Lompat ke isi utama
reza seedang mengajarkan catur kepada Rian

Perjuangan Reza dan Gambaran Akses Pendidikan Difabel di Pulau Bangka

Solider.id Bangka – Seolah tak berkesudahan, ketidakpercayaan dunia Pendidikan terhadap difabel masih saja terdengar. Di Pulau Bangka, difabel nampaknya masih terhalang tembok besar ketika akan mengakses Pendidikan, khususnya Pendidikan tinggi. Mereka masih saja memiliki banyak hambatan untuk mengakses pendidikan tinggi.  Alasan bertubi-tubi diberikan pada difabel yang coba kejar mimpi lewat bangku sekolah. Dampaknya,  Mereka memilih  merantau untuk mengejar cita-cita  agar dapat mengakses pendidikan tinggi. Bagi mereka yang tak punya biaya untuk merantau, akhirnya angkat tangan dan menyerah pada keadaan.

Namun, keberanian menembus tertutupnya pintu Pendidikan tinggi di Bangka justru ditunjukkan oleh seorang remaja difabel netra yang kemudian mengantarnya menjadi satu-satunya difabel netra yang berkuliah di pulau yang khas dengan tudung saji itu.

Reza Agustian, ialah remaja difabel netra yang nyatanya mampu menaiki anak tangga menuju tempat mimpinya berada. Meski tertatih, remaja asli Bangka Belitung ini tak pernah sedikit pun mandeg dan melepaskan mimpinya pergi. Berbagai penolakan di dunia Pendidikan sama sekali tak membuat Reza mengurungkan niatnya untuk mengakses Pendidikan. Anak pertama dari dua bersaudara tersebut justru bertahan di tanah kelahirannya dan berupaya beri bukti bahwa akan ada jalan untuknya mengakses Pendidikan tinggi.

Episode Baru Hidup Sebagai Difabel Netra

 Hidup sebagai seorang anak dengan kondisi difabel netra baru membuat dirinya terguncang. Reza memang bukan seorang difabel sejak lahir, ia terkena penyakit tumor dan menjadi difabel netra. Namun, beruntung Reza memiliki keluarga yang terus memberikan semangat. Sanak keluarga remaja yang hobi bermain rubik ini tak henti-hentinya memberikan informasi yang dapat membantu proses penerimaan diri. Salah satu informasi yang diberikan adalah kembali melanjutkan sekolah bukan di sekolahnya dahulu, namun di Sekolah Luar Biasa (SLB).  Reza pun langsung mengangguk tegas tanpa ada keraguan karena baginya kesuksesan harus terus ia upayakan meski dengan kemampuan berbeda.

Reza dan keluarganya  memilih SLB sebagai tempat menimba ilmu pasca ia menjadi difabel netra. Sekolah regular memang sengaja tidak mereka pilih karena pada masa itu cukup sulit mencari SD inklusi di Pulau Bangka. Dari pada waktu terbuang, lebih baik lanjutkan Pendidikan di tempat yang sudah nyata-nyata mau menerima dan memberikan ilmu kepada Reza.

SLB Negeri 31 Pangkalpinang, di SLB Pembina itulah Reza mulai mengembangkan potensi diri yang ia miliki. Dalam menjalani hari-harinya, Reza merasa bahwa kenyamanan justru ia peroleh di SLB. Sebab guru-guru di SLB lebih membaur dengan para siswa. Selain itu, Reza dapat dengan mudah dan percaya diri bertanya kepada guru jika ia kurang memahami sebuah materi. Baginya, perhatian guru-guru di SLB sangatlah nyata ia rasa.

 Pada tahun 2011, Reza mulai mengenal teknologi. Ia mulai mengenal komputer bicara dan telepon genggam dengan aksesibilitas pembaca layar. Ia mengenal komputer dan telepon genggam dari pak Petra, seorang guru baru yang berasal dari Yogyakarta.

Seiring angin berdesir, sejurus semangat yang terus berhembus dan mimpi yang tak pernah padam, Reza pun terus mengasah kemampuan Komputer Bicara yang ditularkan oleh Pak Petra yang ternyata tak bertahan lama mengajar di SLB tempat Reza menuntut ilmu. Alhasil Reza harus meningkatkan kemampuan komputernya secara mandiri. Melalui laptop yang dibelikan orang tanya, Reza mulai mencari banyak informasi yang bisa menunjang kompetensi dirinya.

Tiga tahun telah berlalu, dan Reza pun duduk di bangku SMA. Lagi-lagi ia memilih SLB yang sama sebagai tempat melanjutkan Pendidikan. Pilihan tersebut ia ambil karena Reza dan keluarganya merasa kesulitan mencari sekolah inklusi di masa itu, lebih-lebih ketika ia dapati adik sepupunya ‘Terusir’ dari sekolah regular karena ia dianggap sebagai siswa yang hiperaktif. Wajah Pendidikan di masa itu semakin memperjelas bahwa difabel memang belum bisa diterima sepenuhnya di sekolah regular di Pulau Bangka.

Menyoal tentang program integrasi siswa difabel di sekolah regular, pihak SLB Negeri Pangkalpinang sebetulnya mengarahkan Reza untuk melanjutkan SMA di sekolah regular, namun sayangnya pintu itu belum terbuka untuk Reza.  

Perjuangan di Bangku Kuliah

Masa-masa SMA pun telah berlalu namun perjuangannya menaiki anak tangga menuju mimpi tidaklah usai disitu. Ia terus berusaha merealisasikan mimpinya menjadi seorang guru. Ia berusaha mencari Universitas di Bangka yang bisa menerima difabel seperti dirinya. Dan hasilnya, nihil. Ia tertolak mendaftar di perguruan tinggi di tanah kelahirannya itu. Pihak universitas yang ia datangi berkilah bahwa jurusan yang Reza pilih tidaklah aksesibel.

“Katanya PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) itu sulit buatku karena praktiknya harus langsung terjun di sekolah…” kata Reza mengisahkan.

Meski keadaan seolah memadamkan obor mimpinya, namun Reza terus mencoba cara lain. Ia meminta tolong siapa saja yang dapat membantunya mengakses universitas tersebut. Mulai dari saudara hingga kepala sekolah SLB telah ia mintai pertolongan. Namun, nasib baik belum berpihak pada Reza; ia tetap tak mampu menembus universitas yang ia dambakan.

“Meskipun sudah ajak pihak sekolah, tapi tetap saja aku ditolak padahal kepala sekolah sudah memberikan alternatif jika nanti aku menemui kesulitan pas praktik mengajar…” kata remaja yang aktif bersosial media itu.

Lalu, menyerahkah Reza di titik itu? Tentu tidak. Semakin kuat penolakan ia rasakan, semakin kuat pula rasa juang menembus tembok perguruan tinggi di Bangka yang masih tebal untuk difabel. Namun, upaya memang tak selamanya manis dirasa. Reza harus legowo menelan fakta bahwa pintu universitas masih belum ada yang terbuka untuknya.

Dengan mimpi yang belum padam, ia pun berusaha mengisi kekosongan hari-harinya untuk membantu sesama sambil menanti tahun ajaran baru tiba.

Untuk mengisi waktu dan menunggu hingga tahun ajaran baru tiba, Reza membagi ilmu komputer dan catur kepada Ryan, salah satu siswa SLB di tempat ia belajar dahulu. Reza sadar betul bahwa adaptif teknologi masihlah langka bagi difabel netra di Pulau Bangka,  ia merasa bahwa keberuntungan yang ia dapat dari Pak Petra perlu pula ditularkan kepada difabel netra yang lain. Jika Reza tidak berbuat, maka dari mana Ryan dan difabel netra lainnya akan mengenal Komputer Bicara?

Setahun telah berlalu Bersama sederet ilmu yang telah Reza ajarkan pada Ryan. Dan kini saatnya Reza memulai kembali perjuangannya memburu universitas. Namun, lagi-lagi perjuangan Reza harus mentok dan ia hanya mampu melanjutkan Pendidikan tinggi di sebuah Universitas Terbuka. Rasa kecewa tentu sempat muncul karena ia ingin seperti remaja-remaja lain yang bisa mencium aroma ruang kelas dan bersendau gurau dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Selain itu, kekecewaan Reza semakin berlipat-lipat ketika pihak universitas menyatakan bahwa Reza tidak bisa mendaftar di jurusan PGSD dengan alasan yang sama yaitu difabel netra dianggap akan mengalami kesulitan ketika praktik mengajar di sekolah reguler. Reza pun dibuat bimbang oleh kenyataan baru di perjuangannya kali itu.

Dengan kemantapan penuh, akhirnya Reza pun memutuskan untuk memilih jurusan lain yaitu Komunikasi sebagai pilihan pengganti PGSD. Keputusan itu ia ambil karena ia tak mau lagi membuang waktunya untuk menanti terbukanya perguruan tinggi dan jurusan yang ia inginkan. Selain itu, ia juga merasa bahwa dimana pun seseorang berkuliah, jika ia dapat menunjukkan sikap positif, maka tak mustahil keberhasilan akan mampu dicapai.

“Aku bersyukur karena masih bisa melanjutkan kuliah di Bangka. Difabel netra lainnya belum tentu seberuntung aku bahkan teman-teman sewaktu SD dulu malah ada yang putus sekolah…” ungkap remaja yang sempat tinggal selama setahun di Jakarta selama pengobatan tumor otaknya itu.

Kini Reza tengah merangkai mimpinya di bangku kuliah. Meski perkuliahan di Universitas Terbuka ia jalani secara online, ia tetap menunjukkan tanggungjawab penuh pada jurusan yang ia ambil. Ia sadar betul bahwa mengikuti perkuliahan dengan model demikian belumlah ideal bagi perjuangan difabel dalam menciptakan Pendidikan Tinggi yang inklusi di Pulau Bangka. Oleh karena itu, ia berharap di kemudian hari akan lebih terbuka kesempatan difabel yang mengakses Pendidikan Tinggi tanpa ada pengecualian di Kepulauan Bangka Belitung tersebut. Ia berharap difabel netra di Pulau Bangka akan terus bersemangat dan gigih meraih mimpinya dan tak mau menyerah pada keadaan yang kerap dianggap lemah.

Kegigihan Reza melanjutkan Pendidikan itu memang menjadi pemandangan langka di Pulau Bangka. Tak banyak difabel netra yang seliweran di bangku sekolah di pulau penghasil perak itu. Namun Reza justru coba tunjukkan gambaran lain bahwa difabel di daerah pun bisa berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan orang lain, bahwa meningkatkan kompetensi itu tak hanya berlaku pada para difabel di kota besar.

“Aku ikut termotivasi dengan kegigihan Bung Reza. Dan aku juga ingin bisa melanjutkan Pendidikan sampai bangku kuliah,” ucap Ryan, difabel netra yang banyak belajar computer dan catur dari Reza tersebut.

Sudah saatnya wajah Pendidikan di negeri ini lebih ramah kepada difabel sehingga tak hanya Reza Agustian yang tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa difabel netra di Pulau Bangka,  namun difabel lainnya pun bisa. Pendidikan adalah tongkat penuntun anak bangsa menjejaki masa depan. Tanpa Pendidikan yang layak, esok hari akan gelap bagi mereka, para difabel yang masih dilingkupi oleh diskriminasi disana-sini. (Eka Pratiwi Taufanti)

 

The subscriber's email address.