Lompat ke isi utama
kumpulan difabel netra sedang tadarus al-wuran braille

Proses Panjang Pencetakan Al-qur’an Braille di Indonesia

Solider.id, Makassar -     Setelah  Supardi Abdu Somad bersama Fuadi Azis dan Darma Pakilaran berhasil memecahkan kode-kode braille pada al-qur’an braille pertama di indonesia, tantangan selanjutnya yang mereka pikirkan adalah bagaimana agar al-qur’an tersebut dapat diperbanyak, sehingga dapat diakses oleh seluruh difabel netra muslim di seluruh indonesia. lagi pula, keinginan atau ekspektasi para difabel netra muslim untuk segera mempunyai Al-Qur’an Braille begitu tinggi. Hal ini kemudian berhasil mendorong inisiatif untuk melakukan penyalinan.

Dalam jurnal yang ditulis Ahmad Jaeni ( History of Al-Quran Braille in Indonesia From Duplication to Standardization (1964-1984), Secara umum perkembangan penyalinan Al-Qur’an Braille di Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga fase, yaitu fase duplikasi, fase adaptasi, dan fase standardisasi.

Fase Duplikasi

Fase ini dimulai setelah keberhasilan Supardi mengungkap AlQur’an Braille Yordania, sehingga mendorongnya untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan bagi tunanetra muslim di Yogyakarta. Dengan merangkul sejumlah tokoh Islam saat itu, impian Supardi pun akhirnya menjadi kenyataan. Tepat pada tanggal 1 Muharam 1384 H/13 Mei 1964, sebuah lembaga dengan nama Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) resmi didirikan. Supardi didaulat sebagai ketua dan M. Solihin (wafat  2012) sebagai wakilnya.

Sejak Yaketunis didirikan beberapa praktisinya dengan serius mulai mengkaji sistem penulisan yang diterapkan dalam Al-Qur’an Braille Yordania. Upaya ini dilakukan karena saat itu memang belum tersedia pedoman penulisan Al-Qur’an Braille, meskipun tulisan Braille dalam bahasa Indonesia telah dikenal dan digunakan. Sementara itu, di dalam naskah Al-Qur’an Braille Yordania yang dapat ditemukan hanya rumus/kode Braille Arab berdasarkan hasil konferensi unifikasi/uniformisasi yang diselenggarakan oleh Unesco tahun 1951. Petunjuk rumus/kode Braille Arab diletakkan di bagian halaman pertama setelah sampul depan dengan tulisan Arab awas (bukan Braille).

Dari hasil upaya inilah diketahui sistem yang diterapkan dalam menulis Al-Qur’an Braille dan kemudian dijadikan sebagai pedoman yang digunakan Yaketunis untuk melakukan penyalinan. Upaya penyalinan dilakukan Yaketunis dengan cara mengadopsi penuh sistem penulisan yang diterapkan dalam Al-Qur’an Braille Yordania. Yaketunis mengawali rintisan penyalinan Al-Qur’an Braille dengan menyusun Juz ‘Amma pada tahun 1964. Penerbitan Juz ‘Amma masih terbatas untuk lingkungan sendiri karena proses penyalinannya masih menggunakan cara manual, yaitu dengan menggunakan reglet dan mesin ketik Braille. Untuk memperluas penyebaran Juz ‘Amma, Yaketunis pernah meminta kepada LPPBI sebagai Lembaga Perpustakaan dan Percetakan Braille Indonesia yang saat itu telah mempunyai mesin cetak Braille, untuk melakukan penggandaan. Namun upaya ini gagal, karena ketiadaan tenaga ahli yang dimiliki LPPBI.

Pada fase ini relatif belum ditemukan persoalan di kalangan difabel netra muslim menyangkut sistem penulisan, karena masih mengacu pada duplikasi sistem Al-Qur’an Braille Yordania, sehingga belum ada versi lain yang berbeda.

Fase Adaptasi

Fase ini merupakan tahapan berikutnya ketika upaya penyalinan Al-Qur’an Braille tidak terpaku hanya pada satu model yaitu Al-Qur’an Braille Yordania, melainkan sudah mulai mengadaptasi model lain. Setidaknya ada dua model penyalinan yang muncul dan berkembang pada fase ini yang masing-masing diprakarsai oleh lembaga ketunanetraan di Indonesia, yaitu Yaketunis Yogyakarta dan Wyata Guna Bandung. Yaketunis mengembangkan model adaptasi yang bersumber dari Al-Qur’an Braille Yordania dan Pakistan, sedangkan Wyata Guna mengembangkan Al-Qur’an Braille yang bersumber pada mushaf tahun 60-an yang pernah diterbitkan oleh Departemen Agama dan populer dipakai umat Islam saat itu.

Adaptasi yang dilakukan Yaketunis merupakan sebuah ikhtiar lanjutan setelah keberhasilannya mengungkap Al-Qur’an Braille Yordania dan menyalinnya. Fuadi Azis, seorang awas yang menjadi kepala penerbitan di Yaketunis saat itu, mempunyai andil yang cukup besar dalam upaya ini.  Dengan memanfaatkan kemampuannya dalam bahasa asing, Yaketunis melakukan jalinan korespondensi dengan beberapa lembaga di luar negeri. Misalnya pada tahun 1968, Yaketunis berhasil menjalin komunikasi dengan The National Federation for The Welfare of the Blind, sebuah lembaga kesejahteraan untuk tunanetra yang berkedudukan di Pakistan. Jalinan korespondensi yang dilakukan Yaketunis ternyata mendapatkan respon yang baik. Hasilnya, Yaketunis mendapatkan kiriman 12 juz  Al-Qur’an Braille dari Pakistan.

Beberapa hal baru yang ditemukan dalam Al-qur’an versi Pakistan menunjukkan keragaman sistem penulisan Al-Qur’an Braille yang berkembang saat itu. Al-Qur’an Braille versi Pakistan telah memperkenalkan beberapa kelengkapan tanda baca (ejaan) yang tidak ditemukan dalam terbitan Yordania, seperti tanda harakat, tanda mad, dan tanda-tanda waqaf. Kelengkapan tanda baca inilah kemudian yang diadopsi oleh Yaketunis dan diadaptasikan ke dalam penulisan Al-Qur’an Braille selanjutnya.

Sejak melakukan adaptasi terhadap Al-Qur’an Braille Pakistan, pada fase ini, Yaketunis telah berhasil menyusun Al-Qur’an Braille dalam 30 juz. Hasil penyusunan tersebut kemudian diserahkan kepada Bapak Menteri Agama untuk ditashih (disahkan setelah sebelumnya dipastikan kebenarannya). Pentashihan dilakukan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an yang saat itu masih di bawah Lembaga Keagamaan. Sebuah tim pun dibentuk untuk melakukan pentashihan dengan melibatkan para praktisi Al-Qur’an Braille. Proses pentashihan (koreksi) berjalan agak lambat karena keterbatasan tenaga yang ahli di bidang Al-Qur’an Braille.  Meskipun demikian, inilah kali pertama keterlibatan pemerintah terhadap keberadaan AlQur’an Braille di Indonesia.

Bersamaan dengan penerbitan Al-Qur’an Braille, Yaketunis menerbitkan sebuah buku “Tuntunan Menulis Huruf Arab Braille (Qawa’id li al-Kitbatil ‘Arabiyyatin Nfirah)” pada tahun 1967. Buku ini terdiri dari dua jilid yang diterbitkan dalam dua bentuk tulisan, Braille dan Latin. Kelahiran buku ini tidak bisa dilepaskan dari peran dan kontribusi Fuadi Aziz sebagai penyusunnya, yang memang memiliki kompetensi dalam bidang kaidah penulisan Arab (al-qawa’id al-imla’iyyah). Setidaknya hal ini tercermin dari sistematika penyusunan buku tersebut yang mempresentasikan sistematika dalam pengajaran gramatika bahasa Arab. Keberadaan buku ini menjadi penting sebagai landasan teoritik bagi aplikasi kaidah dalam penulisan Al-Qur’an Braille versi Yaketunis.

Upaya Yaketunis mengembangkan dan menerbitkan Al-Qur’an ternyata mengundang atensi pemerintah yang lebih besar. Pada tahun 1971, Yaketunis mendapatkan Proyek Penerbitan Kitab Suci Al-Qur’an dari Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama), meskipun masih dalam jumlah yang terbatas. Selain itu, guna menambah kapasitas cetakan, Yaketunis juga mendapatkan bantuan dari Departemen Agama secara berturut-turut berupa electric machine corporation, sebuah mesin ketik Braille bertenaga listrik pada tahun 1973 dan thermoform pada tahun 1975. Dengan perangkat yang telah memadai itu selama kurun tahun 1975 s.d 1977, Yaketunis dapat mencetak kurang lebih 250 set Al-Qur’an melalui proyek Pembangunan Lima Tahun (Pelita).  Al-Qur’an Braille yang telah dicetak dikirim ke berbagai lembaga tunanetra di Indonesia.

Upaya untuk menyalin Al-Qur’an Braille juga muncul dan berkembang di Bandung. Perkembangan penyalinannya tidak bisa dilepaskan dari sosok Abdullah Yatim Piatu, seorang awas kelahiran Aceh. Ketika menjadi juru dikte di LPPBI, Abdullah muda menemukan buku Braille dalam bahasa Arab berjudul Al-Misbah.

Sejak saat itulah muncul pada dirinya rasa ingin tahu untuk mempelajari sistem penulisan Braille dalam bahasa Arab. Secara diam-diam setelah dikuasainya sistem tulisan Braille Arab, Abdullah mulai menyalin Al-Qur’an Braille dengan cara mentranskripsikan Al-Qur’an awas ke dalam huruf Braille Arab. Eksperimennya pun ternyata membuahkan hasil. Pada tahun 1959, surah al-Baqarah dalam huruf Braille Arab berhasil dirampungkan, meskipun belum sempat dipublikasikan.  Atas upayanya ini, beberapa kalangan mencatatnya sebagai pioner penyalinan Al-Qur’an dalam huruf Braille di Indonesia. 

Tanpa disadari rintisan Abdullah ternyata di kemudian hari menjadi sebuah adaptasi model baru dalam penulisan Al-Qur’an Braille di Indonesia. Abdullah menyalin Al-Qur’an tidak melalui proses duplikasi terhadap naskah Al-Qur’an Braille yang telah ada, melainkan mentranskripsikan Al-Qur’an awas ke dalam huruf-huruf Braille Arab. Al-Qur’an awas yang digunakan saat itu merupakan cetakan Jepang.

Upaya penyalinan Al-Qur’an Braille lebih serius baru dilakukan Abdullah setelah pindah ke Yayasan Penyantun Wyata Guna dan bertemu dengan beberapa tokohnya, seperti Hajjah Salim dan KH. Kasywul Anwar. Karena masih langkanya Al-Qur’an Braille saat itu, kedua tokoh ini meminta Abdullah untuk meneruskan penyalinannya hingga 30 juz. Sekitar 2,5 tahun waktu yang telah dihabiskan Abdullah untuk melakukan pekerjaan ini (1974-1976). Hasil penyalinan Abdullah inilah yang kemudian menjadi master/model penerbitan Al-Qur’an Braille di Wyata Guna. Selain itu, Al-Qur’an Braille versi ini dianggap sebagai upaya menyempurnakan sistem penulisan yang telah ada sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pemahaman di kalangan para difabel netra terhadap penulisan Al-Qur’an Braille.

Kehadiran Al-Qur’an Braille versi Wyata Guna menyebabkan munculnya dua model adaptasi dalam penyalinan Al-Qur’an Braille di Indonesia, setelah sebelumnya muncul versi Yaketunis. Perbedaan mendasar dengan versi Yaketunis terletak pada sistem penulisan yang digunakan. Jika Yaketunis berpedoman pada penulisan al-imla’iy dengan merujuk sistem yang dipakai Al-Qur’an Braille dari beberapa penerbit luar negeri (Yordania dan Pakistan), maka Wyata Guna mulai menggunakan sistem penulisan al-‘usmaniy dengan merujuk sistem yang  diterapkan dalam mushaf Al-Qur’an awas. Selain perbedaan prinsip tersebut, ada juga perbedaan teknis menyangkut penggunaan tanda baca. Versi Wyata Guna lebih ekstensif dalam menggunakan tanda-tanda mad dan tanda waqaf sebagaimana yang diterapkan dalam mushaf  Al-Qur’an Awas. Pada tahun 1975 Wyata Guna mengajukan Al-Qur’an Braillenya kepada Lajnah Pentashih Mashaf Al-Qur’an untuk ditashih.

Sejak keberhasilannya menerbitkan Al-Qur’an Braille, Wyata Guna menjadi bagian penting yang turut menyebarkan Al-Qur’an Braille di kalangan difabel netra muslim Indonesia. Hal ini didukung oleh ketersediaan mesin cetak Braille yang satu-satunya ada di Indonesia, sumbangan dari Dr. Hellen Keler kepada difabel netra Indonesia yang diterima oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950-an. Mesin itu kemudian diserahkan kepada Wyata Guna untuk mencetak buku-buku Braille. Braille Press yang dimiliki Wyata Guna sangat efektif dipakai untuk menggandakan tulisan Braille, termasuk Al-Qur’an Braille, bahkan, memiliki tingkat presisi yang tinggi. Selain Braille Press, Wyata Guna juga mempunyai perangkat lainnya yang tidak bisa dipisahkan, yaitu Stereotype Machine. Jika Stereotype Machine berfungsi untuk mencetak huruf-huruf Braille di atas lembaran-lembaran dari timah (zinc plate) yang kemudian dijadikan sebagai master, maka Braille Press Machine berfungsi sebagai tempat untuk mencetak zinc plate pada lembaran-lembaran kertas.

Fase Standardisasi

Perkembangan penyalinan Al-Qur’an Braille terus meningkat seiring dengan dukungan pemerintah melalui proyek pengadaan kitab suci. Namun di sisi lain, perbedaan sistem penulisan antara Yaketunis dan Wyata Guna menimbulkan situasi yang tidak kondusif bagi proses pembelajaran Al-Qur’an Braille di kalangan difabel netra. Setidaknya kenyataan ini ditegaskan pula oleh Sawabi Ihsan, Kepala Puslitbang Lektur Agama dan Kepala Lajnah (1975) dalam salah satu sambutannya, “Kaum tunanetra makin dipersulit dalam membaca, karena terdapat perbedaan pedoman dalam tanda baca Al-Qur’an Braille”.  Bagaimanapun juga, setiap sistem penulisan akan melahirkan implikasi metodologis dalam pembelajaran, apalagi jika perbedaan tersebut menyangkut aspek yang prinsipil. Tidak hanya itu, perbedaan tersebut juga telah berkembang melahirkan komunitas-komunitas yang fanatik sehingga mengancam hubungan yang harmonis antar difabel netra. 

Di samping itu, alasan lain yang tidak kalah pentingnya adalah kesulitan Lajnah Pentashih Mashaf Al-Qur’an saat itu dalam melakukan tugas pentashihan karena ketiadaan rujukan/pedoman.  Setiap naskah Al-Qur’an yang akan diterbitkan, termasuk Al-Qur’an Braille, harus melalui proses pentashihan yang cukup lama untuk mendapatkan tanda tashih. Tentu kenyataan ini bisa dimaklumi, karena ketiadaan pedoman, maka setiap temuan tidak bisa langsung dieksekusi, melainkan harus dibahas, didiskusikan, dan baru diambil keputusan berdasarkan kesepakatan para pentashih.  Oleh karena itu, upaya untuk melakukan unifikasi menjadi penting, bukan hanya bagi kepentingan para praktisi dan pengguna Al-Qur’an Braille, melainkan juga bagi Lajnah Pentashih Mashaf Al-Qur’an.

Usaha untuk menyatukan dua aliran penulisan antara Yaketunis dan Wyata Guna ternyata tidak mudah, membutuhkan energi besar dan keterlibatan semua pihak. Hal ini disebabkan karena dua sistem itu telah dikenal dan memiliki pengguna setia di seluruh daerah. Keterlibatan dan peran aktif pemerintah sebagai fasilitator sekaligus pengambil kebijakan  akhirnya menjadi faktor penting untuk merealisasikan upaya ini. Melalui Musyawarah Ulama Ahli Al-Qur’an yang diselenggarakan Departemen Agama, proses unifikasi setidaknya membutuhkan 9 kali pertemuan (1974 s.d 1983) dengan beberapa tahapan dan hasil penting.

Akhirnya proses menuju standardisasi mencapai puncaknya setelah dikeluarkannya Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 25 tahun 1984 tentang penetapan Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia. Mushaf Al-Qur’an Standar mencakup 3 jenis: Mushaf Standar Usmani, Mushaf Standar Bahriyah, dan Mushaf Standar Braille. Sebagai bentuk penerapan dari ketetapan tersebut, terbitlah Instruksi Menteri  No. 07  tentang Penggunaan Mushaf Standar sebagai pedoman penerbitan Al-Qur’an di Indonesia. [Ramadhan Sharro]

The subscriber's email address.