Lompat ke isi utama
Wiyono sedang berfoto di depan baner sebuah acara pameran

Si Pengrajin Bambu dari Kabupaten Sukoharjo

Solider.id, Sukoharjo- “Tidak ada hal lain yang bernilai di sisa hidup kecuali mengabdikan diri untuk membantu orang lain.” Wiyono mengatakannya hari itu, (1/7). Pria asli Sukoharjo ini menyatakan keinginannya untuk mengabdikan diri kepada masyarakat yang menjadi hasratnya selama ini. Ia senantiasa bersyukur, berkesempatan untuk berjuang setelah apa yang dialaminya pada masa silam.

Wiyono tinggal di sebuah perkampungan sederhana khas rumah tinggal warga desa. Ia tinggal bersama keluarga dengan lima putranya. Desa Jetis Rt 01 Rw 13 Kelurahan Krajan, Weru, Kabupaten Sukoharjo, menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya. Bahkan ketika ia memiliki hambatan mobilitas karena kecelakaan kerja.

Rumah yang sekaligus juga berfungsi sebagai rumah produksi itu masih sepi. Di luar rumah, beberapa batang bambu masih tersusun rapi dan belum tersentuh tangan. Sementara di ruang tamu, beberapa hasil kerajinan sudah nampak disiapkan, bercat warna-warni yang menarik perhatian. Di dalam sebuah kardus yang bertumpuk terdapat beberapa mainan anak dari bambu dan akar wangi yang sudah siap dipasarkan.

“Persiapan untuk ikut pameran,” Wiyono berkata. Senyumnya mengembang.

Ayah lima putra ini cenderung pemalu meski mengantongi banyak pengalaman. Pendiam, pembawaannya tenang, menampakkan bahwa ia tak pernah tergesa-gesa dalam hal mengambil keputusan. Ia dikela sebagai seorang yang senang menerima kritikan. Ia sering dipercaya menjadi teman bercerita dari segala permasalahan warga kampung yang menjadikannya panutan.

Wiyono dikenal sebagi sosok sederhana dengan penampilan apa adanya. Semangatnya untuk terus maju terlihat dari usahanya untuk ikut bermacam kegiatan dan pelatihan.

“Saya pernah jadi sampah masyarakat yang dicemooh, disepelekan, bahkan tidak dianggap karena kondisi difabel saya,” tutur pria berusia 42 tahun itu.

Hari itu, kami mengobrol di teras rumahnya yang rindang dengan keteduhan pohon markisa. Ia berkisah tentang masa lalunya yang kelam dan membaginya. Baginya, masa lalu selalu melahirkan pembalajaran bagi setiap manusia.

“Hal-hal buruk seperti itu sudah saya alami. Tapi melalui pembuktian nyata dari hasil kerja yang saya lakukan, masyarakat melihat bahwa dengan apa yang saya lakukan bisa menuai hasil yang patut dibanggakan,” tutur Wiyono dengan binar mata yang ia tahan di kelopak matanya. Wiyono menceritakan banyak hal dan pengalaman yang dijadikannya sebagai tempat menempa hidup.

Dari titik itulah ia merasa hidupnya tidak sekedar untuk meratapi masa lalu. Kini, ia menjadi pegiat difabel. Ia beberapa kali bertemu dengan para kepala dinas untuk mengajukan sendiri proposal demi bermacam pelatihan bagi pemberdayaan anggota di komunitasnya. Ia juga memamerkan produk kawan-kawan difabel kepada para pejabat yang ia jumpai ketika membuka stan di sebuah acara.

Kini, ia merasa banyak perbedaan dan perubahan yang ia temukan setelah jadi difabel. Namun ia tak segan untuk selalu berbagi dan mengajak kawan-kawannya dalam berbagai aktifitas. Ilmu yang ia miliki, pengalaman yang ia peroleh dari semua kegiatan yang pernah ia ikuti, pada teman-teman dan keluarga.

“Jauh sekali perbedaan yang saya dapatkan. Sebelum jadi difabel, saya tidak pernah peduli pada orang lain. Memang dengan jadi difabel itu sebenarnya juga berat karena saya jadi beban masyarakat. Tapi dengan itu saya jadi lebih tahu bagaimana indahnya saat bisa berbagi. Ada nilai yang tidak bisa saya ungkapkan kecuali lewat hati.” Wajah Wiyono menunduk usai berkata demikian. Tatapannya kosong.

Namun, sekarang ia merasa senang dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Bertemu dengan para pejabat pemerintah. Ia mengaku menemukan banyak hal baru. Berkat itu pula, Wiyono mendapat amanah dan kepercayaan warga sekitar. Kawan-kawan difabelnya, mempercayainya sebagai ketua Self Help Group atau kelompok mandiri yang diisi 50 orang anggota aktif.

Wiyono pernah bercita-cita ingin memiliki sebuah usaha yang menghantarnya untuk mengadu peruntungan dengan bekerja. Ia bekerja sebagai buruh kecil di sebuah pertambangan usai lulus SMA. Ia tak pernah mengira, menjalani hari-hari sebagai buruh perusahaan tambang di Kalimantan itulah, kecelakaan itu menimpanya.

Pada 2008, di tengah tugas yang ia jalankan, sebuah truk menyalip motornya yang melaju perlahan. Badan truk tersebut menyenggolnya, hingga motor yang ia bawa tak lagi bisa dikendalikan. Ia oleng dan tidak dapat menghindar di medan sempit yang dilaluinya. Kecelakaan itu membuat tulang betis hingga paha kanannya tidak berfungsi.

“Rasanya hidup saya juga hancur. Sudah putus asa. Hingga akhirnya saya menjalani operasi sampai 10 kali. Satu kali di Kalimantan, sembilan kali di Solo. Saking putus asanya saya pernah minta kaki saya dipotong, tapi dokter tidak mau karena fungsi syaraf masih hidup.”

Wiyono mengulas kondisinya setelah lima tahun berusaha memulihkan kaki kanan. Ia menyanggan kakinya dengan kruk di kedua lengannya. Namun, lingkungan di sekitar menyadarkannya untuk tetap bersyukur dan bertahan hidup.

Hingga pada 2010, kawan-kawan dari Yayasan Sehati datang dan mengajaknya untuk bergabung dalam organisasi. Kala itu, kawan-kawan di daerahnya juga memiliki keinginan untuk membentuk organisasi. Sampai kemudian, ia bersama kawan-kawannya sepakat untuk gabung di organisasi Sehati di Sukoharjo.

“Di Yayasan Sehati inilah saya kembali memiliki harapan untuk terus belajar. Untuk memudahkan saat harus bepergian saya berusaha mencari pinjaman dari bank untuk membuat motor roda tiga.”

Peran istri dalam berorganisasi

Setelah bergabung dalam organisasi, semangat ternyata tak hanya didapat Wiyono sendiri. Sang istri, Suwarni, (40 tahun) yang turut aktif menemaninya dalam berorganisasi. Suwarnilah yang mengingatkan saat ada jadwal kegiatan, atau saat harus melakukan kunjungan pada kawan-kawan difabel yang belum tersentuh organisasi untuk diajak berkegiatan.

“Dulu dengan kondisi saya yang seperti ini saya sempat mikir, apa yang bisa saya kerjakan? Saya bisa apa?.” Memilih berguru pada seorang yang ahli membuat kerajinan bambu, di sana akhirnya Wiyono menuju.

Suwarni menceritakan, tiap hari selama satu bulan suaminya rela berangkat pagi pulang sore hari dari rumahnya di Sukoharjo ke Semin, Gunungkidul dengan jarak sekitar 10 Kilometer. Wiyono pernah terjatuh selama berguru membuat kerajinan dari bambu yang mengharuskannya kembali menjalani operasi untuk pemulihan.

Berkat ketekunan dan kesabaran yang ia tanamkan dalam hatinya pula, kini aneka kerajinan bambu telah ia hasilkan. Kapal dari bambu, bermacam alat musik dari bambu atau mainan dari akar wangi telah ia rangkai.

Pesanan sesekali ia dapatkan dari luar kota, angklung dan mainan anak-anak yanng menjadi hasil karyanya tak hanya ia pasarkan lewat pameran. Dibantu putri sulungnya, ia juga mulai menawarkan penjualan secara online hingga masyarakat mulai mengenal produk bambunya.

“Tahun ini saya masih memiliki impian. Saya ingin merenovasi rumah sehingga bisa menjadi rumah kerja yang bisa menampung teman-teman difabel, atau siapapun dari daerah lain yang ingin belajar di tempat saya.” Menitip harap akan masa depan, dalam doa-doa Wiyono ingin rumah produksinya bisa terus-menerus menerima pesanan, bahkan bisa sampai internasional.

“Dengan begitu saya bisa membantu teman-teman dalam menambah penghasilan dan meningkatkan ekonomi mereka.” Ia juga menampung hasil karya kawan-kawan difabelnya untuk turut dipasarkan. [Yanti]

The subscriber's email address.