Lompat ke isi utama
Sosdiklih berupa simulasi ular tangga di SMK Marsudirini Marganingsih

Sosdiklih Pemilih Pemula di Sekolah Libatkan Partsisipasi Aktif Siswa Difabel

Solider.id, Surakarta- Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih untuk segmen pemilih pemula dilakukan oleh Komunitas Guyub Bocah bekerja sama dengan KPU Surakarta di dua sekolah inklusi. Sosdiklih yang berlangsung dua hari (6-7/6), hari pertama di SMK Kanisius dan hari kedua di SMK Marsudirini Marganingsih tersebut melibatlkan siswa difabel secara aktif partisipatif.

Rusmanto, Kepala SMK Kanisus kepada Solider yang menemui saat sosdiklih mengatakan bahwa meski sekolahnya tidak memiliki SK Sekolah Inklusi dari wali kota Surakarta, tetapi setiap tahun selalu menerima siswa difabel.

“Kebetulan pada pagi hari ini ada sosdiklih dengan cara simulasi, kedua anak didik kami, mereka autis, bisa berperan aktif dengan menjadi mata pion dan pelempar dadu. Mereka bermain dengan baik,” ujar FX. Yuli Purnomo, salah seorang guru pengajar yang turut berproses sosdiklih. Eka, salah seorang siswa autis kepada Solider menyatakan kegembiraannya bisa ikut simulasi ular tangga.

Sementara itu, ditemui di sela-sela sosdiklih di SMK Marsudirini Marganingsih, Heny Suryani, salah seorang guru pengajar mengatakan bahwa di sekolahnya terdapat lima siswa Tuli. Karena keberadaan kelima siswa tersebut maka SMK Marsudirini Marganingsih mengusulkan kepada penyelenggara saat sosdiklih ada penerjemah bisindo. Sekolah yang mengantongi SK Inklusi dari wali kota Surakarta tersebut setiap tahun menerima siswa difabel untuk belajar. “Lima anak Tuli yang saat ini bersekolah di sini kebetulan mereka telah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) sehingga telah memiliki hak pilih,” ujar Heny Suryani.

Sama dengan saat di SMK Kanisus, proses sosdiklih di SMK Marsudirini Marganingsih berlangsung lancar. Dengan kepesertaan 100 siswa, penyelenggara membagi para siswa tersebut dalam tiga group. Ketiga group masing-masing diampu oleh dua orang narasumber komisioner KPU Surakarta yakni Nurul Sutarti dan Pata Hindra Aryanto serta Susilo Budi Sulistyo dari Komunitas Guyub Bocah. Kelima siswa Tuli dengan dipandu oleh penerjemah bisindo, Bias Hasby, bergabung dengan group yang diampu oleh Nurul Sutarti.

Nurul Sutarti mengatakan mengapa penting sekali sosdiklih dilakukan yakni agar para pemilih pemula terbuka wawasannya atas pengetahuan kepemiluan. “KIta lihat tadi, satu group tidak ada yang mengetahui kedua nama paslon gubernur Jawa Tengah. Mereka hanya tahu dengan salah satu paslon saja. Terus, itu belum lagi tentang pengetahuan lainnya apakah mereka sudah terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT), dan apa saja syarat saat datang ke TPS, dan masih banyak pengetahuan kepemiluan lain yang harus disampaikan. Masing-masing group ada lebih 25 pertanyaan kita ajukan,”terang Nurul Sutarti. (Puji Astuti)

The subscriber's email address.