Lompat ke isi utama
linda saat mengajar muridnya

Linda dan Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Dengan Hambatan Ganda

Solider.id, Medan – Menjadi difabel bagi sebagian orang adalah vonis mati akan kehidupan. Menjadi difabel dianggap menjadi manusia tanpa guna. Menjadi difabel juga dianggap sebagai makhluk yang tak bisa berbuat apa-apa padahal segala stigma negatif itu tidaklah benar adanya. Seorang Perempuan difabel dari Medan mencoba menunjukkan potret lain yang lebih positif tentang difabel.

Lindawati Agustin Kwa, itulah nama perempuan difabel netra kelahiran Medan 33 tahun silam yang kini tengah berjuang memberikan hak dan pelayanan Pendidikan kepada  anak-anak difabel netra dengan hambatan ganda di kotanya. Yayasan Dwi Tuna Harapan Baru merupakan yayasan yang ia cetuskan beersama Merlin Nifani, teman seperjuangna Linda dalam mendirikan yayasan. Lembaga tersebut bertujuan berbagi semangat, pengetahuan, waktu dan juga kepedulian kepada anak-anak difabel netra dengan hambatan ganda melalui jalur Pendidikan.

Semangat berbagi itu tentu saja tidak lahir tanpa sebab. Ketika itu Linda merasakan keprihatinan akan kondisi pelayanan Pendidikan bagi anak-anak dengan hambatan ganda. Ia merasa bahwa anak-anak kecil itu kurang mendapatkan perhatian dan kepedulian dari pemerintah maupun pihak swasta. Berdasarkan latarbelakang tersebutlah, Pada 2015, Yayasan Dwi Tuna Harapan Baru pun lahir.

Alasan berdirinya Dwi Tuna Harapan Baru tentu bukan karena kelangkaan institusi Pendidikan bagi difabel. Sekolah Luar Biasa (SLB) merupakan salah satu contoh institusi Pendidikan tersebut. Para orang tua nyatanya menjadikan SLB sebagai rujukan pelayanan Pendidikan bagi anak-anak mereka yang memiliki hambatan ganda. Namun, para orang tua merasa bahwa anak-anak mereka tidak memperoleh perkembangan apapun selama belajar di SLB.

“Para orang tua datang kepada kami dengan wajah putus asa. Mereka merasa bahwa anak mereka tak kunjung menunjukkan perkembangan, dan saya rasa hal itu terjadi karena pendekatan yang dilakukan kurang tepat,” ucap Linda, perempuan yang pernah mengikuti Studi Singkat Australia Awards pada tahun 2016 itu.

Memberikan pelayanan kepada anak-anak difabel dengan hambatan ganda tentu tidak mudah. Linda dan Merlin sudah barang tentu menemui banyak tantangan, lebih-lebih di awal perjuangan mereka. Tidak adanya latar belakang Pendidikan Luar Biasa menjadi salah satu pemicu kekhawatiran yang mereka rasakan. Bekal yang mereka bawa masih sangat minim tentang difabel ganda itu. Anak-anak yang mengamuk, tantrum, melempar barang, memukul bahkan menggigit, itulah sederat tantangan yang sangat nyata dirasakan oleh Linda.

Kekhawatiran demi kekhawatiran mulai tumbuh. Keputus asaan pun mulai muncul ketika ia mulai menyadari bahwa tiga bulan telah berlalu namun tak  ada sedikit pun perkembangan yang ditunjukkan oleh anak-anak yang ia tangani.

Namun, Merlin selalu menguatkan Linda untuk tetap semangat melayani dan berbagi hingga akhirnya membuat Linda menyadari bahwa dia harus lebih membekali dirinya dengan ilmu tentang anak-anak difabel netra dengan hambatan ganda.

 Berbagai informasi Linda pelajari demi mendapatkan pengetahuan tentang kedifabilitasan ganda itu. Dan akhirnya ia mendapatkan pelatihan serta wawasan baru dari SLB Rawinala yang berlokasi di Jakarta Timur. Dari pelatihan yang Linda ambil itulah akhirnya ia mulai menyadari bahwa selama ini ia melakukan pendekataan yang kurang tepat. Perombakan cukup besar pun akhirnya ia lakukan mulai dari program, jadwal, pembagian kelas dan metode pengajaran pun tak luput dari perombakan itu. Karena perombakan dan evaluasi yang dilakukan itulah akhirnya Linda mulai bisa menjalankan Dwi Tuna Harapan Baru dengan lebih terarah.

Kini ia telah memiliki 9 siswa dan beberapa staff pengajar. Uniknya, kesemua staff pengajar disana adalah difabel netra yang juga tidak memiliki latar belakang Pendidikan Luar Biasa. Para staff pengajar itu adalah Merlin Nifani, Ricky Darmawan, Eti Saragi, dr. Sri Melati dan Linda sendiri. Mereka semua bekerja dengan sistem sukarelawan, jadi mereka hanya mendapatkan honor seadanya mengingat Dwi Tuna Harapan Baru memang belum terlalu stabil secara finansial, bahkan mereka melakukan sebuah usaha produksi sabun demi menutup biaya operasional. Untuk para siswa sendiri, biaya Pendidikan tetap dibebankan kepada mereka yang mapan secara finansial, namun bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu akan mendapatkan subsidi silang.

Keberadaan staff pengajar yang notabene difabel netra itu memang sempat menjadi soal. Pasalnya ada beberapa orang tua yang percaya dengan metode serta pendekatan yang dilakukan oleh Linda dan kawan-kawan, namun ragu ketika anak-anak mereka harus beraktivitas di luar dengan para guru yang juga memiliki hambatan penglihatan. Para orang tua kerap mengambil alih kegiatan dan tentu saja hal itu dapat menghambat proses pembelajaran. Namun, kepercayaan penuh dari orang tua kini telah Linda dapatkan sehinga tak ada lagi intervensi dari pihak manapun.

Mengenai pendekatan yang dilakukan dalam mengajar, Linda menggunakan pendekatan individual berbasis anak-anak. Menurutnya, setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga penyamarataan tentu tidak akan berhasil jika diterapkan pada mereka. Terkait dengan hal itu, Linda mengaku anak-anak yang ia tangani pun memiliki pencapaian yang berbeda-beda pula.

Menyoal tentang kurikulum, Linda memberlakukan kurikulum fungsional yaitu kurikulum aplikatif yang mencakup beberapa aspek seperti aspek untuk hidup, berempati atau mengasihi orang-orang sekitar, bagaimana bermain dan mengisi waktu luang serta aspek untuk bekerja. Kurikulum itu pun direalisasikan melalui pembagian dua kelas yaitu kelas mampu didik yang berlangsung di pagi hari serta kelas mampu latih yang berlangsung di siang hari. Anak-anak yang mampu berkomunikasi dan mampu mempelajari aspek akademik akan dimasukkan ke dalam kelas pagi, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu berkomunikasi secara verbal akan dikelompokkan ke dalam kelas siang.

Pelayanan Pendidikan yang sedang Linda berikan melalui Yayasan Dwi Tuna Harapan Baru memang masih dini. Namun, dengan perjalanan yang masih dini itu ia merasa bahagia karena perjuangannya itu membuahkan hasil. Anak-anak didiknya mulai menampakkan perkembangan baik dari segi komunikasi, emosi, interaksi bahkan kemampuan di bidang musik. Mereka yang semula tidak mampu berkomunikasi dua arah dan kerap berucap kasar, kini berubah menjadi lebih terarah dan sudah mengurangi ucapan kasarnya. Ada pula yang semula kerap melempar barang, kini sudah mampu mengurangi kebiasaannya itu. Dan bagi mereka yang semula tidak mau berbagi kasih orang tua dengan adiknya kini telah memiliki empati. Progress terbesar yang ia dapatkan adalah kemampuan bermain musik seperti drum serta bernyanyi pun mulai tumbuh pada anak-anak didiknya.

“Melihat perkembangan anak-anak setiap harinya adalah suka cita yang aku dapatkan dalam memberikan pelayanan Pendidikan ini. Deri perkembangan itu aku sadar bahwa mereka itu sama dengan kita, butuh bermain, butuh teman, memiliki perasaan, butuh diperhatikan dan juga memiliki bakat, tapi memang semua itu butuh proses yang tidak sama dengan kita,” ucap Linda, perempuan berlatar belakang Pendidikan Bahasa Inggris itu.

Kini Linda merasa lebih ringan dalam menjalankan program di Dwi Tuna Harapan Baru. Namun, ia masih berjuang untuk mengubah pandangan orang tua terhadap anak-anak difabel netra dengan hambatan ganda tersebut. Selain itu, ia berharap agar para staff pengajar dapat mendapatkan honor yang lebih layak.

Itulah Linda dan setumpuk potret positif tentang difabel. Darinya kita belajar bahwa menjadi difabel tidaklah membuat mereka menjadi tak berguna. Menjadi difabel pun nyatanya tetap mampu berbagi bahkan mampu mandiri dalam menjalankan suatu pelayanan Pendidikan. Linda dan keempat temannya telah membuktikan bahwa hambatan yang dimiliki tidak menjadi penghalang untuk membantu difabel lain yang belum tersentuh Pendidikan. Pengetahuan, perhatian dan kasih tetap mampu mereka berikan meski di luar sana masih banyak orang yang justru menganggap mereka adalah objek yang harus dikasihani. [Eka Pratiwi Taufanti]

The subscriber's email address.