Lompat ke isi utama
peserta utul difabel netra saat dikunjungi solider

18 Peserta Ikuti Utul UGM, Aksesibilitas Perlu Lebih Ditingkatkan

Solider.id, Yogyakarta Minggu 8 Juli 2018, lebih dari 60000 calon mahasiswa baru mengikuti Ujian Tulis Mandiri Universitas Gadjah Mada guna mendapatkan slot mahasiswa baru yang masih tersisa. Dari 60000 lebih peserta tersebut, terdapat 51000 peserta yang mengikuti ujian di kota Yogyakarta. Sementara sisanya tersebar di beberapa kota seperti  Jakarta, Pekanbaru, dan Medan.

Dari 60000 calon mahasiswa tersebut, 18 diantaranya adalah para difabel. Menurut keterangan dari panitia ada berbagai kategori difabel yang mengikuti ujian seperti difabel netra, difabel Tuli, difabel daksa, dan difabel motoric. Para difabel itu juga mengerjakan ujian dilokasi yang berbeda-beda. Ada peserta difabel yang mengerjakan ujian di luar Yogyakarta, namun sebagian besar mengikuti ujian di Yogyakarta. Peserta difabel yang ada di kota Yogyakarta pun juga mengikuti ujian dengan tempat yang terpisah-pisah, diantaranya di Universitas Gadjah Mada, UPN Veteran Yogyakarta, dan  Universitas Amikom.

UPN Veteran Yogyakarta, tempat Solider meliput Ujian Tulis Mandiri Universitas Gajah Mada menjadi lokasi dua orang mahasiswa difabel netra untuk mengerjakan ujian. Kedua peserta difabel netra tersebut adalah Taufik Rahmadi Sitorus dan Miftahul Choirul Ilmi.

Taufik Rahmadi Sitorus salah satu peserta difabel netra yang mengikuti Ujian Tulis Mandiri Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa secara keseluruhan penyelengaraan ujian telah terlaksana dengan cukup baik. Hal itu terbukti dengan adanya pendamping bagi peserta difabel netra untuk membacakan soal dan menuliskan jawaban ujian. Hal itu menurutnya telah menunjukan komitmen Universitas Gadjah Mada unttuk melaksanakan perlindungan dan pemenuhan hak difabel. Tetapi, Taufik Rahmadi memiliki beberapa masukan agar kedepannya pelaksanaan Ujian Tulis Mandiri Universitas Gadjah Mada lebih mengakomodasi kebutuhan para peserta difabel.

Sebagai seorang difabel netra, Taufik mengusulkan agar dalam isian form di laman pendaftaran ujian tulis di sediakan opsi bagi peserta difabel netra untuk memilih akan menggunakan soal berbentuk braille atau akan di bacakan. Menurut Taufik ada difabel netra yang lebih nyaman mengerjakan ujian dengan membaca soal yang berbentuk huruf braille. Dengan tersedianya opsi tersebut maka kebutuhan para difabel akan lebih terakomodasi.

Selain itu Taufik juga memberi masukan bahwa bagi sebagian peserta difabel diperlukan adanya kebijakan afirmatif untuk mengerjakan soal. Menurut Taufik ada difabel yang harus diberikan kebijakan afirmatif berupa kelonggaran waktu dalam mengerjakan ujian.

Selebihnya Taufik kembali menegaskan bahwa ujian berjalan dengan baik, karena pendamping yang ditugaskan pun melaksanakan tugasnya dengan baik. [Tio]

The subscriber's email address.