Lompat ke isi utama
Ilustasi film the gift Reza Rahardian dan Ayudia (Kredit foto: Montasefilm)

Cerita Suram Romansa Difabel Netra dalam Film The Gift

Solider.or.id, Surakarta- “Kamu cantik,”ujar Harun dengan kalimat bergetar keluar dari bibir disertai ekspresi datar. Harun diperankan dengan apik oleh aktor Reza Rahadian.

Lalu kalimat itu berbalas tanya, “Sudah berapa lama kamu tidak bersentuhan dengan orang lain?” Tiana, novelis yang kos di rumah Harun, kemudian terjebak dalam kesuraman kisah Harun dan masa lalunya.

Dunia yang gelap bagi Harun, gelap bukan hanya karena kebutaan yang dialaminya tetapi juga masa lalu sebelum dia mengalami kecelakaan tragis. Harun bercerita kepada Tiana bahwa dirinya dulu adalah seorang yang suka melakukan “molimo”, madat, minum, madon, maling, dan main.

Harun lahir dari seorang ayah ningrat, militer dan diplomat. Dengan seting Yogya, lengkap sudah framing tersebut. Menurut ceritanya, ayahnya seorang pendiam dan dingin. Ibu Harun membenci ayahnya.

Pesan moral tentang “molimo” itu diucapkan oleh Harun dengan intonasi dan gestur tubuh seseorang yang hadir dengan latar belakang suram. Meski agak janggal karena pesan itu begitu nyata, namun akting Reza Rahadian mampu menutupinya.

Tiana diperankan dengan sangat menjiwai oleh Ayushita, “seorang novelis yang gagal,” begitu menurut pengakuannya di hadapan Harun. Gambar-gambar dengan warna suram, ditunjang dengan penulisan narasi skenario yang sejak awal diceritakan bahwa Tiana akan mengunjungi sebuah tempat di masa lalu, yang akrab dengan bau kayu serta vernis.

Kota lama yang layak untuk dirindukan. Gambar meloncat-loncat dari kekinian, antara dunia sepi Tiana dan Harun, serta kilas balik masa kecil Tiana saat di panti asuhan dan ditemani oleh ibu asuh yang baik hati serta sahabatnya laki-laki si Bona, yang di kemudian waktu, adegan demi adegan, Bona hanyalah teman imajiner Tiana.

Di mana hingga masa kini pun Tiana, diusianya yang ke 30 tahun, masih berinteraksi dengan “Bona”. Saya pikir kehadiran “Bona” menguatkan dari sisi pikologis latar belakang seorang penulis yang memiliki masa lalu yang gelap.

Sebuah cerita tentang kisah novelis yang kompleks: masa lalu suram, teman imajiner, dan kehidupan percintaan dengan Harun yang mengalami tarik ulur ketika tiba-tiba dr. Arie, anak pemilik panti asuhan datang dan mengabari jika dia telah menemukan ayah Tiana di sebuah panti.

Arie menyambangi di hari ulang tahunnya, serta melamar dan hendak dibawa ke Itali. Pembicaraan yang didengar oleh Harun dan sejak saat itu dia menganggap Tiana berbohong kepadanya. Adegan pertengkaran ini sangat dijiwai oleh Reza dan Ayushita.

Reza dengan latar suram, dari awal cerita terlihat sebagai seorang yang temperamental. Dia masih berkubang dalam masa lalu, hingga Tiana datang, mengajaknya belajar menari di sanggar, dan melukis lagi serta membuat kreasi patung Tiana.

Hari-hari menikmati pantai dan gunung bersama Tiana adalah hari-hari yang ditinggalkan oleh Harun. Selama ini dia hanya mendekam di dalam kamar, merokok hingga berbatang-batang dan mendengarkan musik rock dari sebuah tape recorder usang dengan suara sangat keras.

Satu adegan digambarkan Tiana kecil ketika mengucapkan kalimat kepada ibu asuhnya, “Mengapa hingga hari ini ketika di sekolah, ditanya siapakah orang yang mencintaimu, aku tidak bisa menyebut kata Ibu.”

“Mulai sekarang kamu punya ibu lagi,” timpal pengasunya. Kala itu ayahnya pergi dari rumah dengan berondongan cacian serta makian. Pertengkaran-pertengkaran hebat mereka membuat Tiana kecil lari dan menyembunyikan diri di kamar serta meringkuk di dalam lemari, kabiasaan itu dilakukannya hingga kelak dia dewasa. Tiana kecil melihat dengan mata kepalanya sendiri sang ibu gantung diri di pintu.

Ketika dr. Arie mengajak Tiana menikah dan kehidupan dilanjutkan ke negeri Italia, sebenarnya sejak saat itu cerita langsung bisa ditebak. Ayah Harun yang menjadi diplomat dan bertugas di Italia dengan segala upaya ingin Harun tinggal di sana dan melakukan transplantasi mata.

Di benak penonton pasti sudah terbersit bahwa nanti akan ada pertemuan di antara keduanya. Benar saja, Tiana yang mengetahui bahwa pasien transplantasi mata suaminya adalah Harun, dia menyambanginya di rumah sakit. Lalu oleh suatu sebab dia harus menolong saat Harun terjatuh.

Meski sudah berusaha untuk tidak mengungkapkan jatidirinya, tetapi Harun merasa bahwa perempuan yang dihadapannya adalah Tiana. Dan oleh sebab itu diungkapkan kepada dokter Arie alasan dia ingin dapat “melihat” lagi adalah untuk bertemu dengan perempuan yang ada di dalam foto yang dia tunjukkan.

Pergulatan kembali terjadi dalam diri Tiana. Sebuah adegan di rumah sakit saat usai penngkokan mata berhasil dilakukan dokter Arie. ”Ini hadiah sebuah novel dari Tiana. Dia tidak memilih aku dan kamu.”

Novel “Anak Kolong Langit” bercerita tentang kisah mereka. Ending film The Gift yang nge-twist ditunjukkan saat di sebuah taman di negeri Italia Tiana yang selalu menor di setiap detik adegan film ini. Tiana berkaca-mata hitam duduk berhadapan dengan sebuah laptop dan tampak bermain dengan seekor hewan piaraan.

Harun mendekatinya tanpa suara, dan mengambil asbak yang penuh puntung rokok. Lalu Tiana menaburkan debu rokok itu di atas meja. Adegan yang nyaris sama di awal film. Persis! Mengalirlah air mata Harun.

Pesan yang bagus dari film The Gift adalah bahwa setiap orang bisa dengan tiba-tiba menjadi difabel, dengan atau tanpa alasan, bisa karena penyakit, kecelakaan atau mungkin bencana.

Akting Reza Rahadian sangat bagus, ditunjang dengan detail seperti ciri film-film Hanung Bramantyo sebelumnya yang rijit dan detail. Lalu cara Reza menggunakan tongkat putih pun juga sudah mumpuni. Pun tatkala menyentuh ponsel bicara. Juga ketika adegan di Kaliurang, sesaat sebelum hujan. Bahwa dia sudah bisa menduga hujan akan turun. Reza Rahadian untuk akting di film The Gift belajar secara langsung kepada 9 orang difabel netra.

Ayushita demikian pula aktingnya yang berhadapan dengan seorang difabel netra terlihat natural karena latar belakangnya pernah bermain dalam film “TIdak Bicara Cinta” di tahun 2013 bersama Nicholas Sapuitra. Film yang disutradari oleh Mouly Surya tersebut bercerita tentang difabel netra dan memenangi berbagai festival film.

Ditunjang dengan setting dalam kereta api Yogya, lanskap Kaliurang serta Menara Pisa yang melegenda menambah keelokan gambar film The Gift yang disertai subtittle berbahasa Inggris ini. Drama romansa yang digarap dengan apik, sepaket dengan kehidupan nyata sehari-hari keluarga ningrat dengan penggambaran simbok yang momong serta segenap pembantu rumah tangga.

Akting para pemain lain seperti Dion Wiyoko yang berperan sebagai dokter Arie dan Romaria Simbolon (9) yang memerankan Tiana kecil sangat bagus. Anirudhya (58) produser film The Gift yang berbiaya 6,5 milyar mengatakan bahwa kisah film tersebut terinspirasi dari perjalanan hidupnya yang mengalami berbagai kisah dan menemui bermacam karakter manusia. “Mungkin dari sana inspirasinya berasal. Tetapi cerita film ini fiksi,”tuturnya.

 

 

Judul Film: The Gift | Pemeran: Reza Rahadian (Harun), Ayushita (Tiana), Dion Wiyoko (Arie) | Rilis: 24 Mei 2018 | Sutradara: Hanung Bramantyo | Skenario: Ifan Adriansyah Ismail | Produser : Anirudhya Mitra, Rodney L. Vincent, Ajeng Vincent | Cerita : Hanung Bramantyo, Anirudhya Mitra | Durasi : 118 menit | Peresensi : Puji Astuti

The subscriber's email address.