Lompat ke isi utama
Screenshot login laman PPDB Sulawesi Selatan

Tak Sepenuhnya Akrab Dengan Pembaca Layar; Laman PPDB Perlu Dibenahi

Solider.id, Makassar – Memasuki tahun ajaran 2018/2019, para peserta didik baru berlomba mendaftarkan diri ke sekolah pilihan masing-masing. Untuk tahun ini, para calon siswa di Provinsi Sulawesi Selatan harus melakukan registrasi secara daring (online) pada sistus PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Dapat diakses melalui tautan http://epanrita.sulselprov.go.id, situs tersebut belum 100% ramah bagi difabel netra.

Dibagi menjadi dua jalur pendaftaran yakni zonasi dan nonzonasi, PPDB untuk jenjang SMA di Provinsi Sulawesi Selatan mulai dilaksanakan pada 20 Juni hingga 12 Juli. Dalam kurun waktu tersebut, para calon peserta didik harus melakukan tahapan pendaftaran sesuai dengan jalur pilihannya masing-masing dan   jadwal yang telah ditetaapkan.

Setelah persoalan data nomor peserta yang tak dikenali oleh sistem, aksesibilitas laman PPDB Sulawesi Selatan perlu dibenahi. Solider mencoba mengakses laman tersebut dengan bantuan pembaca layar, hasilnya terdapat beberapa item yang tak terbaca oleh narator screen reader. Tak hanya pada versi desktop, persoalan serupa juga ditemui pada tampilan versi mobile.

Pada tampilan beranda, nyaris tak ada kesulitan untuk mengakses laman tersebut menggunakan pembaca layar. Baik pada tampilan desktop maupun mobile, difabel netra yang mengunjungi laman tersebut dapat memperoleh hampir seluruh informasi yang dicantumkan. Deskripsi umum mengenai laman tersebut, ketentuan umum, persyaratan peserta didik, dan kontak serta alamat Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, dibaca dengan jelas oleh pembaca layar.

Informasi yang tak terdeteksi oleh pembaca layar terletak pada bagian ragam jalur dan waktu pendaftaran peserta didik. Pada bagian tersebut, pembaca layar hanya menyebutkan kata “Daftar” tanpa diikuti keterangan lembaga tujuan: SMA (Sekolah Menengah Atas), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), atau BS (Boarding School). Ketiadaan keterangan lembaga tersebut, berpotensi menimbulkan kebingungan bagi difabel netra mengenai jalur dan jadwal pendaftaran yang masing-masing berbeda.

Kesulitan berikutnya, terdapat pada saat mengakses form login. Pada tampilan desktop, difabel netra harus menggunakan tombol tab (Tabulasi), menggantikan tombol navigasi atas bawah menuju ke kotak untuk memasukkan nomor peserta sebagai user login. Pada tampilan mobile, difabel netra harus mencari tautan tak berlabel untuk membuka menu login yang tidak muncul secara standar.

Tak hanya itu, setelah pengunjung memasukkan nomor peserta sebagai user login, pengunjung harus memasukkan kode keamanan berupa kombinasi huruf dan angka yang ditampilkan dalam format gambar. Hadir untuk mengantisipasi serangan peretas, kode yang tak terbaca oleh pembaca layar tersebut menyulitkan difabel netra yang mengalami hambatan visual.

Ketiadaan alternatif pilihan seperti verifikasi melalui sms, telepon atau email, maupun alternatif kode keamanan dalam bentuk suara, menyulitkan difabel netra untuk login secara mandiri di laman tersebut. Imbasnya, difabel netra harus meminta bantuan dari nondifabel agar bisa mengakses profil, form pendaftaran siswa, dan hasil pendaftaran.

“Waktu mendaftar, ayah yang daftarkan. Saya sendiri bingung cara daftarnya. Saya pernah lihat situsnya, tapi tidak tau caranya. Sebelumnya juga belum pernah dapat kayak sosialisasi atau penjelasan tentang cara daftar online.” Ujar Nabila Ananda pada 07/03.

Nabilah May Sweetha yang juga turut mendaftar tahun ini juga mengutarakan “Saya tidak tau cara daftar lewat situsnya. Selama ini dibantu daftar sama siapapun yang ada disini. Saya juga sering coba akses sendiri, tapi kalau bukan erorr, saya malah yang pusing tidak mengerti langkah-langkahnya.” Tukasnya.

Yoga Indar Dewa, difabel netra kelahiran Maros menyatakan “Saya pernah coba buka situsnya, dan menurut saya susah diakses. Saya juga bingung kenapa harus ada kode keamanan seperti itu, padahal situs itu memang mau dibuka banyak orang. Untuk nondifabel mungkin tak ada masalah soal kode itu, tapi buat difabel netra, susah karena tak terbaca sama screen reader.” Jelas alumnus SMA 16 Makassar pada.

Dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi & Transaksi Elektronik (ITE), Pasal 4 butir c, d, dan e dijelaskan mengenai asas pemanfaatan informasi elektronik, yakni:

  1. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;
  2. Membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dan
  3. Memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.

Sistem daring yang diharapkan menjadikan PPDB mudah diakses semua kalangan, bersih dari praktik kecurangan, berkeadilan, dan meningkatkan efektifitas dan efesiensi pelayanan, sepatutnya juga mempertimbangkan akses difabel netra. Sebagai bagian dari masyarakat, difabel netra juga berhak mengakses secara mandiri sistem registrasi tersebut, sesuai dengan amanah perundang-undangan yang telah menetapkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi elektronik. [Syarif Sulaeman]

The subscriber's email address.