Lompat ke isi utama
suasana diskusi bulanan di pendopo hijau Jogja

Tumbuhkan Minat Baca dengan Perpustakaan Aksesibel

Description: C:\Users\User\Documents\diskusi literasi.jpgSolider.id.Yogyakarta. “Minat baca orang Indonesia berada pada peringkat kedua terendah dari 61 negara lain di dunia. Sehingga selain aksesibilitas layanan perpustakaan, menumbuhkan minat baca perlu mendapatkan perhatian penting.”

Ungkapan di atas mengemuka dari Muhammad Ismail, seorang difabel tuli, pada diskusi bulanan yang diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Yogyakarta, di Pendopo Hijau, Rabu (6/6). 

Hal tersebut diakui oleh narasumber diskusi, Isrowiyanti, Pustakawan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bahwa minat baca orang Indonesia memang sangat rendah. Terlebih dihadang oleh gempuran teknologi informasi digital. Sebuah teknologi dunia virtual yang menyumbang dampak positif dan negatif.

Dampak negatif tersebut ialah kemalasan atau ketergantungan orang dengan gadget dalam menggali informasi. Orang lebih dominan mencari informasi melalui gadget ketimbang membaca buku, majalah, atau koran.

Hal ini berimplikasi pada menurunnya budaya membaca, berkurangnya minat untuk melakukan sesuatu dengan proses yang panjang atau rumit, meski hasilnya akurat.

Dimulai dari keluarga

Pada kesempatan itu Isrowiyanti mengungkapkan bahwa, yang harus diperhatikan ialah tidak hanya pada aksesibilitas perpustakaan, namun juga bagaimana menumbuhkan minat  baca.

Menumbuhkan minat baca harus dimulai dari keluarga, ujarnya. Keluarga ialah masyarakat terkecil dan terdekat dengan anak yang sangat mungkin menumbuhkan budaya membaca sedari dini.

“Tradisi atau budaya membaca diawali dari keluarga. Kemudian akan berkembang pada masyarakat sekitar,” ujar Isro.

Setelah budaya membaca sudah tumbuh, perhatian dilanjutkan pada ketersediaan buku-buku dan layanan di perpustakaan yang aksesibel. Buku-buku aksesibel diharapkan mengundang minat difabel mengunjungi perpustakaan dan menumbuhkan minat baca pada kalangan difabel.

Ketersediaan buku-buku braille, atau buku-buku digital yang dapat diakses dengan screen reader (pembaca layar) JAWS, ketersediaan scanner dibutuhkan oleh difabel netra. Adapun buku-buku yang menitik beratkan visual atau gambar menjadi buku yang aksesibel bagi difabel tuli.

Kemudian layanan perpustaan aksesibel, yakni mendekatkan layanan kepada difabel menjadi cara berikutnya untuk menumbuhkan minat baca di kalangan difabel. Mengingat beberapa difabel yang terkendala dalam bermobilitas.

Fenomena malas membaca

Namun demikian, diskusi yang menghadirkan para pustawakan dari berbagai perpustakaan di DIY serta para pegiat literasi itu juga menguak fenomena malas membaca pada kalangan difabel.

Meski perpustakaan sudah dilengkapi dengan ribuan buku braille, namun kunjungan pembaca difabel netra tidak signifikan bertambah banyak. Hal itu dikemukakan oleh Anti salah seorang petugas perpustakaan Grhatama Pustaka dan Annisa dari Perpustakaan Kota Yogyakarta.

“Terdapat 25.000 buku braille yang dipajang di ruang braille Grhatama Pustaka, serta 20 unit komputer di ruang teknologi dan informasi. Namun minim kunjungan difabel netra di sana,” ungkap Anti.

Terobosan baru dilakukan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta. Perpustakaan keliling dengan menggunakan sepeda motor, dengan sasaran sekolah luar biasa.

SLB khusus difabel netra Yaketunis, Jalan Parangtritis dan SLB Ganda Hellen Keller di Wirobrajan, adalah dua sekolah yang saat ini mendapatkan kunjungan perpustakaan keliling tersebut.

Berbagai terobosan harus dilakukan untuk menumbuhkan minat baca pada kalangan murid SLB. Berbagai buku sebagaimana kebutuhan murid SLB disediakan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta.

Catatan pada diskusi tersebut, selain buku-buku yang aksesibel, tidak kalah penting ialah layanan petugas yang memahami kebutuhan difabel yang beragam, serta sarana perpustakaan yang aksesibel menjadi penting. [Harta Nining Wijaya].

The subscriber's email address.