Lompat ke isi utama
aksi simpatik yang dilakukan pegiat difabel di Bandara Adiscipto

Gadis Autis Sempat Ditolak Terbang Maskapai City Link

Description: https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.15752-9/35224840_1891765610854039_5749033692446064640_n.jpg?_nc_cat=0&oh=677f21809a52ba6a3cf85269aee5f079&oe=5BA88053Solider.id.Yogyakarta. Neiska Salsabila (16) beserta keluarga Selasa (12/6) akhirnya diterbangkan City Link dari Yogyakatya menuju Balikpapan, Kalimantan Timur. Setelah sebelumnya, Sabtu (9/6) maskapai penerbangan tersebut menolak menerbangkan Neiska, karena autism yang menyertainya.

Penolakan tersebut diunggah oleh sang ibu di media sosial istagram, dan menjadi kabar viral. Pada  akun istagramnya @annahermawan,  dia mengeluhkan sikap maskapai city link yang menolak menerbangkan putrinya yang autism.

Dia juga mengunggah foto bukti Surat Keterangan Laik Terbang yang dikeluarkan Kantor Kesehatan Pelabuhan Yogyakarta pada tanggal 9 Juni 2018.

Kontan penolakan city link tersebut mengundang keprihatinan sekaligus kekecewaan banyak pihak. Keluarga Besar Sekolah Luar Biasa (SLB) Khusus Austis Bina Anggita Yogyakarta, salah satunya. SLB di mana Neiska selama ini menempuh pendidikan.

Setelah melalui mediasi para guru SLB Bina Anggita Yogyakarta dan beberapa orangtua murid, akhirnya pihak maskapai penerbangan City Link mengizinkan Neiska dan orangtuanya terbang pada Selasa (12/6).

Sesampainya di Balikpapan, ibunda Neiska segera mengabarkan bahwa dirinya dan anaknya Neiska sudah tiba di Balikpapan dengan selamat.

Dia juga menyampaikan bahwa selama penerbangan, pelayanan para pramugari dan crew pesawat ramah. Menurutnya, penolakan menerbangkan putrinya itu dikarenakan kurangnya sosialisasi pada staff ground.  

Curhatan mama Neiska

Sebelumnya Neiska dan orangtuanya sudah berkali-kali menggunakan jasa pesawat City Link untuk bertolak ke Balik Papan. Selama itu pula tidak terjadi permasalahan.

"Saya dan Neiska, sudah bolak balik naik pesawat city link. Selama ini  tanpa masalah,” ujarnya dalam curhatan di akun Istagram.

Tulisan lanjutnya, kebetulan pada penerbangan kami Sabtu (9/6), di ruang tunggu Neiska tidak sabar pengen segera masuk ke pintu keberangkatan. Melihat perilaku Neiska yang tidak seperti orang pada umumnya, petugas mengajak Neiska ke posko kesehatan. Dan di posko Neiska berteriak histeris melihat banyaknya orang yang mengawal dia.

“Kami seperti buronan narkoba yang terciduk," tulisnya pada unggahan foto, Senin (11/6/2018).

Setelah digiring ke posko kesehatan, anak gadinya dinyatakan tidak laik terbang, dengan alasan dapat membahayakan ketika berada di pesawat.

"Selama ini anak kami selalu tenang kalo di pesawat. Yang buat kami sedih, kenapa harus di bedakan penumpang normal dengan autis??," lanjutnya.

Sosialisasi dan advokasi

Kondisi penolakan terhadap penumpang difabel oleh maskapai penerbangan yang terjadi berulangkali itu mengundang reaksi keras dari para pegiat isu difabilitas.

Ro’fah Makin, Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga ibu dari seorang anak autis mengatakan perlunya sosialisasi dan advokasi lanjut. Pasalnya setelah dua kasus penolakan sebelumnya yang berhasil diadvokasi, lagi-lagi kini terjadi lagi.

Kepada teman-temannya Konsorsium Naisonal (Konnas) Difabel Ro’fah memaparkan kasus yang dialami Neiska, teman satu sekolah anak lelakinya yang bernama Dei. Selanjutnya dia menuliskan pesan yang sekaligus pertanyaan. 

“Kasus penolakan yang menimpa Neiska, sebaiknya dilupakan dan maafkan? atau diedukasi dengan tuntutan?” pertanyaan Ro’fah yang butuh tanggapan. [Harta Nining Wijaya].

The subscriber's email address.