Lompat ke isi utama
suasana buka bersama teman-teman difabel netra

Menjadikan Ramadan sebagai Bulan yang Mengangkat Kedudukan Kelompok Difabel

Solider.id, Yogyakarta - Bulan Ramadan acap kali menjadi moment bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena di yakini pada bulan Ramadan setiap perbuatan baik akan mendapatkan pahala yang berlipat dari pada bulan-bulan lain. Pendekatan diri kepada Allah itu dapat bermacam-macam bentuknya. Mulai dari shalat, zakat, infak, bahkan memberikan bantuan kepada kaum-kaum yang dianggap sebagai kaum papa.

Perintah untuk menyedekahkan harta benda, memang telah ditegaskan berkali-kali dalam Al-qur’an. Hal itu dapat ditemukan misalnya dengan membaca  Surat Albakarah ayat 271 yang berbunyi “jika kamu menampakan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya, dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghabiskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui yang kamu kerjakan.”

Selain itu firman Allah dalam Al-qur’an mengenai perintah untuk menyedekahkan harta juga dapat ditemukan dalam  Surat Albakarah ayat 215 yang berbunyi “mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah : apa saja harta yang kamu nafkan hendaklah diberikan kepada ibu, bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah maha mengetahuinya.”

Dengan melihat dua ayat tersebut saja, maka kita sudah dapat menangkap perintah Allah bahwa menyedekahkan harta adalah perintah yang harus dilaksanakan. Tetapi, pertanyaannya kemudian adalah, apakah sedekah yang kita lakukan selama ini sudah benar? Apakah sedekah yang kita lakukan selama ini benar-benar membantu atau justru memperlemah kelompok yang menerima sedekah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sangat penting bagi kita, karena selama ini kaerap kali kita hanya melakukan sesuatu berdasarkan tradisi yang telah ada tanpa melihat apakah perbuatan yang pernah dilakukan itu berdampak negatif atau tidak. Dalam konteks ini melihat tradisi dengan kaca mata yang lebih kritis menjadi sangat supstansial agar kita tidak mengulang sebuah tradisi yang sesungguhnya itu tidak perlu diteruskan lagi.

Tradisi pemberian sedekah kepada kelompok difabel di bulan Ramadan jelas menjadi sebuah sesuatu yang harus mendapatkan pertanyaan dan tinjauan dengan menggunakan kaca mata yang lebih kritis. Selama ini, ketika bulan Ramadan tiba masyarakat berbondong-bondong untuk memberikan sedekah kepada kelompok-kelompok yang dianggap sebagai kelompok “papa”, salah satunya  kelompok difabel. Hal itu dilakukan oleh orang-orang dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pelajar, para pekerja, hingga komunitas pengajian kampung.

Saya sempat memiliki pengalaman selama beberapa tahun saya tinggal di sebuah asrama khusus difabel netra. Saat bulan puasa tiba, banyak orang berbondong-bondong datang ke tempat tinggal kami. semuanya datang dengan tujuan yang sama yaitu melakukan buka bersama dengan para difabel netra yang ada disana. Tetapi, seringkali bukan hanya itu tujuan yang ingin dilakukan. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang berkunjung untuk melaksanakan acara buka bersama itu datang dengan membawa santunan atau sedekah berupa uang yang diberikan kepada kelompok difabel yang tinggal di asrama tersebut. Hal itu berlangsung setiap bulan Ramadan tiba. Sederhananya para difabel netra itu dianggap gudang pahala bagi para pemberi sedekah itu. Selainn itu, pada bulan ramadan juga banyak kalangan yang mengundang kelompok-kelompok difabel lain untuk diajak berbuka bersama dan diberikan berbagai bantuan kepda mereka.

Pertanyaannya, apakah dapat di benarkan tindakan pemberian santunan kepada kelompok difabel seperti itu? Apakah itu merupakan tindakan yang tepat?

Pertanyaan-pertanyaan kritis seperti itu harus ditanyakan dan harus kita jawab bersama-sama. Guna menjawab pertanyaan itu, kita harus melihat dampak sosial dari tradisi yang dilakukan tersebut. sejauh mana dampak negatif yang ditimbulkan, dan sejauh mana dampak positif yang dilahirkan. Sehingga kita tidak hanya menelan mentah-mentah tradisi yang telah bertahun-tahun terjadi.

Menurut Yuhda Wahyu Pradana salah satu founder dari komunitas Braille’iant yakni komunitas yang bergerak di isu-isu terkait difabel mengatakan bahwa mengenai santunan bagi kelompok difabel, saat ia belum mengetahui tentang isu-isu difabel dan belum banyak melakukan kegiatan bareng difabel, memang ia sendiri pun kerap berpikir untuk memberikan santunan kepada kelompok difabel. hal itu karena memang ia telah terpapar konstruksi sosial yang ada di sekelilingnya baik acara-acara televisi,, kegiatan santunan yang terus menerus dilakukan, dan bahkan dari orang tuanya sendiri yang kerap menekankan untuk memberikan santunan kepada difabel. setelah belajar banyak mengenai isu difabel, akhirnya Yuhda baru mengerti bahwa hal itu bukanlah  yang tepat dan akan semakin melanggengkan persepsi difabel sebagai kaum lemah yang perlu selalu mendapatkan bantuan.

Yuhda melanjutkan bahwa melihat fenomena ini, kita tak harus menyalahkan mereka yang memberi santunan, karena walau bagaimana pun mereka berpijak pada niat yang baik hanya saja mereka terjebak pada konstruksi sosial yang selama ini terbangun. Sehingga dalam hal ini yang harus di kritisi adalah konstruksi sosial yang selama ini telah terbangun bahwa difabel adalah kaum lemah yang patut untuk terus menerus dibantu. Hal ini karena sesungguhnya niat baik kepada kelompok difabel itu telah ada, namun di aplikasikan dengan cara yang tidak tepat.

Setidaknya ada beberapa dampak negatif apabila tradisi ini terus di pertahankan dan di reproduksi pada ramadan-ramadan berikutnya. Pertama, santunan itu akan melanggengkan stigma yang ada di masyarakat bahwa difabel adalah kelompok lemah yang tidak berdaya sehingga termasuk ke dalam kelompok yang patut terus menerus di santuni. Kedua, perilaku ini tidak akan membuat difabel menjadi manusia yang berdaya dan mandiri. Hal ini karena santunan tersebut hanya akan membuat difabel tidak berdaya karena diposisikan sebagai penerima bantuan saja tanpa ada upaya untuk membuat difabel setara dengan kelompok masyarakat yang lain.

Melihat hal itu kita dapat merefleksikan bahwa tradisi yang ada selama ini justru membuat sebuah kelompok menjadi semakin lemah dan tidak berdaya. Artinya sedekah kita yang bertujuan untuk membuat kita menjadi seseorang yang lebih dekat dengan Allah, justru menimbulkan efek yang tidak baik. Lalu, apakah artinya sedekah itu salah? apakah perintah yang ada di Al-qur’an itu salah?

Saya pikir tidak ada yang salah dari perintah Allah yang ada dalam Al-qur’an, karena Allah maha benar. Hanya saja saya berkeyakinan bahwa kitalah yang salah mengartikan perintah itu. Kitalah yang justru membuat sedekah yang bertujuan untuk kebaikan, malah menimbulkan kemudzaratan.

Tradisi seperti ini jelas harus diubah. Hal ini agar sedekah yang kita berikan tidak semakin melemahkan kelompok difabel. ada beberapa cara yang dapat di tempuh untuk mengubah tradisi ini.

Pertama yaitu dengan mengubah bentuk donasi yang di berikan. Donasi yang di berikan tidak boleh bersifat karikatif, tetapi bersifat memberdayakan. Contohnya donasi yang tadinya berupa uang santunan yang diberikan secara cuma-cuma, dapat di ganti dengan mengadakan kegiatan pemberdayaan seperti pelatihan pembuatan koperasi yang dapat dijadikan sebagai akses permodalan sehingga para difabel dapat berkarya. Intinya kita tidak boleh hanya memberi ikan saja, tetapi kita harus memberikan kail.

Kedua yaitu kita dapat membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para difabel. kita dapat mencontoh teladan rosulullah yang membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi para difabel. riwayat sahabat rosulullah yang juga merupakan seorang difabel netra yaitu Abdullah Bin Umi Makhtum adalah kisah yang paling tepat untuk menjadi contoh. Abdullah Bin Umi Makhtum yang merupakan seorang difabel netra di era kepemimpinan Rosululllah Muhammad SAW di kota Madinah, benar-benar mendapatkan kedudukan yang istimewa. Selain menjadi muadzim bersama Bilal Bin Rabah, Rosulullah Muhammad SAW juga mempercayakan kepemimpinan kota Madinah kepada Abdullah Bin Umi Makhtum ketika Rosulullah sedang pergi ke kota Mekah untuk membebaskan kota Mekah dari kaum kafir.

Dalam konteks masyarakat modern seperti sekarang, kisah tersebut masih sangat relevan untuk di contoh. Membuka ruang kepada seorang difabel untuk menunjukan eksistensinya di masyarakat menjadi hal yang lebih supstansial melihat kondisi kelompok difabel yang masih terdiskriminasi alih-alih memberikan santunan berupa uang yang justru memperkuat diskriminasi yang telah membudaya.

Dengan menggunakan dua cara tersebut maka sedekah yang kita lakukan kepada kelompok difabel tak lagi membuat kelompok difabel menjadi tidak berdaya. Tetapi justru akan semakin memperkuat posisi kelompok difabel dalam struktur sosial kemasyarakatan. Dengan mengedepankan cara-cara tersebut kelompok difabel menjadi lebih berdaya dan dapat menunjukan eksistensinya dalam masyarakat. Sehingga sedekah yang diberikan bukanlah berupa uang santunan yang diberikan secara cuma-cuma, namun sedekah itu berwujud penghargaan kepada kelompok difabel bahwa difabel adalah mahluk Allah yang berdaya dan bukanlah objek santunan.

Dengan cara-cara tersebut kita semua telah mengaplikasikan surat Abaqarah ayat 30 yang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah (pemimpin) di muka bumi. Idealnya seorang pemimpin mampu mempertahankan hal yang baik dan mengubah hal yang buruk menjadi baik. Dalam Al-qur’an Surat Albaqarah ayat 30 Allah berfirman “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata : mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman : sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dengan demikian ibadah sedekah kita pada bulan puasa bukan hanya memberikan kebaikan pahala bagi kita sendiri, tetapi juga memberikan kebaikan bagi orang lain. puasa bukan hanya menjadi ibadah yang bersifat individual, namun juga menjadi ibadah sosial. Dengan momentum bulan Ramadan kita justru dapat menghapuskan diskriminasi yang selama ini telah dilanggengkan dalam bentuk tradisi sedekah yang tidak memberdayakan. Kesimpulannya puasa menjadi awal dari penghapusan diskriminasi kepada difabel. sehingga di bulan-bulan setelah Ramadan berlalu dan Ramadan berikutnya kelompok difabel tak lagi dilemahkan dengan santunan-santunan yang tidak memberdayakan. (Tio Tegar)

The subscriber's email address.