Lompat ke isi utama
suasana diskusi literatur aksesibel

Literasi Aksesibel dan Layanan Perpustakaan bagi Difabel

Solider.id, Yogyakarta – Meski hasil survey dari UNESCO tentang minat baca Indonesia hanya 0,001%, namun hal ini tidak menyurutkan semangat Perpustakaan Kota Yogyakarta untuk meningkatkan minat baca masyarakatnya. Hal ini dibuktikan dengan upaya menyisir seluruh desa dengan tersedianya perpustakaan hingga ke pelosok desa. Berbagai terobosan terus dilakukan untuk mewujudkan pelayanan yang terbaik bagi masyarakatnya. (7/6)

“Ada beberapa desa yang sudah menggeliat untuk meningkatkan kualitas pelayanannya dalam hal perpustakaan. Bahkan dua tahun terakhir, sejak 2017 kota Yogyakarta mendapatkan peringkat nomor dua secara nasional tepatnya kabupaten Sleman”, ungkap Anti dari perwakilan perpustakaan Provinsi Yogyakarta pada acara diskusi bulanan yang dilaksanakan oleh Sasana Inklusi dan Advokasi Difabel (SIGAB) di Pendopo Hijau Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH. No.121 Yogyakarta.

“Seluruh desa di Daerah Istimewa Yogyakarta sudah ada perpustakaan dan sudah mendapat bantuan baik koleksinya maupun sarana dan prasarananya dan tidak semua desa yang mendapatkan bantuan dimanfaatkan secara maksimal. Tidak hanya itu, terobosan terbaru dilakukan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta dengan perpustakaan keliling menggunakan sepeda motor yang menyasar sekolah luar biasa,” lanjut Anti.

 “Ada dua hal dalam membangun perpustakaan tidak hanya dari segi aksesibilitasnya yang harus diperhatikan tapi juga bagaimana cara menumbuhkan minat bacanya”, ungkap Ismail dari SIGAB. Sebagai moderator, Ajiwan menanyakan mengenai langkah apa yang dilakukan oleh perpustakaan untuk mengatasi hal ini, karena kebanyakan orang kini lebih suka membaca melalui internet daripada harus baca buku ke perpustakaan.

Menanggapi hal tersebut, Isrowiyati sebagai narasumber dari Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan bahwa lingkungan keluarga adalah tempat yang paling utama untuk menumbuhkan minat baca seseorang.

Dwi Rahayu, sebagai difabel Tuli menyampaikan bahwa orang-orang Tuli lebih tertarik dengan literasi yang memiliki banyak gambar sehingga menjadi daya tarik secara visual. “Sebetulnya teman-teman itu bisa membaca tapi akan lebih menarik bagi kami jika tulisan juga menyuguhkan gambar-gambar seperti komik”, pungkas Dwi menggunakan bahasa isyarat. (Ramadhany Rahmi)

The subscriber's email address.