Lompat ke isi utama
kegiatan dengar bareng yang diorganisir oleh komunitas braille'iant jogja

`Debar: Media Kampanye dan Alternatif bagi Para Pecinta Bola Difabel Netra

Solider.id. Yogyakarta - Ungkapan yang mengatakan bahwa sepakbola adalah bahasa yang universal nampaknya merupakan ungkapan yang tepat. Hal ini karena olahraga ini bukan hanya dapat di mainkan oleh siapa pun , namun juga dapat dinikmati oleh siapa pun. Narasi tentang nilai-nilai keberagaaman dalam sepakbola tentu tidak perlu di tanyakan lagi. Melalui layar televisi semua orang dapat menyaksikan para pemain dan supporter atau pendukung sepakbola yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda datang ke stadion untuk tujuan yang sama yaitu : sepakbola.

Piala dunia menjadi turnamen sepakbola yang paling ditunggu-tunggu oleh para pemain dan penggemar sepak bola dari seluruh dunia. Sebabnya jelas, turnamen yang di selenggarakan setiap 4 tahun sekali ini adalah turnamen sepak bola paling bergengsi di muka bumi. Setiap pagelarang piala dunia di  mulai perhatian para pemain dan penggemar sepak bola hanya akan tertuju ke Negara yang menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar ini. Pada penyelenggaraan tahun 2018, Rusia menjadi Negara yang beruntung menjadi tuan rumah penyelenggara piala dunia 2018. 

Jutaan penggemar sepak bolapun untuk sementara waktu mengalihkan fokusnya ke Rusia. Berbagai cara dilakukan oleh para penggemar sepak bola untuk turut memeriahkan penyelenggaraan piala dunia. Mulai dari menyelenggarakan nonton bareng  (menyaksikan bersama) yang marak di banyak tempat di Indonesia hingga datang langsung ke Rusia.

Jika para penggemar sepak bola pada umumnya meramaikan pagelaran piala dunia dengan melakukan nonton bareng hingga datang langsung ke Rusia untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan piala dunia, para penggemar sepak bola difabel netra punya caranya sendiri untuk turut memeriahkan piala dunia.

Para difabel netra yang merupakan penggemar sepak bola ini menikmati piala dunia  dengan kegiatan yang di namakan debar atau dengar bareng yang hampir mirip dengan kegiatan (nobar) atau nonton bareng. Sesuai dengan namanya para difabel netra ini menikmati pertandingan piala dunia dengan mendengarkan siaran langsungnya.

Kegiatan debar ini merupakan kegiatan yang di inisiasi oleh Radio Republik Indonesia dengan bekerja sama dengan komunitas Braille’iant. Kegiatan debar ini diselenggarakan pada tanggal 27 Juni 2018 di badan sosial Mardi Wuto Yogyakarta.

Veronica Cristamia, perwakilan dari komunitas Braille’iant mengatakan bahwa terselenggaranya kegiatan ini berawal dari inisiatif pihak Radio Republik Indonesia yang ingin mengadakan sebuah kegiatan yang dapat membuat difabel netra turut merasakan suasana piala dunia. Kegiatan debar ini terinspirasi dari kegiatan layar bisik (lasik) yaitu kegiatan komunitas Braille’iant yang memfasilitasi para difabel netra untuk dapat menyaksikan film dengan didampingi relawan sebagai pembisik.

Menurut Veronica, kegiatan ini  bukan hanya bertujuan untuk menghadirkan sarana yang asesibel untuk parra difabel netra tetapi juga sebagai wadah untuk melakukan kampanye isu-isu difabel. Pesan yang ingin di sampaikan dalam kampanye tersebut yaitu bahwa dari kalangan difabel netra juga banyak merupakan penggemar berat sepak bola, sehingga para difabel netra juga berhak mendapatkan haknya untuk menyaksikan sajian pertandingan piala dunia yang aksesibel.

“Kegemaran para difabel netra ini bias dibuktikan saat dilakukan kuis yang mana para difabel netra bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan. Ini membuktikan bahwa para difabel netra ini bukan hanya menggemari saja, tetapi juga memiliki pengetahuan mengenai dunia sepak bola layaknya para pemerhati olahraga ini” ungkap Veronica saat di temui pasca kegiatan

Veronica berharap bahwa kegiatan serupa akan kembali terselenggara, karena melalui kegiatan ini ada pesan yang dapat disampaikan bahwa para difabel netra juga para penggemar bola seperti orang-orang pada umumnya, selain memang menyediakan sarana yang aksesibel bagi para difabel netra untuk menyaksikan pertandingan. Harapannya ke depan kegiatan ini dapat di selenggarakan dengan inovasi misalnya membuat kegiatan nonton bareng yang mempersatukan difabel netra dan para penggemar bola non difabel, sehingga pesan kampanye yang akan disampaikan dapat lebih kuat. “mungkin lain kesempatan dapat membuat kegiatan yang mempersatukan antara penggemar bola difabel netra dengan para penggemar bola nondifabel, jadi sesama penggemar bola dapat berkumpul bersama untuk menyaksikan pertandingan”. Tutup wanita yang akrap di sapa Vero ini                      

Gagasan membuat kegiataan Nobar bagi difabel netra

Salah satu peserta debar yang di temui setelah kegiatan yaitu Taufik Rahmadi Sitorus mengaku bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang bagus karena dapat memfasilitasi para penggemar sepak bola difabel netra untuk dapat berkumpul bersama menyaksikan pertandingan piala dunia. Tetapi menurut Taufik, akan jauh lebih menarik apabila kegiatan berikutnya yang diselenggaraakan adalah kegiatan nonton bareng yang mempersatukan antara penggemar bola nondifabel dengan para penggemar bola difabel netra. Jika konsep kegiatan nonton bareng seperti itu yang diterapkan, maka para penggemar bola nondifabel dan para penggemar bola difabel netra dapat saling berinteraksi seperti para penggila sepak bola pada umumnya. Selain itu menurut Taufik dengan konsep nonton bareng seperti itu,  difabel netra dapat lebih maksimal dalam menikmati pertandingan piala dunia. Hal ini karena apabila seorang difabel netra nonton bersama nondifabel, para difabel netra tersebut dapat mengetahui situasi di lapangan pertandingan. Menurut Taufik, dengan mendengarkan komentator saja tidak cukup, karena kadang mungkin saja ada hal-hal yang tidak terssampaikan oleh reporter dan komentator sehingga disini perlu adanya bantuan dari penggemar sepak bola nondifabel untuk mendiskripsikan situasi dan kondisi dalam pertandingan yang tersaji dalam layar monitor.

Konsep non ton bareng yang mempersatukan antara penggemar sepak bola difabel netra dengan penggemar sepak bola non difabel inni juga memiliki pesan inklusi yang lebih kuat. Para penggemar sepak bola difabel netra dengan para penggemar sepak bola non difabel dapat bersama-sama menyaksikan pertandingan sepak bola tanpa adanya perbedaan antara difabel dan non difabel, sehingga sepak bola benar-benar menjadi olahraga yang universal yang dapat dinikmati oleh siapa pun, tak peduli perbedaan warna kulit, agama , bahkan kondisi difabel yang di miliki oleh seseorang.

            Hal ini menjadi penting, karena apabila memperhatikan fakta yang ada sejauh ini tidak banyak terdengar partisipasi kelompok difabel dalam dunia sepak bola yang di dengung-dengungkan sebagai olahraga yang universal. Hal itu akan semakin tergambar apabila memperhatikan kondisi stadion-stadion yang masih jauh dari kata aksesibel dan sangat sedikitnya pemberitaan di media yang mengabarkan keterlibatan para difabel dalam dunia sepak bola.

Kesimpulannya, kegiatan-kegiatan serupa harus terus di reproduksi untuk menyampaikan pesan bahwa sepak bola adalah olahraga milik semua orang, bukan hanya olahraga bagi kaum yang selama ini tertentu saja. Harapannya dari kampanye-kampanye seperti ini akan mendorong terbukanya ruang bagi para difabel untuk berpartisipasi dalam dunia persepak bolaan. [Tio Tegar]

The subscriber's email address.