Lompat ke isi utama
Mulyanto Utomo, wartawan senior saat memberikan suaranya pada TPS yang tidak akses (sumber foto : Facebook)

Menilik Aksesibilitas Pilkada Serentak di Beberapa Daerah Jawa Tengah

Solider.id, Surakarta- Sugian Noor seorang difabel pengguna kursi roda menyatakan kegelisahaannya saat melaksanakan hak demokrasi dengan mencoblos pada Pilkada serentak 27 Juni 2018. “TPS 1 Kelurahan Penumping Surakarta tidak akses tetapi petugas dengan sigap membawa bilik suaranya ke bawah,”ujar Sugian.

Sementara itu pernyataan nyaris senada dikatakan oleh Yulianto dari Forum Koordiansi Tuna Netra (FKTN) Surakarta yang mengatakan bahwa kertas suara ber-braille (template) masih kacau, sebab nama calon tidak terbaca semuanya karena braille tercetak pecah. “Pantauan di group netra semua begitu. Dan kemarin waktu sosialisasi alat coblos untuk KPPS mayoritas KPU di Jawa Tengah yang diundang adalah perwakilan jadi info dari group netra Jateng, di Boyolali, Kecamatan Kaliyoso dan Kabupaten Sukoharjo template tidak ada karena petugas KPPS banyak yang tidak tahu,”imbuh Yulinato..

Edy supriyanto dari Sehati Sukoharjo saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pelaksanaan pilkada lancar namun ada beberapa TPS kurang akses. “Akses tidaknya sebenarnya tergantung rumah yang ditempati sebagai TPS. Saat ini kami belum cek TPS yang digunakan untuk pencoblosan difabel netra,”jelas Edy. Lebih lanjut Edy mengatakan jika dilihat ke belakang sosialisasi pilgub dengan berbagai seremonial dengan peserta perwakilan, namun sayangnya yang mewakili tidak meneruskan ke komunitasnya. “Syukurlah difabel semangat mencoblos walaupun dengan berbagai hambatan tidak hanya ke KPU saja tetapi juga panwas. Karena KPUD sudah bekerja keras meminta KPPS untuk membuat aksesibilitas tapi dalam pelaksanaannya ada anggota KPPS yang belum memahami.”

Pernyataan Edy Supriyanto tidak berbeda jauh dengan pengalaman yang dialami oleh Yanto, Ketua Pertuni Wonogiri. Dihubungi lewat pesan singkat, saat selesai memberikan suara di bilik suara dengan template, ada salah seorang petugas KPPS yang bertanya kepadanya,”Ini apa?” lalu dijawab bahwa itu adalah kertas suara ber-braille atau template untuk difabel netra.

Siti Dana, petugas lapangan PPRBM Solo untuk wilayah Kabupaten Semarang bersama kelompoknya berkeliling ke TPS-TPS memastikan TPS agar akses. Perannya sebagai petugas lapangan juga meyakinkan keluarga difabel yang memiliki hak pilih dan yang belum dapat undangan agar bisa mencoblos dengan membawa e-KTP dan Kartu Keluarga. “Termasuk difabel autis dampingan di Kelompok Harapan Mandiri juga turut mencoblos. Salah seorang difabel daksa berkursi roda dari kelompok ini yang juga mengakses pilkada adalah Astri, Cerebral Palsy,”ujar Siti Dana.

Suratmin Halim, difabel yang tergabung dalam Spinal Cord Injuring (SCI) dan Paguyuban Penyandang Cacat Klaten (PPCK), warga Dukuh Gesing, Kelurahan Jatipuro, Kecamatan Trucuk saat diwawancarai oleh Solider lewat media sosial mengatakan bahwa dia telah kehilangan hak untuk mencoblos karena Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak akses. “Saya tidak mencoblos karena TPS tidak akses. Dari dulu lokasinya di rumah penduduk yang tinggi dan pakai undak-undakan. Padahal saya nggak bisa naik. Bayangkan, berjalan di tanah datar saja saya kesusahan,”tegas Suratmin Halim, cerebral palsy yang pernah menggunakan hak suaranya saat Pilpres tahun 2009.  

Sementara di media sosial seperti Facebook, akun atas nama Mulyanto Utomo, difabel pengguna kursi roda menuliskan,”Tempat Pemungutan Suara (TPS) di kampung saya ternyata tidak aksesibel untuk difabel berkursi roda. Untung petugasnya ramah-ramah dan ringan tangan, sehingga bilik suaranyalah yang berjalan-jalan.” (Puji Astuti)

The subscriber's email address.