Lompat ke isi utama
Pelatihan soft skill yang diikuti oleh difabel, menuliskan nilai lebih dari sebuah usaha.

Pemahaman Difabel Tentang Konsep Kewirausahaan

Solider.id, Bandung – Masyarakat difabel secara umum masih mengalami kesulitan dalam mengakses ranah dunia kerja. Meski dalam perundangan hak pekerjaan, wirausaha dan koperasi telah dituangkan namun, berbagai kendala teknis dan penerapan di lapangan masih belum mampu diakses dengan optomal.

Padahal, dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 pasal 11 menyebutkan hak pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi untuk Penyandang Disabilitas meliputi: (a) Memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta tanpa diskriminasi. (b) Memperoleh upah yang sama dengan tenaga kerja yang bukan Penyandang Disabilitas dalam jenis pekerjaan dan tanggung jawab yang sama. (c) Memperoleh akomodasi yang layak dalam pekerjaan. (d) Tidak diberhentikan karena alasan disabilitas. (e) Mendapatkan program kembali bekerja. (f) Penempatan kerja yang adil, proporsional, dan bermartabat. (g) Memperoleh kesempatan dalam mengembangkan jenjang karier serta hak normatif yang melekat di dalamnya. (h) Memajukan usaha, memiliki pekerjaan sendiri, wirausaha, pengembangan koperasi, dan memulai usaha sendiri.

Sadar akan peluang kerja yang masih minim diperoleh, membuat masyarakat difabel aktif meningkatkan kualitas serta kemampuan secara individu. Mengikuti berbagai bidang pelatihan contohnya, baik soft skill (Keterampilan dalam memahami modul materi) maupun hard skill (Keterampilan dalam praktik) rupanya masih menjadi daya tarik yang sangat diminati hingga kini.

Instansi pemerintahan terkait maupun pihak swasta banyak merancang program untuk masyarakat difabel, terutama pelaku industri melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Salah satu sasarannya adalah memberdayakan masyarakat difabel memalui program pelatihan, pendampingan serta pengembangan usaha yang telah dimilikinya.   

Apakah pernah disadari berapa banyak masyarakat difabel yang akhirnya berani membuka usaha pribadi? Atau sudah berapa banyak masyarakat difabel pelaku usaha yang menjadi berkembang, berkesinambungan dan bertahan dalam dunia bisnis?

Hal ini tentunya menjadi sangat menarik untuk dilanjutkan. Akan ada banyak kesempatan dan peluang yang diperoleh masyarakat difabel dalam mengakses dunia pekerjaan, salah satunya menjadi pelaku usaha dari program CSR. Keuntungan lain yang diperoleh memilik CSR adalah tetap turut berperan aktif dalam pemenuhan tanggung jawab sebuah perusahaan diberbagai sektor.

Tidak semua jenis kedifabelan memiliki peluang untuk ditempatkan secara langsung dalam sebuah perusahaan. Buktinya hingga sekarang, jenis kedifabelan masih menjadi salah satu yang terpampang dalam persyaratan perekrutan pihak perusahaan. Alasan lain, akses infratruktur serta cara kerja menjadi pertimbangan yang sering terjadi.

Kendala tadi menjadi batasan langkah baik untuk pihak pemilik lapangan kerja maupun pihak masyarakat difabel pencari peluang kerja. Bila tujuan utama bekerja adalah untuk memperoleh penghasilan berupa uang, tujuan tersebut dapat diciptakan atau dibuka melalui langkah wirausaha dan pengembangan usaha yang telah ada.

Kemampuan untuk mengolah potensi diri melalui keterampilan, minat dan bakat akan membantu menentukan sektor usaha yang sesuai dengan kondisi individunya. Banyak masyarakat difabel yang memiliki kemampuan dalam bidang seni, olahraga, kerajinan atau industri rumahan dan sebagainya.

Tinggal bagaimana caranya untuk meningkatkan itu semua agar menjadi sebuah peluang usaha yang mendatangkan penghasilan atau nilai lebih. Tentunya, selain terus belajar, berlatih juga dengan menambah keterampilan dan pengetahuan.

Seperti belum lama ini, di salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung dilangsungkan pelatihan soft skill untuk masyarakat difabel yang diusung oleh pihak swasta. Sementara sebelumnya, pelatihan hard skill berupa praktik langsung dalam bidang kerajinan tangan dan kelas memasak pun telah lebih dulu diadakan oleh pihak pemerintahan.

Lalu, sejauh mana pengaruh soft skill dan hard skill dalam membuka peluang usaha bagi masyarakat difabel atau dalam meningkatkan usaha yang telah dimilikinya?

Manfaat Pelatihan Soft Skill

Pernyataan, ‘Sebuah usaha dilakukan dengan keberanian,’ atau ‘Sebuah usaha diawali dengan tindakan nyata.’ Rumus ini menjadi banyak yang dipilih, saat setiap orang hendak membuka sebuah usahanya. Itu pula yang dilakukan masyarakat difabel.

Contoh untuk membuka sebuah warung kopi, warung makan atau warung sembako, maka yang terpikirkan adalah membuka warung, berbelanja bahan yang diperlukan, melakukan transaksi jual beli seperti pada umumnya. Dan seperti begitulah perputaran selanjutnya.

Konsep tersebut tidak ada yang salah. Namun, akan ada peluang lain atau kesempatan-kesempatan besar yang bisa menjadi hilang.

Melalui pelatihan  soft skill inilah, masyarakat difabel diharapkan mampu mempelajari lebih banyak tentang strategi pemasaran, kesiapan menghadapi persaingan usaha, mampu berinovasi dalam usahanya, mampu menemukan langkah pemenuhan kebutuhan para pelanggannya, hingga keberanian untuk terjun membuka bidang wirausaha bagi pemula.

Seperti yang disampaikan fulan, difabel Daksa dari Sumedang yang telah mengikuti pelatihan soft sklill yang berinovasi dalam usahanya. Disampaikan kepada Solider.id, ia menambahkan nilai lebih dari produk usahanya yang bermula dijual dalam bentuk mentahan menjadi siap santap. Ia menggeluti usaha dibidang pembuatan kerupuk berbahan dasar tepung tapioka di daerahnya.

Kerupuk khas daerahnya tersebut memang secara turun temurun dijual dalam bentuk mentahan dari pelaku industri rumahan hingga kekonsumennya. Namun, kini ia mencoba menerapkan hasil pembelajarannya dari modul materi yang didapatkan dalam pelatihan. Dengan memberikan nilai lebih para konsumen, yaitu menyediakan kerupuk olahannya menjadi siap santap.

Dengan demikian, manfaat pelatihan soft skill dapat langsung diterapkan dan dirasakan oleh masyarakat difabel pemilik usaha. Dan, bagi mereka yang belum memiliki bidang usaha, minimalnya masyarakat difabel menjadi sadar akan potensi yang ada dalam dirinya. Mereka mampu menemukannya melalui rumusan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya.

Manfaat Pelatihan hard Skill

Bentuk keterampilan lain dalam sebuah pelatihan adalah berupa praktik langsung. Misalkan, menjahit, memasak, kerajinan tangan, merias wajah, mekanik, komputer, bekam, pijat refleksi, dan sebagainya.

Pelatihan hard skill biasanya diikuti oleh masyarakat difabel yang memang telah memiliki usaha atau hobi. Ini akan lebih memudahkan pada saat memberikan pelatihan dalam bentuk praktik nyata.

Seperti beberapa waktu lalu, memalui Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung mengadakan pelatihan kerajinan tangan dan memasak. Peserta yang hadir pada umumnya masyarakat difabel yang memiliki hobi dan usaha dalam bidang tersebut.

Manfaat yang diperoleh secara langsung adalah menambah kemampuan atau keterampilan yang telah dimiliki para peserta. Lebih kepada mempraktekan atau mengerjakan dan melakukan pengolahan membuat sebuah produk atau kapasitas sebuah keahlian yang dimiliki.

Dengan demikian, peserta dapat langsung berinteraksi dalam pengelolaan secara praktiknya. Inovasi, imajinasi, kreativitas dan kemampuan lainnya dapat dituangkan dan hasilnya dapat terlihat. Pelatihan hard skill diidentifikasi dapat pula memberikan rasa atau ruh terhadap hasil yang diusahakannya.

Begitu pun dalam menerapkan pada bidang usaha yang digeluti. Bukan sekedar cukup untuk dijalankan, sebuah usaha yang telah ada, telah berjalan, memerlukan sebuah rasa atau ruh agar tetap hidup, berkembang maju dan bertahan. Sehingga, mampu diandalkan menjadi sebuah sumber mata pencaharian yang memberikan keuntungan.

 

Bila mengukur pada isi Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 pasal 11, bentuk kedua pelatihan tersebut mampu memajukan usaha, memiliki pekerjaan sendiri, wirausaha, pengembangan koperasi, dan memulai usaha sendiri.

Tentu saja, dengan siklus berantai dengan semua pihak. Mulai dari pemerintahannya, baik ditingkat pusat dan daerah, pihak swasta memilik CSR, penyelenggara program pelatihan, masyarakat difabelnya serta lingkungan pendukung sekitar.

Dengan pelatihan, masyarakat difabel yang memiliki peluang kerja minim dapat beralih menjadi wirausahawan sesuai bakat dan kemampuan. Sehingga tujuan utama bekerja untuk mendapatkan penghasilan dapat tetap dicapai melalui cara lain yaitu membuka usaha sendiri, atau mengembangkan usaha yang telah ada. [Srikandi Syamsi]

The subscriber's email address.