Lompat ke isi utama
Pemateri pada Workshop for Autism Yayasan Mpati

Pengetahuan Seksualitas dan Mengurangi Kecemasan Pada Remaja dengan Autis Spektrum Disorder (ASD)

Solider.id, Surakarta - Saat membicarakan tentang seksualitas anak yang hendak menginjak remaja pada Autis Spektrum Disorder (ASD) kebanyakan awam mengatakan bahwa itu bukan topik yang nyaman atau tabu untuk dibicarakan. Topik ini dianggap privasi karena setiap remaja melalui ini. Lalu tahapan berikutnya biasanya terjadi penyangkalan (yang bukan privasi) bahwa setiap manusia memiliki dorongan yang normal. Bahwa dorongan seksual setiap anak  berbeda serta orientasinya juga berbeda. Sebagai orangtua perlu untuk menerima itu. adalah adanya dorongan masturbasi dari anak dengan ASD. Lebih-lebih, kehamilan tidak diinginkan terus menghantui. Demikian beberapa poin awal pada materi remaja dengan ASD yang disampaikan pada Workshop for Autism oleh Mpati Solo beberapa waktu lalu. Beberapa materi yang disampaikan oleh Yayasan Mpati selanjutnya bisa diuraikan sebagai berikut :

Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh orangtua antara lain berasumsi bahwa anak akan tumbuh aseksual, tidak menyadari perilaku seksual apa adanya itu, orangtua perlu memberitahu dan memandu sedini mungkin mereka dan mengekspresikan secara patut, tidak melindungi remaja ASD menjadi berlebihan secara seksual dengan cara apa yang ada di Youtube perlu disensor dan apa yang terjadi dengan teman-temannya perlu waspada.

Beberapa persiapan dilakukan untuk remaja ASD dengan menerangkan dan memastikan bahwa mereka tahu bahwa mereka akan menjadi dewasa dengan fisik yang berbentuk dewasa, hal ini bisa menggunakan bantuan visual, buku dan gambar-gambar. Mempersiapkan kepada gadis-gadis bahwa mereka akan mengalami menstruasi dan pertumbuhan payudara, jika diperlukan memakai bantuan medis, mempersiapkan remaja putra bahwa mereka akan mengalami perubahan suara, ereksi, dan mimpi basah.

Berkaitan dengan masturbasi, penting diberi kepada remaja putri dengan ASD bahwa mereka perlu  pengetahuan higienis, dan bagi remaja putra diperingatkan agar jangan brutal. Asosiasikan bahwa kegiatan remaja dengan ASD ini adalah privasi dan tidak di depan umum. Remaja dengan ASD akan mencari tempat yang aman dan tugas orangtua adalah memberi perlengkapan yang sesuai. Memastikan bahwa mereka tahu bahwa hal itu adalah privasi. Dan mengajari mereka bahwa hanya orang spesial yang dapat melihat/memegang apa yang ada di dalam celana, termasuk dokter. Pengetahuan ini bisa diberikan kepada metode lingkaran pertemanan untuk menerangkan secara visual. Memberitahukan kepada mereka bahwa mereka dipastikan nyaman. Dan pastikan mereka memberi tahu jika tidak merasa nyaman. Berilah lima nomor orang yang bisa dihubungi oleh mereka, jika dibutuhkan untuk mencari pertolongan.

Berapa banyak mereka perlu mengetahui tentang seks? Tergantung tingkat kemampuan/functioning. Mereka perlu tahu bahwa bayi itu dari mana datangnya dan bagaimana terjadi bila mereka mengerti. Jangan menjelaskan terlalu detail dan jangan merangsang. Beritahu semampu mereka tangkap. Pastikan bahwa mereka tidak ingin menjadi seorang ibu atau ayah sekarang. Bila mereka tidak mengerti dan kecil kemungkinan menjalin relationships, jangan menjelaskan terlalu detail, jangan memberikan ide yang bisa menjadikan obsesi, memperbolehkan pertemanan tetapi juga diawasi, jika mereka dengan mudahnya disalahgunakan dan dipakai, periksa tingkat hubungannya, apa yang dirasakan oleh mereka.

Seksualitas bagi remaja ASD butuh diasosiasikan dengan kepedulian pihak lain, pengakuan hak-hak mereka dan bukan egosentris. Melarang semua seksualitas dan membuat mereka bersalah karena normal. Dan setiap orangtua wajib memperlakukan mereka sebagai anak-anak abadi.

Pengelolaan Kecemasan Pada Remaja dengan ASD

Penyebab kecemasan pada remaja dengan ASD ada berbagai macam : sensori yang berlebihan, hilangnya rasa aman yang didapat dari adanya kesamaan (sameness), orang lain atau peristiwa yang tidak diketahui, kegagalan bagi perfeksionisme, konsekuensi, ketakutan yang dipelajari dari memori sebelumnya.

Kecemasan dalam taraf ringan desensitisasi bisa verbal dan nonverbal. Bila nonverbal bisa dengan dialihkan, menganalisa pemicu apa yang membuat bertahan dan alternatifnya seperti apa. Jika kecemasan sudah pada tahap menyakiti diri sendiri hingga kesehari-hariannya terganggu bisa menyebabkan fobia, Obsesif Compulsif Disorder (OCD), agresi, perilaku menyakiti diri sendiri.

Penyebab dari agresi adalah frustasi, timbunan kejengkelan, tidak dimengerti, dikucilkan, terabaikan. Kecemasan yang tidak terkontrol (ketidakmampuan menghilangkan penyebab) juga menyebabkan agresi. Selain itu juga mengalami depresi yang menyebabkan rasa marah pada situasi. Agresi juga disebabkan oleh kebiasaan yang terbentuk karena adanya respon (saat agresi anak mendapat reward contoh : keinginan terpenuhi, mendapat perhatian). Jika menjurus Temporal Lobe Epilesy maka bukan kesalahan anak dan diperlukan pengobatan.

Saat terjebak dalam agresi yang perlu dilakukan adalah prioritas melindungi diri sendiri karena akan diperlukan karena keberanian tidak akan memberikan medali maka baiknya menyingkir. Lalu lindungilah orang lain, untuk keluar dari ruangan, lindungi remaja dengan ASD dari menyakiti diri sendiri dan alat-alat yang berbahaya yang bisa membuat cedera, dan jangan menjadikan hal ini lebih buruk, jangan mendukung/reinforce dalam bentuk apapun termasuk perhatian. Beberapa metode penanganan bisa digunakan yakni Analisa Fungsi : Antecedent pemicu dengan behavior perilaku dan konsekuensi, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan edukasi. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.