Lompat ke isi utama
Salah satu agenda kegiatan komunikasi

Kiat Membangun Komunikasi Efektif bagi Organisasi Difabel

Solider.id, Malang- Empat tahun lalu, pada 1 Juni 2014 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, sebuah perkumpulan bernama Lingkar Sosial lahir dengan tujuan membantu masyarakat marjinal. Riilnya, perkumpulan yang kemudian bertransformasi menjadi Yayasan Lingkar Sosial Indonesia ini bergerak dalam bidang pemberdayaan difabel melalui optimalisasi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang ada.

Sebagai organisasi yang usianya terbilang masih muda, keberadaan Lingkar Sosial cukup populer dikenal masyarakat baik oleh kalangan difabel sendiri maupun masyarakat umum, lintas komunitas/organisasi , perguruan tinggi dan instansi pemerintah.

Hal ini karena adanya komunikasi yang baik dan berbagai aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya kalangan difabel. Menurut Lingkar Sosial Indonesia komunikasi yang baik dan aksi nyata dalam merupakan kunci terpenuhinya sebuah peran suatu organisasi dan pemantik tumbuhnya kepercayaan masyarakat yang kemudian menjadi landasan fundamental tumbuh kembang dan keberlanjutan organisasi.

Dampak dari pemahaman tersebut, Lingkar Sosial Indonesia atau Linksos selama 4 tahun berjalan ini memiliki berbagai program kegiatan. Keseluruhannya dibiayai oleh masyarakat atau swadaya masyarakat di antaranya kelompok kerja difabel, pelatihan android difabel netra, galeri kerajinan tangan, taman baca masyarakat, pelatihan jurnalistik, penerbitan buku dan sebagainya. Masyarakat percaya bahwa membantu Lingkar Sosial berarti mendukung upaya pemberdayaan difabel.

Membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak

Komunikasi merupakan upaya menyampaikan pemikiran atau tujuan tertentu kepada pihak lain baik melalui lisan, isyarat maupun lambang-lambang lainnya. Komunikasi bertujuan untuk menyetarakan pemahaman pihak satu dan lainnya sehingga terjadi keharmonian tindakan. Komunikasi juga bisa bertujuan untuk mempengaruhi pihak lain agar melakukan hal yang sama.

Komunikasi organisasi, secara internal bertujuan membangun kesetaraan pemahaman rencana dan strategi aksi organisasi antar pengurus dan anggota. Sedangkan secara eksternal membangun pemahaman masyarakat tentang misi dan visi organisasi. Komunikasi yang berhasil dalam internal organisasi akan menciptakan pengurus yang solid dan anggota yang militan.

Secara sadar mereka kemudian mendedikasikan secara penuh pikiran dan tenaga untuk membangun organisasi. Secara eksternal komunikasi yang berhasil akan memahamkan masyarakat sehingga mereka memberikan dukungannya.

Salah satu cara mudah membangun komunikasi internal bagi organisasi difabel adalah melalui media sosial. Alasannya media sosial merupakan alat yang paling murah dan akses di tengah berbagai hambatan aksesibilitas yang dialami difabel. Komunikasi bisa dilakukan melalui grup-grup whatsapp, facebook dan lainnya.

Dalam komunikasi eksternal, selain memanfaatkan media sosial untuk terhubung dengan masyarakat luas, Lingkar Sosial juga menggunakan website untuk menyiarkan berbagai kegiatannya. Diawali dengan blog-blog gratisan hingga kini memiliki website profesional, Linksos berprinsip bahwa komunikasi merupakan jembatan kesetaraan pemahaman satu pihak dengan pihak lainnya. Bagi organisasi difabel maupun nondifabel, hal ini tentu saja penting untuk memenuhi peran ormas sebagai pelayan masyarakat.

Difabel dalam pencitraan melalui media

Ada kisah memprihatinkan yang diceritakan kepada penulis oleh rekan-rekan aktivis kusta dalam peringatan hari kusta sedunia di Blitar tahun lalu. Sebagai seorang jurnalis tentu saja penulis siap meliput berbagai aktivitas difabel dalam jangkaunnya.

Namun obsesi rekan-rekan untuk dapat diliput oleh media cetak nampaknya tak dapat dibendung. Diam-diam mereka membayar wartawan media cetak lokal sebesar 750 rupiah agar diliput. Nilai yang cukup besar bagi komunitas kusta yang didapat dari iuran anggota.

Alhasil mengecewakan, berita yang terbit hanya pada sudut koran sebagai berita pendek dengan foto berwarna hitam-putih. Itupun yang diliput bukan statmen aktivis kusta melainkan staf dinas kesehatan yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Kisah lainnya masih terkait dengan komunuikasi organisasi difabel, adalah antusias kelompok musik difabel netra di Malang yang ingin diliput media televisi. Mereka rela membayar sejumlah uang untuk per lagu yang bisa tayang di televisi. Upaya berhasil, mereka diliput media televisi lokal dan tayang beberapa kali. Namun hal yang sesungguhnya mereka harapkan yaitu eksistensi dan popularitas belum didapatkan.

Usut punya usut salah satu penyebabnya adalah konsep komunikasi yang kurang tepat. Liputan belum menunjukkan bagaimana sebuah kelompok difabel mampu berkarya secara apik dalam bidang musik, melainkan kelompok musik biasa yang harus bersaing dengan komoditas lainnya semacam Didi Kempot dan Via Valen. Mereka yang tampak tampil di layar kaca tersebut dengan formasi satu orang difabel netra sebagai bassis dan lima orang non difabel dari anak jalanan sebagai pemegang alat musik lain dan vokalis.

Tak ada salahnya kelompok musik difabel berkolaborasi dengan nondifabel, namun formasi tersebut secara otomatis mengurangi pencitraan difabel sebagai kelompok yang mampu dalam bermain musik. Mencitrakan difabel melalui media saat ini memang masih menjadi persoalan tersendiri berkaitan dengan pemahaman awak media, pihak pendukung maupun paradigma difabel sendiri.

Pada pandangan media misalnya, salah-satunya menempatkan difabel obyek pemberitaan yang membuat masyarakat penasaran atau ingin tahu. Misal berita dengan judul: Lihat Ekspresi Wajah Difabel ketika Menerima Bantuan Kursi Roda. Juga dalam pandangan pihak pendukung atau sponsor, memberitakan mereka memberikan bantuan kursi roda dan paket sembako lebih banyak dipilih untuk mencitrakan diri mereka sendiri.

Artinya mereka sebenarnya tidak menyumbang melainkan menjadikan difabel sebagai obyek pencitraan. Langkah-langkah pemberdayaan masih minim dipilih karena dianggap membutuhkan waktu dan biaya yang lebih banyak.

Berkaitan dengan paradigma difabel, sebagian dari mereka masih tak peduli apakah suatu dukungan dari pihak lain bersifat charity atau pemberdayaan. Ketidakpedulian ini bisa bersumber dari ketidaktahuan atas pengetahuan yang dimiliki.

Mengatasi hal ini merupakan bagian dari tanggungjawab komunitas dalam turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Komunitas difabel wajib mengarahkan dukungan-dukungan yang bersifat karikatif menjadi upaya pemberdayaan.

Riilnya seperti dilakukan Lingkar Sosial Indonesia dan jaringannya. Di antaranya Yayasan Peduli Kasih KNDJH dan Harmoni Cinta. Mereka dikenal sebagai organisasi penyantun yang peduli terhadap para dhuafa termasuk difabel yang membutuhkan bantuan.

Diketahui dari akun media sosial mereka, nampaknya ribuan paket sembako dan puluhan alat bantu difabel telah didonasikan. Organisasi ini syarat dengan program-program charity. Namun berhubungan dengan Lingkar Sosial Indonesia mereka mampu berbelok mengikuti alur pemberdayaan.

KNDJH setelah mendonasikan 10 mesin jahit portabel bagi difabel pada wisata edukasi hari disabilitas internasional tahun 2017 lalu, terus berlanjut mendukung Lingkar Sosial Indonesia melalui permodalan kelompok kerja difabel. Bahkan belum lama yayasan ini memwakafkan bangunan toko yang kini menjadi Galeri Perca Malang yang menampung olahan perca dan kerajinan tangan lainnya karya difabel.

Sedangkan Harmoni Cinta setelah membantu Linksos untuk evakuasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari kediamannya ke rumah sakit jiwa berlanjut mendukung pelatihan android difabel netra. Dalam tahun ini komunitas sosial ini juga akan kembali mewujudkan dukungannya melalui berbagai macam pelatihan untuk difabel dari kuliner, cukur, pijat, bengkel, salon dan sebagainya.

Jaringan lainnya adalah perguruan tinggi, diantaranya Universitas Ma Chung setelah memberikan dukungan untuk pelatihan android difabel netra bersama Adi Gunawan Institut akan berlanjut dengan berbagai kegiatan pelatihan serta penelitian yang berkaitan dengan teknologi bagi masyarakat berkebutuhan khusus. Sedangkan Universitas Brawijaya melalui program Difabel Movement dari Metamorphose Home Fakultas Ekonomi dan bisnis, pihak kampus akan mengirimkan mahasiswa magang yang akan membantu Lingkar Sosial Indonesia dalam bidang manajeman administrasi, keuangan dan pemasaran kelompok kerja difabel.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Lingkar Sosial Indonesia secara masif dan sistematik mengkampanyekan organisasinya melalui berbagai media sebagai kelompok difabel yang memiliki semangat pemberdayaan. Sehingga branding organisasi difabel berdaya melekat pada diri mereka. Dengan tegas mereka juga menolak berbagai tawaran program yang semata mendudukan difabel obyek charity dan obyek proyek. Penolakan pun tidak bersifat serta merta melainkan melalui proses lobi agar bisa membelokkan program ke arah pemberdayaan.

Saatnya difabel mandiri di bidang media komunikasi

Kampanye secara masif dan sistematik yang dilakukan Lingkar Sosial adalah sebagian dari langkah-langkah inovatif organisasi difabel lainnya di Indonesia. Mereka bahkan menciptakan media-media pemberitaan khusus difabel seperti Solider, Ekspedisi Difabel serta Gerak Inklusi, dan Kartunet.

Gaya liputannya pun beragam, Solider dari Sigab Indonesia terkesan mendalam, dan ilmiah serta advokatif. Lembaga ini juga mendidik para difabel dari berbagai tempat di Indonesia untuk menjadi jurnalis. Sementara ekspidisidifabel dari Perdik Sulsel tampil secara kritis dan penuh gelora. Sedangkan Lingkar Sosial memilih tampilan soft dan enjoy dengan tulisan sekira 3-4 paragraf saja agar dapat menjangkau pembaca dari berbagai latar belakang pendidikan dan sosial.

Apapun bentuknya kemandirian difabel di bidang media sangat penting sebagai bentuk kekuatan komunikasi yang berpotensi membangun paradigma masyarakat agar berpikir searah dengan misi dan visi pemberdayaan. Difabel sebagai individu yang masih sarat dengan hambatan aksesibilitas melalui media dapat bebas hambatan dengan tetap berpegang pada etika dan estetika.

Langkah mudah menjadi mandiri di bidang media komunikasi dalam hemat penulis adalah memanfaatkan media sosial dan membuat blog maupun website untuk sosialisasi dengan jangkaun yang lebih luas. Bagaimana cara membuat blog? Jawaban bisa diperoleh melalui seaching di goggle, ketik saja misal: cara membuat blog gratis.

Proses membuatnya pun tidak lama, sekira 3 menit saja konsep dasar blog sudah selesai dibuat. Demikian pula dengan membuat website, jika tidak menguasai ilmu HTML dan pengetahuan dasar lainnya kita bisa minta bantu provider. Namun layanan website biasanya berbayar mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per tahun, tergantung pada kelas/ kategori yang dipilih. Berbeda dengan layanan blog yang banyak disediakan gratis.

Namun terlepas dari model blog maupun website, terpenting adalah pengetahuan difabel dibidang jurnalistik, yaitu pengetahuan untuk mengumpulkan data, mengolah dan mempublikasikan termasuk menentukan sasaran informasi. Dengan pengetahuan tersebut tanpa website pun, misal dengan menggunakan media sosial facebok, kampanye/sosialisasi bisa lebih efektif.

Kita bisa melihat contoh yang paling mudah dengan melihat akun-akun medsos para difabel sukses. Misalnya di Malang terdapat Arif Setyo Budi penari dengan satu kaki, Sadikin Pard pelukis internasional tanpa tangan yang berkarya dengan menggunakan mulutnya. Atau Yohana Febianti Hera difabel netra finalis audisi vokal tahun 2013 yang hingga kini masih fokus di dunia tarik suara.

Mengamati akun-akun mereka nyaris semua unggahan bernilai positif, berkaitan dengan kegiatan karier dan sosial. Hasilnya karir semakin meningkat atas dukungan kepercayaan publik. Selama 4 tahun ini penulis mengamati penggunaan media sosial oleh difabel baik secara individu maupun kelompok. Kebanyakan mereka masih menggunakan medsos untuk menulis persoalan pribadi, masalah cinta dan kegalauan.

Bahkan beberapa akun komunitas dan para penggeraknya ada yang memposting status-status kurang bermanfaat bagi publik seperti menyindir orang lain sehingga tanpa sadar membentuk citra sebagai individu dan kelompok yang sarat dengan konflik. Perilaku semacam ini justru menggambarkan diri yang kurang berkualitas dan menurunkan kepercayaan masyarakat.

Dari uraian di atas, kiat membangun komunikasi yang efektif bagi individu maupun organisasi difabel dalam wawasan penulis adalah pertama, komunikasikan hal-hal positif dan bersifat membangun dengan anggota komunitas dan masyarakat. Langkah ini akan membangun mentalitas dan karakter anggota organisasi serta memupuk kepercayaan masyarakat. Kedua, memanfaatkan alat komunikasi yang paling mudah, murah dan akses, yaitu trend saat ini adalah media sosial. Ketiga, pertemuan langsung secara kultural juga penting, selain membangun silaturahmi juga mengkomunikasikan hal-hal lainya. Keempat adalah pengetahuan jurnalistik untuk peningkatan kemampuan difabel dalam berkomunikasi. [Ken]

The subscriber's email address.