Lompat ke isi utama
 Indah Darmastuti saat memberi briefing kepada peserta pelatihan

Audiobook untuk Netra dari Proyek Cipta Media Ekspresi sebagai Upaya Inklusivitas

Solider.id, Surakarta-Upaya untuk memperluas akses difabel netra dan masyarakat terhadap karya-karya sastra berwujud audiobooks fiksi kontemporer oleh kurator perempuan, penulis fiksi, dan aktivias difabel. Harapannya upaya ini mendorong berbagai pemangku kepentingan mempermudah dan memperluas akses sastra dengan perspektif gender yang lebih kritis dan inklusif.

Indah Darmastuti, seorang penulis fiksi produktif yang beberapa waktu lalu menggalang kerja sama dengan komunitas Sahabat Netra Surakarta dan mengerjakan audiobook serta mensosialisasikannya, baru-baru ini mendapat dana hibah sebesar 65 juta dari Cipta Media Ekspresi untuk proyek audiobook (pelisanan sastra).

Projek ini menyediakan akses bagi difabel netra dan masyrakat umum terhadap karya-karya sastra dalam wujud seri audiobook karya fiksi kontemporer hasil kuratorial perempuan. Sebagai inisiator, Indah Darmastuti yang selama ini terlibat cukup dalam di komunitas sastra Pawon, telah memilih puluhan judul karya fiksi kontemporer, cerpen dan puisi dari beberapa penulis.

Beberapa waktu lalu Indah Darmastuti telah melakukan pengisian suara bersama beberapa sastrawan Solo untuk membacakan karya mereka sendiri. Pengambilan suara dilakukan di sebuah studio di komplek kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Namun untuk difabel, Indah sudah merancang kegiatan pelatihan, dan pelatihan pertama dilakukan di Balai Soedjatmoko, Minggu (1/7). Pelatihan diikuti oleh lima orang difabel dari berbagai ragam dan komunitas, daksa dari SHG dan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Surakarta. Pelatihan yang difasilitasi oleh Luna Kharisma, lulusan Prodi Teater ISI Surakarta tersebut mendapat kunjungan seniman Naomi Srikandi, dari Cipta Media Ekspresi.

“Ternyata tidak mudah ya membaca karya sastra, harus benar-benar menjiwai dan bisa berekspresi,”ujar Hermin Yuni Astuti, difabel daksa pegiat difabilitas yang sehari-hari bekerja wirausaha. Sedangkan bagi Yanto, difabel netra ketua Pertuni Kabupaten Wonogiri yang turut serta pun berpendapat nyaris sama. Menurutnya ini pengalaman pertama bagi dirinya. Saat pelatihan, Yanto aktif menyimak dan memberikan pendapat. Dia tidak ikut membaca karya sastra sebab butuh untuk dialihwahanakan ke dalam huruf Braille terlebih dahulu untuk bisa dibaca.

Sedangkan Agatha Febriani, pegiat di FKTN Surakarta dengan latar belakang pendidikan sastra dan bahasa Indonesia mengatakan bahwa mentoring secara privat, satu persatu melalui pembacaan adalah metode yang tepat, dan ke depannya menurutnya latihan bisa dilakukan kembali. Jadi tidak hanya sekali saja untuk mewujudkan kualitas dan performa yang bagus. Agatha yang turut hadir saat pelatihan juga didengar pendapatnya oleh fasilitator. 

Istiono, salah seorang peserta bahkan sangat antusias berlatih karena dia dan kawan-kawan tengah merancang suatu kegiatan untuk mengisi even-even di hari difabel internasional. “Dengan pelatihan ini bahkan, kita tidak hanya menyerap ilmunya saja, tetapi juga mempraktikannya. Meski dengan berlatih lebih keras lagi, di luar kegiatan ini kita akan rencanakan teman-teman akan berani naik panggung,” jelas  Istiono.

Indah Darmastuti, saat ditemui Solider mengatakan bahwa proyek ini tak hanya berhenti kepada pelatihan dan pengisian suara dan dialihkan ke CD, namun nantinya akan ada launching web serta pembagian CD audiobook secara terbatas, yang boleh disebarluaskan dan digandakan kepada masyarakat luas. Pembuatan web ditujukan untuk menampung kreativitas sastra termasuk didalamnya adalah audiobook. “Saya berpikir ini tidak hanya sebuah proyek, tetapi sebuah nafas panjang,” pungkas Indah Darmastuti. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.