Lompat ke isi utama
screenshot saat proses pendaftaran online

Kunci Online Milik Siswi Difabel Netra Asal Makassar Sudah Dikenali Sistem PPDB

Solider.id, Makassar – Nabilah Ananda dan Nabilah May Sweetha, dua siswi difabel netra asal Kota Makassar kini dapat bernafas lega. Pasalnya, permasalahan pendaftaran mereka untuk melangkah ke jenjang SMA, telah memiliki titik terang.

Seperti telah diberitakan  tulisan sebelumnya pada laman https://www.solider.id/baca/4610-tak-dikenali-sistem-dua-siswi-difabel-…, dua siswi alumni salah satu lembaga pendidikan khusus di Makassar tersebut, was-was tak dapat melanjutkan pendidikannya di sekolah inklusif. Nomor peserta yang diambil dari nomor peserta ujian nasional, tak dapat digunakan untuk login pada sistem pendaftaran online di laman http://epanrita.sulselprov.go.id.

Keterangan nomor peserta tak dikenali hingga profil siswa yang tak sesuai dengan identitas, mewarnai perjuangan mereka sejak sistem pendaftaran siswa online dibuka pada 20 Juni. Didampingi orang tua, organisasi difabel, dan pihak yang peduli dengan upaya, semangat serta tekad mereka, kedua siswi tersebut hilir mudik meminta kejelasan kepada pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

Setelah melalui berbagai percobaan login, penggantian nomor peserta, hingga rencana menemui langsung Kepala Dinas Pendidikan, nomor peserta alternatif yang diberikan pihak Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan telah dapat mereka gunakan untuk login ke sistem pendaftaran siswa online pada Minggu 24 Juni.  Dengan berfungsinya nomor peserta mereka, kedua siswi tersebut akhirnya bisa melakukan proses registrasi diri pada laman pendaftaran online siswa SMA untuk tahun ajaran 2018/2019.

“Alhamdulillah, sudah bisa login dan sudah bisa mendaftar hari ini. Tadi awal-awal masuk sempat ada sedikit masalah karena sekolah tujuannya tidak muncul, terus dihubungi pihak Dinas, ternyata ada sedikit salah paham karena dipikirnya saya mau daftar di SMA padahal di SMK. Setelah dilakukan reset, pendaftarannya bisa dilanjutkan sampai selesai.” Ucap Nabilah Ananda pada 06/24.

“Alhamdulillah, nomor peserta saya sudah bisa login. Tadi saya coba masuk, nama dan identitas sekolahnya sudah benar, bukan Abdul Khalik lagi. Tapi mungkin karena hari minggu atau karena sudah sore, tadi ada keterangan pendaftaran tutup, jadi rencananya besok jam delapan pagi baru coba daftar, mudah-mudahan tidak ada masalah lagi.” Harap Nabilah May Sweetha pada 06/24.

“Sebagai orang tua tentunya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang bersedia membantu meskipun ada juga yang sepertinya enggan terlibat. Dari organisasi difabel, kakak-kakaknya Nabilah, dan semua pihak yang selama proses ini tak bosan-bosan kami tanyai dan mintai bantuan, sekali lagi kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.” Terang Yuli Ibunda dari Nabilah Ananda pada 06/25.

Tahapan ini tentu bukan akhir perjuangan, proses ini menjadi ajang pemanasan dan penguatan mental keduanya sebelum melangkah memasuki pendidikan inklusif. Tak sepatutnya di negara yang memiliki aturan perlindungan difabel dan telah meratifikasi CRPD (Convention On The Rights Of Persons With Disabilities), mempersulit dan tak mengakomodir difabel mengakses pendidikan yang merupakan salah satu haknya sebagai warga negara.

Sistem pendaftaran yang kini turut mengikuti perkembangan zaman, tak boleh melupakan hak satupun anak bangsa yang ingin mengenyam pendidikan di negeri ini. Pembenahan dan perbaikan serta pemeliharaan sistem pendidikan harus senantiasa dilakukan, agar amanah mencerdaskan bangsa dalam konstitusi negeri ini dapat benar-benar terwujud termasuk bagi difabel. (Syarif Sulaeman)

The subscriber's email address.