Lompat ke isi utama
Salah satu orangtua Tuli

Mengenal dan Mempraktikkan CODA bagi Tuli

Oleh Raka Nurmujahid

 

Solider.id- Dari berbagai pengalaman Tuli ataupun orangtua tuli dengar sering menghadapi persoalan tentang bagaimana menjembatani komunikasi di dalam lingkup keluarga, khususnya bagi anak Tuli yang lahir dari keluarga dengar dan sebaliknya. Mulai dari komunikasi biasa, sampai bagaimana memberikan edukasi terhadap anak dengan hambatan pendengaran.

Sedangkan untuk menjawab kebutuhan anak Tuli dan orangtua dengarnya perlu ada kesinambungan komunikasi, antara peran oirang tua yang harus memahami bahasa isyarat, begitupun anak tuli yang juga harus memahami bahasa lisan.

Pada mulanya seorang bernama Millie Brother yang mendirikian organisasi bernama Children Of Deaf the Adult (CODA) pada 1983. CODA sendiri memiliki pengertian orangtua Tuli semua baik ayah dan ibu semua Tuli yang mempunyai anak dengar yang mendidiknya menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi di luar rumah. Sehingga Anak dengar akan berbicara dengan sesama dengar menggunakan bahasa lisan.

Pengertiannya yang lain adalah anak dengar yang dilahirkan oleh orangtua Tuli akan memiliki kemampuan berbicara dengan dua bahasa sama baiknya yaitu bahasa isyarat dan bahasa lisan disebut dengan bilingual.

CODA sendiri memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pengalaman unik yang lahir dari dua budaya (komunikasi) yang berbeda. CODA mempercayai bahwa dari dua budaya komunikasi yang berbeda terdapat pengalaman universal yang dirasakan oleh Codas atau orangtua Tuli yang memiliki anak dengar.

Anak dengar yang dilahirkan oleh orangtua Tuli biasanya langsung mendidik anak dengar dengan bahasa isyarat pada usia balita. Tujuannya agar kelak anak dengar yang dididik oleh orangtua Tuli dapat berkomunikasi dengan orangtua Tuli pakai bahasa isyarat dengan baik dan lancar.

Kemudian anak dengar tetap akan mendapat bimbingan dengan bahasa lisan bisa melalui sebuah bermain bersama dengan teman dengar di luar rumah. Tujuannya adalah tetap bisa berkomunikasi dengan orang dengar dengan bahasa lisan dengan baik. Meski orangtua Tuli memakai bahasa isyarat dan dapat belajar berbicara dengan bahasa lisan dengan baik. Selain karena sudah mahir berbahasa isyarat dengan baik atau sudah belajar membentuk gerakan tangan sebagai alat komunikasi bahasa isyarat.

Dari sanalah saya kira, Coda memiliki manfaat jika dipraktikkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa anak balita dengar yang dididik dengan bahasa isyarat akan lebih cerdas dalam segi berbahasa karena sudah paham bahasa sejak umur satu tahun.

Sebagaimana contoh dari pengalaman saya ketika berkomunikasi dengan Galuh, seorang orangtua Tuli mempunyai anak dengar bernama Haleema. Halmeema sendiri berusia dua tahun, ia sudah mahir berbahasa isyarat dengan baik dan dapat berkomunikasi dengan orang sesama dengar dengan bahasa lisan. Selain itu, ia dapat menjadi penerjemah bahasa isyarat dengan baik dan lancar karena sudah dididik dengan bahasa isyarat oleh orangtua Tuli sejak masih balita.

Manfaat dari praktik baik CODA sangat penting bagi anak dengar. Mereka cerdas dan mampu menguasai banyak bahasa yang dikuasai termasuk bahasa isyarat. Sehingga dapat berkomunikasi dengan semua orang termasuk teman-teman Tuli, bahkan dengan bahasa isyarat yang berbeda-beda.

Hal itu juga sama berlaku pada orangtua tersebut, dimana ayah Tuli dan ibu dengar begitu sebaliknya (ayah dengar dan ibu Tuli) mendidik anak dengar dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa isyarat dan bahasa lisan.

Ayah Tuli akan mengajari anak dengar menggunakan bahasa isyarat begitu juga ibu dengar yang bisa bahasa isyarat. Mendidik anak dengar dengan dua bahasa sekaligus yaitu bahasa isyarat dan bahasa lisan. Tujuannya agar dapat berkomunikasi dengan ayah Tuli dan ibu dengar dengan cara bahasa isyarat dengan baik meskipun ibunya bukan Tuli, melainkan dengar. Begitu juga anak dengar tetap bisa belajar berbicara bahasa lisan dari ibu dengar yang bisa bahasa isyarat.

Namun yang terpenting bahwa, baik ibu dengar atau ayah dengar harus bisa berbahasa isyarat dengan baik. Hal itu yang dilakukan agar dapat berkomunikasi dengan anggota keluarga dengan baik dan tidak ada yang bermasalah hanya karena perbedaan bahasa tersebut.

Anggota keluarga di rumah bisa saling belajar menghargai perbedaan budaya, bahasa, dan nilai-nilai yang ada di tubuh anggota keluarga dimana terdapat ada dua budaya yang berbeda-beda yaitu budaya Tuli dan budaya dengar. Hal ini sejalan dengan mewujudkan keluarga yang hidup bebas, hidup bersama, hidup berdampingan, dan hidup tanpa diskriminasi meski terdapat adanya perbedaan.

Pada dasarnya orang dengar dan orang Tuli sama-sama memiliki kesempatan yang sama yaitu dapat menguasai banyak bahasa yang dipelajari. Baik bahasa isyarat maupun bahasa lisan misalnya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Spanyol, Bahasa Prancis, (bahasa lisan bagi orang dengar dan bahasa tertulis bagi orang Tuli) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia), ASL (Bahasa Isyarat Amerika Serikat, AUSLAN (Bahasa Isyarat Australia), BSL (Bahasa Isyarat Inggris) dan lain sebagainya.

Bahasa isyarat bagi orang Tuli dan boleh juga orang dengar yang ingin belajar agar dapat berkomunikasi dengan orang Tuli berasal dari luar negeri. Sebagaimana Galuh sanggup menguasai tujuh bahasa isyarat (BISINDO, ASL, AUSLAN, dan lain-lain) dan begitu juga Agus Salim seorang dengar sanggup menguasai 9 bahasa lisan (Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan lain-lain).

 

*Penulis bagian dari anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo.

The subscriber's email address.