Lompat ke isi utama
Gedung Indoesia Menggugat Bandung

GIM Bandung, Semakin Akses bagi Difabel

Solider.id, Bandung - Setiap kota yang memiliki Bangunan bersejarah pasti memiliki nilai pariwisata yang nantinya mendatangkan masyarakat untuk berkunjung ketempat tersebut. Gedung Indonesia Menggugat (GIM) merupakan salah satu bangunan bersejarah yang dimiliki Kota Bandung.

Gedung ini merupakan saksi bisu pembentukan bangsa dimulai. Dari Presiden Soekarno harus diadili hingga melancarkan gugatannya. Ruangan dimana Bung karno sebutan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno sempat di adili dan di tahan masih terawat baik. Bukan hanya itu, diruangan pengadilan masih ada meja para hakim, pagar pembatas antara pengungjung dan terdakwa. Selain itu terpampang pula foto-foto Bung karno beserta rekan-rekannya seakan yang datang turut merasakan atmosfer ke masa itu.

Dalam perjalanan sejarahnya, GIM telah beberapa kali beralih fungsi, sempat di jadikan kantor dan sekretariat. Kini di awal 2000an GIM menjadi museum kebangsaan dan ruang publik di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat. Gedung Indonesia Menggugat (GIM) bisa dikunjungi mulai dari pukul 08.00-17.00 WIB di Jalan Perintis Kemerdekaan no 5, Bandung.

Berbicara ruang publik ditambah bangunan bersejarah yang biasanya merupakan bangunan lama rasanya jauh melihat jalur landai hingga toilet aksesibel, kecil harapannya menjumpai yang sudah ramah difabel. Mungkin kurangnya pemerhati sarana dan prasaran yang peduli terhadap difabel atau regulasi yang sudah ada namun tidak berjalan sebagaimana mustinya. Esensi ruang publik, setiap orang dapat mengakses ruang publik tanpa terkecuali.

Penulis yang merupakan Kontributor Solider asal Bandung, sebelum nya mulai apatis sekarang bisa bernapas lega. Sedikit demi sedikit Mengikis stigma negatif tumbuh menjadi sebuah harapan positif dibalik ruang publik bangunan bersejarah identiknya tidak aksesibel, saat ini bisa di jumpai dan dirasakan sarana aksesibel untuk difabel pada bangunan bersejarah yang di jadikan museum dan ruang publik yaitu GIM.

Penulis adalah difabel pengguna kursi roda sempat merasakan dulu susahnya masuk ke bangunan tersebut harus diangkat melewati beberapa anak tangga Karena tidak akses. Namun saat ini kondisinya sudah cukup berbeda, pada awal Juli 2018 dalam kegiatan yang di hadiri puluhan difabel daksa, akan mengupas sisi sarana dan prasarana aksesibilitas di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) mengalami perubahan cukup signifikan menuju ramah difabel, adanya renovasi tanpa mengurangi keaslian bangunan bersejarah dengan demikian esensi sejati ruang publik seutuhnya dapat disemayamkan pada GIM.

Sisi aksesibilitas GIM

Penulis mengawali dari jalur masuk gedung GIM. Terdapat 3 jalur akses masuk ke gedung, dari arah kanan (arah foto) lalu pintu masuk utama ada ditengah dan samping kiri (arah foto). Di bagian samping kanan di sediakan bidang miring (ramp) permanen yang landai namun tanpa adanya penghalang atau pegangan. Pada pintu utama di tengah , Terdapat 3 anak tangga. Untuk memudahkan difabel masuk disediakan ramp portable, namun dari sisi kemiringan cukup curam.

Aspek Aksesibilitas harus memenuhi unsur keamanan, kenyamanan, kemandirian dan kemudahan. Sisi paling nyaman masuk kedalamnya menurut penulis dari sisi kiri (arah foto). Terdapat ramp dengan kemiringan sangat landai, bahan alasnya yang tidak licin dan lebar yang besar lebih dari ukuran kursi roda standar. Selain itu disertai pegangan kanan kiri yang bertujuan memudahkan pengguna tersebut. Bukan hanya untuk pengguna kursi roda, pengguna tongkat dirasa akan mudah menggunakannya ketika jalur itu landai dengan adanya pegangan. Antisipasi resiko tergelincir karena pengguna bisa dengan sigap memegang pegangan tersebut.

Nilai tambah GIM tak terhenti dari pintu masuk, kelengkapan lainnya seperti toilet akses juga turut diusahakan. Pengelola GIM merombak salah satu dari beberapa toilet yang dimiliki, untuk dijadikan toilet ramah difabel. Toiletnya standar dengan pintu geser dengan kelebaran sesuai prosedur. Di dalam toilet dengan ruang besar, memudahkan ruang gerak dan putar untuk pengguna kursi saat menggunakan. Di dalam toilet juga terdapat  handrail disamping klosed duduk.

Apa kata Juru Pelihara GIM dan Pengunjung difabel tentang GIM

Dede ahmad (25), juru pelihara Gedung Indonesia Menggugat (GIM) , menyampaikan pemenuhan aksesibilitas difabel pada GIM berawal dari pengurus GIM sebelumnya sering mengadakan kegiatan dengan difabel. Melihat kondisi gedung yang belum ramah, ia mencarikan dana untuk tersedianya ramp portable dan perbaikan toilet aksesibel hasil dari sumbangsih kegiatan dan donatur.

Pada Oktober 2017 pemerintah pusat menganggarkan dana untuk renovasi Gedung Indonesia Menggugat. "Pengurus sebelumnya dekat dengan pemerintah pusat, sering ngobrol di GIM banyak kegiatan dengan difabel. Pendanaan fasilitas Ramp permanen yang Ada di GIM didanai dari pemerintah pusat skalian renovasi GIM", ucap dede.

Daden (20) difabel cerebral palsy pengguna kursi roda, awal Juli 2018 mengikuti pelatihan kewirausahaan untuk difabel yang diselenggarakan di GIM. "Daden pribadi merasa bahagia , engga menghambat aktifitasnya seperti mau ke toilet dan masuk ke dalamnya jadi Deden ikut pelatihan yang diadakan di GIM dengan nyaman", terangnya penuh antusias.

Melihat perubahan yang terjadi pada Gedung Indonesia Menggugat, bagi Deden yang sudah lama menetap di Bandung sejak 2013 demi mengenyam bangku pendidikan. Ia memiliki segudang mimpi dan harapannya ketika kembali ke kota tercintanya. "Daden asal dari Cianjur, melihat ruang publik sudah mulai akses bagi difabel, besar harapan Deden kota Cianjur bisa seperti kota Bandung yang sudah mulai perhatian dengan difabel, terutama dari aspek pemenuhan aksesibilitas di tempat umum", Tutup daden.

Secara keseluruhan, GIM dapat dikatakan ramah difabel walau masih  ada beberapa kondisi yang belum di ulas dari sudut pandang difabel lainnya seperti hambatan pendengaran dan penglihatan sudah sesuai kah aspek aksesibilitas. Namun perlu digarisbawahi setiap perubahan patut di apresiasi. Semoga GIM bisa menjadi cahaya harapan untuk membuka gerbang ruang publik lain khususnya bangunan bersejarah untuk diperhatikan aksesibelitasnya.

Para difabel pun ingin merasakan secara langsung menikmati ruang publik lainnya tak hanya GIM semata, Namun menjalankan kehidupan sebagaimana masyarakat pada umumnya dengan berbagai penyesuaian dan akomodasi yang layak bagi difabel.  [Zulhamka Julianto Kadir] 

Description: Foto Zulhamka Kadir.Description: Foto Zulhamka Kadir.

The subscriber's email address.