Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar berupa tumpukan buku

Memaknai Hari Buku Nasional dengan Lahirkan Perpustakaan Aksesibel

Solider.id.Yogyakarta. Hari buku nasional menandai bahwa membaca buku tidak kalah penting, dari kegiatan lain dalam kehidupan sehari-hari. Hari buku nasional yang diperingati tiap tanggal 17 Mei tersebut telah menjadi sebuah catatan sekaligus momentum bagi Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Yogyakarta. Sebuah momentum merealisasikan adanya perpustakaan aksesibel di lingkungan kantornya.

Untuk mencapai realisasi tersebut, SIGAB menyelenggarakan diskusi dengan tema “Literasi Aksesibel dan Layanan Perpustakaan bagi Difabel”. Seorang Pustakawan dari UIN Sunan Kalijaga, Isrowiyanti berbagi ilmu dengan kapasitasnya sebagai narasumber diskusi. 

Dihadiri oleh sebanyak 20 orang, terdiri dari petugas perpustakaan di wilayah DIY, pengelola taman bacaan masyarakat (TBM), pegiat literasi, serta komunitas difabel, diskusi digelar pada Rabu (6/6), di Pendopo Hijau, Jalan Dr. Soepomo No 121, Glagahsari, Umbulharjo, Yogyakarta.

Seusai diskusi yang berlangsung sekitar tiga jam itu, kepada Solider Presti Murni Setianti, sebagai penanggungjawab diskusi menyampaikan latar belakang penyelenggaraan kegiatan.

Menurut Presti, SIGAB telah memiliki banyak sekali buku dan ingin mewujudkan adanya sebuah perpustakaan di lingkungan kantornya. “Buku-buku itu selama ini sudah terinventarisasi namun belum terkatalogisasi,” ujarnya.

Untuk itu belajar dari para pengelola perpustakaan, mendapatkan berbagai masukan atas kebutuhan buku bacaan aksesibel, dibutuhkan untuk mewujudkan perpustakaan yang aksesibel bagi semua.

Lanjutnya, dengan adanya perpustakaan, pada masa mendatang kumpulan buku-buku SIGAB diyakini akan dapat lebih berarti.  

Belum cukup lengkap

Namun demikian, Presti juga menyadari bahwa koleksi buku-buku yang ada masih belum cukup lengkap. Sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan semua difabel.  Belajar dari hasil diskusi, Presti mengungkapkan perlunya menambah koleksi buku aksesibel bagi difabel tuli, demikian pula bagi difabel mental – intelktual. Sementara saat ini koleksi yang paling banyak adalah pada buku-buku bagi difabel netra.

Apresiasi juga diberikannya terhadap cara menumbuhkan minat baca di kalangan difabel, yang telah dilakukan oleh Grhatama Pustaka dan Perpustakaan Kota Yogyakarta. Yakni dengan adanya 25.000 koleksi braille di Grhatama Pustaka, dan di Perpustakaan Kota dengan Belinda (Blind Corner untuk Anda) serta perpustakaan motor kelilingnya.

Bergandengan tangan dengan lebih banyak pihak akan menjadi bagian yang akan dilakukan dalam mewujudkan sebuah perpustakaan aksesibel di lingkungan kantor SIGAB Yogyakarta.

Seperti bekerja sama dengan para guru dalam memberikan informasi akan kebutuhan para siswa. Dan yang tidak kalah penting menurut Presti ialah bekerja sama dengan penerbit dan percetakan

Untuk itu membangun atau menumbuhkan pemahaman pada penerbit buku dan percetakan tentang kebutuhan buku bacaan sesuai karakteristik dan kebutuhan difabel menjadi agenda lanjut SIGAB. [Harta Nining Wijaya].

The subscriber's email address.