehannya beraksi panggung di Festival Oz-Asia, Adelaide, Australia.  [harta nining wijaya].

The subscriber's email address.