Lompat ke isi utama
Ken Kerta dalam advokasi kesehatan anak dan difabel di Sumatera Selatan melalui kegiatan jurnalisme warga.

Pentingnya Kegiatan Jurnalisme Warga bagi Difabel

Solider.id, Malang- Jurnalisme warga adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh orang bukan wartawan atau masyarakat umum sebagai upaya menyebarluaskan informasi yang ia himpun. Sedangkan jurnalistik adalah kegiatan meliput, mengumpulkan , mengolah, dan menyebarluaskan informasi. Muara kegiatan jurnalistik adalah menyampaikan informasi kepada masyarakat yang bersumber dari fakta-fakta yang penting diketahui oleh orang banyak/ publik.

Menentukan fakta mana yang penting diketahui oleh orang banyak secara umum dapat diputuskan oleh jurnalis melalui nalarnya dalam menangkap tren informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Lingkup sasaran masyarakatnya pun beragam sesuai dengan misi jurnalis maupun media yang menjadi sarana penyebarluasan informasi. Sedangkan secara khusus jurnalis dapat berupaya mempengaruhi masyarakat melalui tulisan maupun bentuk lainnya agar masyarakat turut menganggap hal yang ia publikasi adalah penting.

Pentingnya jurnalisme warga bagi difabel dalam tulisan ini adalah secara khusus bagaimana seseorang maupun kelompok difabel menyampaikan informasi kepada masyarakat agar publik terpengaruh terhadap gagasan-gagasan difabilitas dan menganggap isu tersebut penting serta sebagai bagian dari deretan informasi yang wajib diketahui.

Upaya ini tentu memerlukan tahapan proses yang harus dilalui. Pertama bagaimana difabel meliput dan mengolah data secara apik sehingga mampu mempengaruhi dan merubah paradigma publik terhadap isu difabilitas. Kedua membangun paradigma difabel itu sendiri tentang pentingnya kegiatan jurnalisme warga sebagai salah satu upaya efektif untuk merubah paradigma masyarakat tersebut.

Mengembangkan paham melek media pada difabel.

Melek media dalam kontek difabilitas artinya memahami pentingnya media sebagai sarana mengkampanyekan isu-isu difabilitas. Melek media juga meliputi pengetahuan difabel dan keterampilannya untuk mengolah dan menyebarluaskan informasi atau menjadi bagian dari pelaku media tersebut.

Upaya membangun masyarakat difabel melek media seperti dilakukan Sigab Indonesia yang sejak beberapa tahun lalu membuat pelatihan-pelatihan jurnalistik dan advokasi serta mengakomodasi para alumni pelatihan dalam media Solider sebagai wadah yang mentransfer dan mentransformasikan isu difabilitas dari sekup daerah menjadi isu nasional. Contoh lainnya seperti dilakukan Lingkar Sosial Indonesia yang sejak berdirinya tahun 2014 terus membombardir warga Malang dengan kegiatan jurnalistik warga guna membangkitkan kesadaran inklusi.

Efektifitas kegiatan jurnalistik oleh kelompok difabel makin kentara dengan berbagai perubahan terkait regulasi atas perlindungan dan pemberdayaan serta penyelesaian advokasi atas kasus-kasus yang merudung masyarakat berkebutuhan khusus. Sejarah mencatat bagiamana kelompok difabel mampu mendorong kemenangan Dwi Ariyani pengguna kursi roda melawan diskriminasi yang dilakukan oleh Etihad, salah satu jasa penerbangan. Media juga meliput bagaimana kasus bulying mahasiuswa ABK di Universitas Gunadharma terselesaikan atas desakan kelompok difabel. Juga isu kebijakan RPP satu jagad yang digagalkan oleh koalisi organisasi difabel salah satunya dengan menggunakan kekuatan media.

Khususnya di Malang sejarah juga mencatat bagaimana pergerakan inklusi yang sebelumnya telah digiring oleh para senior pergerakan seperti Hari Kurniawan, Siswinarsih, dan Sumiati serta tokoh-tokoh lainya yang tidak dikenali penulis, dikemas oleh Lingkar Sosial Indonesia dalam propaganda media: satu misi menuju Malang Raya ramah difabel. Yang menarik dalam waktu kampanye sekira 20 hari misi ini sukses menyatukan jaringan oragnisasi difabel se-Malang Raya dalam deklarasi Forum Malang Inklusi, Minggu 15 September 2016 di Petik Madu, Lawang.

Mengutip statmen senior anggota Gerkatin Kota Malang, Rizal Yahya dalam rapat usai jalan sehat peringatan Hari Tuli Sedunia tahun 2017 lalu bahwa upaya Lingkar Sosial sukses membangun pergerakan inklusi yang menyatukan organisasi-organisasi difabel. “Sebelumnya masing-masing organisasi dari berbagai ragam difabilitas seperti tuli, netra, daksa dan lainnya cenderung bergerak sendiri-sendiri memperjuangkan kepentingannya. Kini bersatu padu dan kuat dalam Forum Malang Inklusi,” ungkap Rizal Yahya di sekretariat Gecama, Jl Ijen nomor 34 Malang.

Progres pergerakan Forum Malang Inklusi (Fomi) saat ini  tengah menggodok Raperda versi masyarakat sebagai tindak lanjut beberapa kali pertemuan dengan DPRD Kabupaten Malang. Organisasi kini yang berjejaring dengan lebih 25 organisasi difabel dan non difabel ini juga tengah berdiskusi dengan beberapa dinas terkait atau UPTD terkait isu-isu difabilitas di Malang.

 Selain itu, berbagai progres telah dilakukan oleh berbagai organisasi pergerakan difabel di Malang.  Difabel melalui jaringan Forum Malang Inklusi menjadi kekuatan yang diperhitungkan oleh pemangku kebijakan, mereka diterima untuk melakukan audensi-audensi. Seperti belum lama sudah dilakukan dengan rumah sakit, puskesmas, dinas pendidikan, dinas sosial, dinas kesehatan, dinas cipta karya, KPU, DPRD, serta beberapa perguruan. Berbagai advokasi yang dilakukan oleh organisasi difabel juga banyak didorong oleh media. Dari buta media kebalikan dari melek media, sebelumnya yang menganggap publikasi melalui media adalah pamer kini menjadi trend bagian dari setiap kegiatan. Organisasi difabel mulai melibatkan media-media, sebaliknya nampaknya media juga semakin melirik difabel sebagai obyek liputan yang menarik.

Namun dalam hemat penulis situasi ini belum cukup menjadi indikator difabel melek media. Melek media bukan hanya menganggap media sebagai bagian penting dari sebuah pergerakan, namun bagaimana difabel mampu memposisikan diri sebagai subyek yang bermartabat dalam berita. Mari kita tengok beberapa judul liputan ini: Polisi Cantik ini Fasilititasi Pelatihan Difabel, Lihat Ekspresi Penyandang Disabilitas ini Ketika Menerima Bantuan Kursi Roda, Difabel Malang Raya Dukung Salah satu Paslon Walikota.

Kajiannya, judul pertama, apa kaitan orang cantik dengan pelatihan difabel? Mengapa media tidak mengangkat upaya instansi terhadap pemenuhan hak masyarakat berkebutuhan khusus? Kemudian judul kedua, ada apa dengan ekspresi wajah difabel? Kesan dari pemberitaan ini adalah betapa menderitanya difabel karena ketidakadaan kursi roda dan menjadi bahagia setelah ada pahlawan yang menghadiahi kursi roda.

Sedangkan judul ketiga dalam investigasi penulis adalah rekayasa pemberitaan untuk mendukung salah salah satu paslon. Karena faktanya difabel Malang Raya yang dimaksud adalah sekelompok kecil orang yang hadir dalam acara paslon yang jumlahnya tak lebih dari 20 orang. 

Ironinya, berita-berita yang mendudukkan difabel sebagai obyek penderita, dengan senang hati disebarluaskan sendiri oleh sebagian difabel. Dampak dari kegiatan ini adalah menyuburkembangkan kembali pola pandang medik dan karikatif terhadap difabel, berkebalikan dengan upaya para penggiat inklusi dan HAM yang memperjuangkan kesetaraan dalam kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara. Dari kasus inilah menjadi salah satu alasan pentingnya memahamkan melek media dan mengembangkan kegiatan jurnalisme warga pada difabel dan kelompoknya.

Bagaimana Cara Melakukan Jurnalisme Warga?

Dua pertanyaan penting seputar jurnalisme warga adalah: apa landasan hukum melakukan jurnalisme warga dan bagaimana melalukan kegiatan jurnalisme bagi orang bukan wartawan? Pertanyaan ini muncul dari pandangan umum biasanya ketika melihat wartawan mengadakan liputan dengan menggunakan kartu pers, artinya secara hukum tentunya ada lembaga yang memback up mereka. Kemudian orang juga bertanya bagaimana seseorang tanpa latar belakang pendidikan jurnalistik mampu mengadakan liputan?

Berangkat dari pengalaman penulis yang melakukan kegiatan sejak tahun 2009. Berawal dari menulis pengalaman pribadi untuk sharing sesama blogger atau penulis di internet, akhirnya berkembang menulis untuk membantu masyarakat sekitar. Tahun 2010 penulis meliput dampak sosial dari konflik perbatasan dua kabupaten Ogan Ilir dan Muaraenim di Sumatera Selatan. Diunggahnya kasus gizi buruk, kusta, difabel, dan tidak adanya layanan kesehatan di dusun tertinggal tersebut ke media sosial membuat dinas kesehatan setempat panik dan menurunkan tim medis untuk menanganinya.

Postingan di medsos tersebut juga membuat jaringan mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan bergerak. Advokasi yang dilakukan diantaranya mendatangkan pimpinan DPRD dalam diskusi kampung. Tak ketinggalan media konvensional pun turut meliput. Progress dari rangkaian aktivitas jurnalisme warga ini adalah diadakannya kunjungan kesehatan rutin pada dusun yang terdampak konflik oleh dinas kesehatan.

Terkait landasan hukum dilakukannya kegiatan jurnalisme warga adalah pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan berkumpul, berserikat, dan menyampaikan pendapat. Selain itu juga penting untuk berpegang pada kode etik jurnalistik diantaranya tidak menyebarluaskan informasi palsu, mewartakan informasi secara berimbang, dan sebagainya.

Sedangkan teknis melakukan jurnalisme warga bagi orang tanpa latar belakang pendidikan jurnalistik adalah belajar secara otodidak. Mengetahui prinsip dasar jurnalistik yaitu 5 W 1 H: who (siapa), what (apa), where (kapan), when (dimana), why (mengapa) dan how (bagaimana). Pelaku jurnalisme warga juga penting untuk mengembangkan minat baca buku, koran serta berbagai literasi lainya, karena mustahil menulis tanpa pengetahuan.

Harapannya, dengan kegiatan jurnalisme warga setiap difabel maupun kelompok difabel mampu menjadi agen penyebaran informasi dan isu difabilitas. Sehingga pola pergerakan inklusi akan semakin masif. Khususnya di Malang, Lingkar Sosial Indonesia dalam mengembangkan jurnalisme warga membuka program pelatihan jurnalistik yang bisa diakses secara mudah oleh kelompok-kelompok difabel. Organisasi penggerak inklusi ini juga membuka ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat lainya dan mahasiswa misalnya pelatihan internet, pembuatan website dan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik. (Ken)

The subscriber's email address.