Lompat ke isi utama
Agnes Widha bersama seorang narasumber workshop

Jembatani Layanan Deteksi Dini Autis, Puskesmas Butuh Psikolog

Solider.id, Surakarta- Agnes Widha, pegiat Mpati Solo  mengatakan bahwa saat ini dibutuhkan layanan psikologi di puskesmas untuk menjembatani kebutuhan deteksi dini anak dengan autis. Kebutuhan itu sangat mendasar sebab asassment (pemeriksaan awal) yang dilakukan lebih dini kepada anak autis, akan mempengaruhi penanganannya lebih lanjut. “Deteksi dini misalnya ketika memakai layanan KIS atau BPJS maka harus melalui layanan pertama yakni Puskesmas, sedangkan di Puskesmas tidak ada psikolog. Bagaimana kalau mau mengassesment jika belum disediakan? Bagaimana jika si anak ini masuk dalam spektrum autis atau tidak, lalu hambatannya seperti apa misalnya. Sudah terhenti di situ,”terang Agnes Widha saat ditemui sebagai penyelenggara workshop for autis di PPRBM Prof. Dr. Soeharso belum lama ini.

Jika si anak seharusnya mendapat rujukan ke dokter anak misalnya, tapi dari Puskesmas tidak melihat bahwa itu sebagai rujukan, maka akhirnya terhambat. Menurut Agnes Widha, sistem layanan kesehatan dengan melalui tahapan itu saat ini sudah bagus, hanya saja pihaknya menyarankan ada juga layanan psikolog. “Sudah ada layanan fisioterapi tetapi dari fisioterapis apakah bisa melakukan penegakan diagnosa? Yang berhak adalah psikolog, dokter anak, atau dokter tumbuh kembang. Sedangkan hal itu harus melalui proses layanan yang bertahap,”imbuhnya.

Pihaknya meyakini bahwa jika anak-anak ini sudah terdeteksi dari awal, kemudian bisa dilakukan dengan pendampingan yang tepat, yang juga melibatkan orangtua, anak autis bisa mampu bertahan dengan mengatasi problem yang ada dalam tumbuh kembang.

Di wilayah Solo, Mpati sudah berkembang dengan baik. Sejak 2013 Agnes Widha menjadi volunteer dan perpanjangan tangan dari Mpati Jakarta, dengan program Jakarta Ramah Autis. Di Solo juga dilakukan program yang sama dengan cara sosialisasi ke instansi atau lembaga, dinas, dan lebih banyak ke aksi masyarakat seperti kampanye di Car Free Day (CFD). Mpati Solo juga melakukan funwalk dan menyasar ke balaikota, supaya para pemangkukebijakan bisa tahu dan paham bahwa ada anak-anak autis di masyarakat. Sosialisasi juga dilakukan ke area publik semacam mall, taman bermain juga di sekolah-sekolah agar masyarakat lebih sadar bahwa ada anak-anak autis di sekeliling mereka. “Supaya inklusi lebih berjalan maksimal. Memang kita sedang berupaya lebih baik, dan sudah cukup lebih baik bila dibanding 5 atau 7 tahun lalu,”pungkas Agnes Widha. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.