Lompat ke isi utama
oto Sofyan penyiar radio difabel netra

Siaran Radio, Difabel Netra juga Bisa

Solider.id – Semarang Radio merupakan salah satu media hiburan yang masih sangat diminati masyarakat Indonesia hingga kini. Meskipun popularitasnya tidak sehebat tempo dulu, siaran radio masih terdengar di berbagai tempat seperti kantor, pusat perbelanjaan, restoran, angkutan umum, dan di rumah-rumah warga. Radio juga termasuk media hiburan yang praktis, hemat, dan informatif. Orang tetap bisa menjalankan berbagai aktivitas sembari mendengarkan info-info teraktual dan musik sesuai selera. Daya Tarik radio tidak hanya pada konten berita dan musiknya, tetapi juga terdapat pada kualitas penyiarnya. Profesi penyiar radio seakan suatu pekerjaan yang mudah. Dengan bermodalkan suara bagus, maka luluslah ia menjadi announcer. Tetapi kenyataannya tidak. Banyak hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi seorang penyiar radio profesional. Penguasaan Teknik berbicara yang tertata, kemampuan komputerisasi, pengoperasian mixer,  serta berwawasan luas menjadi penentu kualitas seorang penyiar radio pula. Hal ini pun menjadi tantangan bagi Sofyan, penyiar radio komunitas difabel netra yang memiliki hambatan penglihatan ini.

Sofyan Alfirdaus, begitulah Namanya dikenal di udara. Selain diberi mandat mengajar Al-qur’an braille di Sahabat Mata, Ian juga merupakan penyiar radio senior di tempat rehabilitasi bagi difabel netra yang ada di Jatisari, Semarang ini. Laki-laki yang bernama lengkap Sofyan ini bercerita kalau dia belajar broadcasting di salah satu radio komersil yang ada di Kota Semarang. Walaupun pengajarnya kala itu mengaku kebingungan, kini Sofyan masuk dalam jajaran penyiar senior di Radio Sama FM.

“Saya ikut training tentang broadcasting di radio milik kampus Unisula Semarang. Setelah 3 bulan, saya diikutkan menjadi penyiar di radio itu dan diberi kesempatan siaran 1 hari tiap minggunya dari tahun 2008 hingga 2012,” ujar mahasiswa semester 6 di UIN Walisongo Semarang ini.

Menurutnya, ilmu komunikasi yang bagus, keahlian dalam mixing, dan penguasaan komputer adalah modal awal untuk menjadi penyiar radio. Ian menjelaskan bagaimana perbedaan ketika ia siaran di radio komersil dan radio komunitas sekarang tempatnya bekerja.

“Kalau tunanetra siaran itu memakai sound cut untuk memisahkan antara suara JAWS (pembaca layar pada komputer) dengan suara lainnya. Dengan begitu, suara JAWS tidak akan terdengar saat on air. Lalu, aplikasi yang mendukung untuk siaran yaitu Zahra Radio dan RadioBoss,” katanya menjelaskan.

Tidak seperti di radio sebelumnya, Sofyan siaran di Radio Sama FM secara mandiri. Sehingga semua peralatan harus dibuat seaksesibel mungkin dengan pengguna difabel netra. Software yang dipakai pun dipilih yang bisa terdukung dengan pembaca layar. Diaantara dua software tersebut, bisa dipilih satu saja, Zahra Radio atau RadioBoss. Dengan software tersebut, sangat memungkinkan difabel netra untuk memiliki kualitas siaran setara dengan penyiar nondifabel.

Laki-laki yang tidak mengalami difabel sejak lahir ini juga mengatakan bahwa difabel netra yang ingin menjadi penyiar radio harus memiliki ingatan yang kuat. Sebagai contoh, ketika mengoperasikan mixer harus hafal channel mana yang dibutuhkan. Ada beberapa channel yang ada di mixer seperti volume mic, mengatur volume music, dan menghubungkan telepon ke mixer. Ada sedikit perbedaan untuk cara interaksi antara penyiar dan pendengar di Sama dan radio lain. Di Sama FM, handphone yang digunakan untuk berinteraksi dengan pendengar tidak terkoneksi dengan mixer. Oleh karena itu, Ian harus menghafalkan terlebih dahulu isi pesannya lalu kemudian menyampaikan apa isinya secara on air. Demikian pula dengan interaksi via telepon. Apabila radio besar menggunakan telepon hybrid yang harus dikoneksikan dengan mixer, maka di Sama FM hanya seperti memakai handphone biasanya.

Sofyan Belajar berkomunikasi atau public speaking tidak dari Lembaga formal, melainkan melalui pengalamannya mendengarkan gaya-gaya orang berbicara. Misalnya, ia sangat mengidolakan Indy Barends karena gayanya menyampaikan pesan dan orangnya humoris, sedangkan ia suka gaya Najwa Sihab karena referensinya banyak. Dia tidak 100% meniru gaya sang idola, namun menjadikan kedua role model itu sebagai acuan.

Penyiar radio yang bersuara unik ini menyampaikan beberapa tips penting bagi difabel netra yang ingin menjadi penyiar radio adalah; ada keinginan mencoba, baca buku agar berwawasan luas, update berita, dan harus bisa menyampaikan pesan secara jelas. Ian berkeinginan untuk dapat terus berkarir di dunia broadcasting. Ia berharap suatu hari bisa bergabung dan mengudara di radio-radio besar. Menurutnya, jika sekarang belum ada kesempatan difabel netra untuk siaran di radio komersil itu mungkin dikarenakan pemilik radio tersebut belum mengetahui kemampuan difabel netra dalam siaran secara mandiri. Harapannya, kelak mereka bersedia mengadakan pelatihan dan bisa memberikan ruang bagi difabel netra yang berprofesi sepertinya untuk menunjukkan kemampuannya.

Kegiatan Sofyan ketika sedang siaran radio juga pernah diliput Trans TV pada program Survivor yang juga bisa dilihat di YouTube. Ian menyatakan semoga  tayangan tersebut bisa menjadi ajang sosialisasi keterampilan yang dimiliki difabel netra.

Apa yang disampaikan oleh Sofyan tersebut juga diamini oleh Yusuf Manggala Aditya Tama, seorang penyiar di Radio Gajahmada FM Semarang. Ia menambahkan penjelasan dari Sofyan, beginya seorang penyiar radio juga harus bisa menjadi teman curhat, menemani pendengar dalam kondisi apapun, mengubah mood orang menjadi bahagia. Alumni dari kompetisi Announcer Teens hunt 2012 yang diselenggarakan salah satu stasiun radio di Kota Solo ini menjelaskan bahwa dunia radio tidak hanya berbicara, tetapi juga mempunyai sense of music, sense of heart sehingga mampu memilih kata yang enak didengerkan. Laki-laki yang popular dengan nama udara Tama Yellow ini juga menceritakan pengalamannya selama 4 tahun menjadi penyiar radio. Selama memandu program radio anak muda yang bertugas mewawancarai artis,  ia mendapatkan tantangan untuk belajar bagaimana menjamu orang dengan baik. Penyiar radio yang juga handal dalam hal menyanyi ini mengatakan bahwa penyiar radio harus mengerti hospitality atau ramah tamah kepada tamu.

“Tidak semua tamu yang datang dalam kondisi mood yang bagus. Di situ lah tantangan seorang penyiar untuk dapat mencairkan suasana,” paparnya.

Di samping itu, penyiar juga dituntut untuk mengerti strategi lobbying agar program siaran berjalan lancar.

Menurutnya, siaran radio bisa juga dilakukan oleh difabel netra. Asalkan ada  kemampuan, kemauan dan usaha yang gigih, keinginan untuk menjadi penyiar radio bisa terwujud termasuk juga difabel netra.

Jika dicermati, hanya ada sedikit perbedaan teknis siaran radio antara difabel netra dan penyiar non-netra. Kemampuan siaran radio adalah murni tentang keterampilan. Orang dengan hambatan penglihatan pun tidak mustahil untuk mengoperasikan segala peralatan siaran radio secara mandiri seperti Sofyan, penyiar Radio Sama FM. Kalau hobi bisa sekaligus bisa menjadi profesi yang menambah penghasilan, kenapa tidak?  (Agus Sri)

The subscriber's email address.