Lompat ke isi utama
Aksesibilitas pantai di Turki

Belajar dari Sebuah Pantai di Turki: Renungan Cara Pandang terhadap Difabel

Solider.id, Yogyakarta - Cara pandang terhadap difabel terbentuk dari berbagai faktor dengan konteks pendangan itu berada. Setidaknya ada tiga cara pandang utama dalam melihat difabel yang selama ini telah banyak dikaji dan dikritisi baik oleh akademisi maupun aktivis difabel.

Cara pandang pertama adalah cara pandang magis dimana penitikberatan pada aspek gaib atau magis dalam melihat isu difabel. Di Indonesia, hari ini, cara pandang seperti ini bahkan masih ada. Di daerah-daerah Indonesia Timur terutama, pandangan bahwa orang menjadi difabel karena ada kesalahan masa lalu yang dilakukan baik oleh diri sendiri maupun orang tua adalah cara pandang yang masih dipercaya.

Cara pandang kedua adalah cara pandang medikal dimana difabel hanya dilihat dari kondisi fisik pada tubuhnya. Sudut pandang ini yang membidani berjamurnya tempat rehabilitasi dan sekolah-sekolah luar biasa.

Cara pandang ketiga adalah cara pandang sosial dimana kedifabelan itu dipengaruhi oleh kondisi sosial yang membatasi dan mengeliminasi akses difabel dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Cara pandang ini dirasa paling punya peluang besar dalam meningkatkan kualitas kehidupan difabel meski sempat mendapatkan banyak kritikan dari banyak pakar karena benar-benar menghilangkan sisi medis sebagai bagian internal dalam difabilitas. 

Beberapa paragraf pengantar di atas menjadi penting karena cara pandang yang dipakai akan mempengaruhi reaksi yang diambil dalam berkehidupan bersama difabel. Sebuah contoh bagus datang dari Turki beberapa waktu lalu, ketika ada sebuah panti di negara tersebut yang membuat difabel pengguna kursi roda bisa ikut bermain air tanpa perlu turun dari kursi rodanya.

Pengelola pantai tersebut membuat sebuah jalur ramp sampai beberapa meter ke arah laut. Desain yang dibuat juga masih menggunakan prinsip keamanan dengan adanya besi pembatas yang mengeliling ramp tersebut sehingga bisa digunakan sebagai tempat pegangan. Dari foto yang ada, bisa dilihat bahwa para difabel pengguna kursi roda akhirnya punya kesempatan untuk merasakan sendiri berenang dan bermain air di pantai secara mandiri dan tanpa memerlukan bantuan orang lain.

Contoh dari Turki membuktikan bahwa para pengelola pantai sudah menggunakan cara pandang sosial dimana hambatan bagi difabel itu datangnya dari lingkungan sosial berupa sarana kehidupan yang tidak bisa diakses dengan mudah. Pembuatan ramp di pantai ini semakin meyakinkan bahwa jika ada fasilitas yang bisa diakses secara terbuka oleh difabel, maka anggapan selama ini bahwa difabel harus membutuhkan bantuan jika harus ke pantai akan terbantahkan.

Hal yang berbeda mungkin akan terjadi jika cara pandang pengelola pantai tersebut masih menggunakan cara pandang medikal atau bahkan magis. Jika menggunakan cara pandang medikal, pengelola pantai tentunya akan melihat bahwa difabel adalah orang yang sedang sakit dan tidak ada keharusan untuk menyediakan fasilitas untuk menikmati air laut. Penggunaan sudut pandang inilah yang kemudian penting untuk menentukan cara apa masyarakat dalam merespon apa yang difabel butuhkan untuk bisa hidup secara inklusi di masyarakat.

Di Indonesia, harus diakui bahwa pandangan medikal masih sangat menjamur hampir di setiap lini masyarakat. Penggunaan cara pandang ini sejak era terdahulu memang menjadi faktor betapa cara pandang ini menjadi kekal sekali digunakan oleh semua pihak terutama pihak pemerintahan. Dalam masyarakat umum, bahkan pada lini religiusitas, cara pandang medikal pun masih menggurita. Contoh yang pas adalah perkara aksesibilitas tempat ibadah dimana ada pandangan umum bahwa difabel, terutama yang menggunakan kursi roda, diberi kelonggaran untuk tidak wajib pergi ke tempat ibadah karena dianggap sakit, sama dengan kelonggaran pada orang non difabel yang sedang sakit. Padahal, titik poinnya berada pada fasilitas yang akhirnya membuat difabel terhambat dalam mengakses tempat ibadah. Jika menggunakan cara pandang sosial, yang diperbaiki adalah fasilitasnya, bukan pada pemberian kelonggaran untuk tidak perlu datang ke tempat ibadah.

Maka dari itu, pengalaman dari Turki perlu dipelajari dan diadaptasi untuk menghadirkan lingkungan inklusi bagi difabel di Indonesia, dimana difabel akan bisa berkehidupan secara mandiri tanpa perlu selalu diidentikkan membutuhkan bantuan. [Yuhda]

The subscriber's email address.