Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar akses literasi bagi  tuli

Gemerlap Akses Informasi di Era Digital, Belum Aksesibel bagi Tuli

Description: Hasil gambar untuk tuli dan kebutuhan akan literasi visualSolider.id.Yogyakarta. Kemajuan dan kecanggihan teknologi media semakin tak terelakkan. Masuknya era digitalisasi pun merupakan keniscayaan. Sistem digital secara perlahan tapi pasti telah memasuki dunia literasi. Namun sudahkan difabel tuli dapat menikmati kecanggihan gemerlap akses informasi di era digital ini? Sudahkan implikasi perkembangan teknologi terhadap akses informasi memahami kebutuhan tuli?

Hambatan pendengaran yang menyertai tuli, menyebabkan terhambat pula tuli menyerap informasi. Demikian pula dengan pemahaman informasi tekstual, tidak mudah dipahami oleh tuli. Sehingga informasi visual-lah, yang menjadi kebutuhan tuli. Sementara hal itu tidak mudah dijumpai hingga saat ini.

Keprihatinan terkait minimnya pemahaman teks pada difabel tuli, menyeruak dalam diskusi bertema “Literasi Aksesibel dan Layanan Perpustakaan bagi Difabel”.  Sebuah diskusi bulanan yang digelar oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), Rabu (6/6) di Pendopo Hijau, Jalan Dr. Soepomo No. 121, Glagahsari, Umbulharjo, Yogyakarta.

Adalah Muhammad Sahefudin yang disapa dengan Sahe, salah seorang peserta diskusi menyampaikan keprihatinan tersebut. Hambatan pendengaran yang dialami tuli, berdampak pada minimnya tuli memahami akses informasi berupa teks. Akses visual merupakan informasi yang aksesibel bagi tuli. Sementara, kata dia, sampai dengan saat ini minim literasi visual baik dalam bentuk buku teks, maupun  buku elektronik.

“Ditambah dengan tuli yang terbalik dalam memahami struktur kalimat. Jika pada umumnya orang menerapkan struktur “Subyek – Predikat – Obyek”, tidak demikian dengan tuli. Mereka memiliki cara tersendiri dalam memahami struktur kalimat. Yakni dengan struktur “Subyek – Obyek – Predikat,” lanjut Sahe.

Menurut dia, memahami buku teks saja tidak mudah bagi tuli, sudah muncul bacaan atau informasi dunia virtual yang minim visual.

Hal tersebut diakui oleh Dwi, Ketua Gerkatin Sleman, bahwa bacaan yang banyak gambar (visualisasi) seperti komik yang mudah dipahami oleh tuli. Sedangkan bacaan yang hanya berupa teks, sulit dipahami oleh tuli. Bahkan ungkap dia, di kalangan tuli tidak ada ketertarikan dengan bacaan atau informasi yang hanya teks.

“Bagaimana menjawab tantangan bagi tuli? Bagaimana para pegiat literasi menyediakan bacaan atau informasi yang aksesibel bagi tuli, di era gemerlap akses informasi digital ini?” Pertanyaan esensial Sahe.

Melebarkan kerja sama

Pertanyaan tersebut membuka pemahaman para pustakawan dan pegiat literasi yang hadir pada diskusi hari itu. Demikian pula bagi Presti, penyelenggara diskusi dari SIGAB. Bahwa untuk menyediakan akses informasi atau bacaan yang akses bagi tuli, perlu bekerja sama dengan lebih banyak pihak.

“Selama ini kita hanya berkutat pada bagaimana perpustakaan memberikan layanan yang aksesibel bagi difabel. Ternyata pemahaman akan aksesibilitas bacaan atau informasi yang aksesibel harus pula menyentuh penerbit dan percetakan.” Presti menyampaikan  tanggapan.

Tantangan tersebut akan menjadi diskusi tersendiri bagi SIGAB, tutur Presti. “Pada masa mendatang, advokasi tidak seharusnya hanya fokus pada layanan perpustakaan, melainkan juga kepada penerbit dan percetakan,” tegas dia.

Sementara pemerintah Australia, tepatnya Sidney,  telah membuat inovasi agar  bacaan dapat diakses oleh  difabel mental - intelektual. Hal ini diwujudkan dengan adanya draf perda kota Sidney yang aksesibel bagi difabel mental intelektual. Ungkap Ajiwan Arief, moderator diskusi yang awal tahun silam sempat berkunjung ke Australia

Sudah waktunya kecanggihan teknologi, diselaraskan dengan keterbukaan akses informasi para difabel dengan berbagai karakteristik yang menyertai. Dengan demikian kemajuan teknologi memudahkan akses informasi bagi semua. [Harta Nining Wijaya].

 

The subscriber's email address.