Lompat ke isi utama
Ilustrrasi sekoilah yang akses untuk tuli

Mencari Sekolah yang Cocok untuk Tuli

Oleh Raka Nurmujahid

 

Solider,id- Dari berbagai informasi yang saya himpun, baik dari kerabat atau informasi yang saya dapat dari media sosial, tibalah saya pada kesimpulan bahwa betapa sulitnya mencari sekolah yang cocok bagi kebutuhan Tuli.

Saya menerima kabar dari Decky seorang anggota Gerkatin Solo melalui grup WhatApps Gerkatin Solo. Kabarnya berisi tentang informasi yang dialaminya tentang pengalaman berkuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang minim akses dan kurang ramah difabel, khususnya bagi Tuli.

Decky bercerita tentang penyebab menurunnya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang didapatkan. Decky merasa bahwa dosen kurang memperhatikannya sebagai mahasiswa Tuli dan seringkali mengalami kesulitan saat mengikuti pelajaran baik di kelas maupun di luar kelas.

Di Indonesia, memang tidak semua sekolah dan universitas ramah difabel, terutama akses bagi Tuli. Dari beberapa Universitas, hanya sedikit yang diklaim dianggap ramah difabel. Seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memiliki Pusat Layanan Difabel (PLD), Universitas Brawijaya Malang dengan Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD).

Selain itu, ada The Little Hijabi yang merupakan sekolah Tuli berbasis homeschooling pertama kali. Sekolah tersebut menerapkan program bahasa isyarat sebagai bahasa pengantar pertama, kemudian bahasa Indonesia atau bahasa lain sebagai bahasa pengantar kedua. Di samping itu juga ada Sekolah Tuli Suhrusa di Bali, dan lain-lain.

Namun, jumlahnya masih sedikit dan kurang merata di seluruh Indonesia untuk mengakomodasi kebutuhan Tuli.

Para orangtua tersebut ingin anaknya yang memiliki hambatan pendengaran bisa berbicara sama seperti orang dengar lainnya. Tetapi, nampaknya harapan tersebut mesti kandas dalam angan-angan mengingat jumlah universitas yang belum mengafirmasi keberadaan Tuli.

Beberapa kasus Tuli memilih mengundurkan diri dari sekolah atau kuliah karena merasa kesulitan ataupun banyak sekali diksriminasi yang dirasakan. Hal itu karena tidak ada aksesbilitas Tuli seperti bahasa isyarat. Ada pula memilih terus berusaha bertahan meski sekolah atau kampus tidak menyediakan akses bahasa isyarat.

Paradigma orangtua yang memiliki anak Tuli

Hal itu juga membuat para orangtua lebih banyak memberikan pelatihan dan terapi wicara secara berulang-ulang sejak kecil. Dimana hal tersebut sangat berat bagi Tuli, termasuk saya. Saya kira, hampir semua orangtua yang memiliki anak Tuli menginginkan anaknya bisa berbicara sama seperti orang dengar. Hal itu menurut saya, karena di Indonesia masih mengadopsi dan mempertahankan metode pendidikan hanya dengan bicara oral. Sehingga menempatkan kebutuhan bahasa isyarat dinomorduakan.

Metode itulah yang kemudian memengaruhi cara pandang orangtua terhadap kebutuhan Tuli. Mereka merasa bahwa bahasa orang menjadi kewajiban yang harus dikuasai oleh Tuli. Bagi saya hal itu sangat tidak rasional.

Metode tersebut sangat tidak cocok bagi Tuli, sebab perlu waktu lama untuk benar-benar memahami bahasa oral bagi Tuli. Sistem pendidikan Tuli tidak bisa disetarakan dengan sistem pendidikan reguler (umum) jika tidak ada bahasa isyarat. Sedangkan bahasa isyarat itu bahasa alamiah untuk Tuli. Dimana bahasa isyarat merupakan salah satu budaya Tuli yang paling banyak digunakan oleh penduduk Tuli di seluruh dunia.

Saya khawatir jika paradigma orangtua tersebut tidak segera diubah akan berdampak pada masa depan Tuli. Pada akhirnya orangtua memaksakan anak Tuli harus dididik dengan bicara oral atau pindah ke sekolah yang mendukung sistem bicara oral. Orang tua tidak akan memahami berbagai hal hambatan yang akan dialami Tuli dalam proses belajar. Selain itu, Tuli akan semakin tertinggal dalam hal segala aspek kehidupan.

Dari sanalah, semestinya orangtua mendapat akses informasi terkait kebutuhan Tuli, khususnya di wilayah pendidikan. Terutama bagi orangtua yang belum menguasai bahasa isyarat. Sebagian besar orangtua masih banyak mendapat informasi yang salah, tidak tepat sasaran, dan informasi terkait sekolah bagi Tuli.

Mencari sekolah yang cocok untuk Tuli, saya menyarankan lebih baik mencari sekolah yang mendukung bahasa isyarat, sekolah inklusi dan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang menyediakan penerjemah bahasa isyarat atau pencatat baik. Meski agak susah dan tidak mudah.

Berikut informasi yang saya himpun dari beberapa sekolah, seperti SMKN 9 Surakarta salah satu sekolah inklusi yang mendukung bahasa isyarat dan Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus (YLPAF) di Surakarta. Di dua lembaga tersebut terdapat tiga jenjang (TPP, SD, dan SM) yang memberikan akses Tuli berupa bahasa isyarat.

Sedangkan untuk Perguruan Tingggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang menyediakan akses Tuli berupa bahasa isyarat seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui relawan dari PLD yang menyediakan penerjemah bahasa isyarat dan pencatat. Selain itu Universitas Brawijaya (UB) Malang dengan relawan dari PSLD, Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta memiliki PSIBK (Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus), Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin memiliki PLD (Pusat Layanan Disabilitas), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) memiliki PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memiliki UDV (Unit Disability Volunteer), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Peran organisasi difabel dan pemerintah

Dari persoalan di atas tentu membutuhkan peran dari berbagai pihak. Utamanya organisasi difabel dan pemerintah. Organisasi difabel bisa memberikan pemahaman kepada para orangtua Tuli dan lembaga pendidikan terkait kebutuhan Tuli dalam hal mengakses pendidikan. Minimal memberikan pelatihan bahasa isyarat dengan membuka kelas rutin.

Organisasi ataupun kmomunitas difabel mengkonsep secara utuh terkait kebutuhan pendidikan bagi Tuli. Konsep tersebut kemudian diaudiensikan dengan lembaga pendidikan untuk menyesuaikan dengan konsep sekola yangt dianut selama ini. Seperti kurikulum, aksesibilitas dan lain sebagainya. Lebih jauh, hasil dari kolaborasi antara organisais difabel dan lembaga pendidikan diformulasikan menjadi sebuah kebijakan tetap pemerintah dalam mengakomodir kebutuhan pendidikan bagi difabel. Meski sekarang kita tahu, perjuangan organisasi difabel dalam menggodok Rancangan Peraturan Poemerintah atau RPP.

Saya berharap akan ada banyak sekolah yang mendukung bahasa isyarat. Mampu membentuk karakter siswa Tuli menjadi Tuli yang mempunyai daya juang tinggi, semangat tinggi, memiliki keberanian yang kuat, kreatif, mempunyai intelektual atau wawasan yang luas, memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap teman sesama Tuli atau orang yang memiliki kekurangan yang ada di sekitarnya, dan mampu melahirkan generasi emas Tuli yang dapat berguna bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk yang menghargai adanya perbedaan.

Hal ini sangat penting bagi Tuli agar dapat tetap bertahan hidup dengan baik, dapat berguna bagi diri sendiri maupun orang lain. []

 

*Penulis merupakan anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo.

The subscriber's email address.